Lulusan PT Dituntut Adaptif di Era Revolusi Industri 4.0

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

257

JEMBER — Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bakal menghapus banyak pekerjaan. Menyikapi hal tersebut, perguruan tinggi harus mampu menyiapkan lulusan yang inovatif dan kreatif.

“Kemajuan dunia TIK mengubah banyak hal di dunia, pekerjaan yang bersifat rutin akan digantikan oleh kecanggihan teknologi internet of thing dan artificial intelligence. Akan banyak yang hilang, namun sebaliknya akan banyak pula peluang pekerjaan baru yang muncul,” tutur Dr. Ir. Nunung Nuryartono, MSi., Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) Institut Pertanian Bogor (IPB) kepada wartawan, Senin (22/10/2018).

Pakar ekonomi pertanian ini menambahkan, kemajuan teknologi TIK juga merambah dunia perguruan tinggi hingga mengakibatkan perubahan luar biasa di semua disiplin ilmu.

“Oleh karena itu perguruan tinggi pun wajib berubah antara lain dengan mulai merumuskan kembali kurikulum yang kompatibel dengan tuntutan zaman,” terangnya.

Dikatakan, yang lebih utama, perguruan tinggi dituntut untuk meluluskan mahasiswa yang memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan yang makin sering terjadi. Kemampuan tersebut antara lain meliputi menyelesaikan masalah yang makin kompleks, berpikir kritis, kreatif, mampu menjadi manajer yang baik, serta memiliki kemampuan koordinasi yang baik.

“Juga diharapkan punya emotional intelligence yang baik, kemampuan menilai dan memutuskan dengan tepat, berorientasi pelayanan, jago bernegosiasi dan daya kognitif yang fleksibel,” jelas dekan yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) ini.

Nunung Nuryartono berharap, jika kemampuan adaptif tersebut dikuasai oleh lulusan perguruan tinggi, maka prediksi yang dilakukan oleh para pakar ekonomi yang meramalkan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia nomor empat bakal terwujud di 2050.

“Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia, antara lain besarnya jumlah penduduk usia produktif. Perlu kebijakan yang tepat agar ini benar-benar menjadi bonus demografi bagi Indonesia,” ujar peraih gelar doktor dari Jerman ini.

Sementara itu, Prof. Rudi Wibowo, Direktur Pascasarjana Universitas Jember menyebutkan, kuliah umum bertema Revolusi Industri 4.0. digelar dalam rangka memberikan literasi kepada mahasiswa khususnya jenjang Pascasarjana.

“Ada tiga literasi yang dibutuhkan di era Revolusi Industri 4.0. yakni data, teknologi, dan humaniora. Dengan adanya kegiatan ini kami berharap banyak memberikan pencerahan di bidang literasi humaniora bagi mahasiswa Pascasarjana Universitas Jember,” pungkas Prof. Rudi Wibowo.

Baca Juga
Lihat juga...