Mahasiswa Bangga jadi Volunteer di Ajang IMF-WB 2018

Editor: Koko Triarko

156
Rangga Gilang Ramadhan, salah seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua, Bali, yang menjadi volunteer pada kegiatan rapat tahunan Bank Dunia IMF-WB 2018. -Foto: Sultan Anshori.
BADUNG – Diliburkannya aktivitas belajar mengajar di lingkungan Kuta Selatan, Badung, Bali, selama Annual Meetings IMF-WB 2018, berdampak positif bagi para mahasiswa. Pasalnya, selama libur, kampus mereka dilibatkan langsung dalam kegiatan IMF-WB dengan menjadi volunteer.
Seperti yang diungkapkan oleh Rangga Gilang Ramadhan, salah seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Nusa Dua, Bali, yang menjadi volunteer di kegiatan rapat tahunan bank dunia tersebut.
Ia mengaku bangga bisa bergabung dalam tim volunteer untuk mendukung kegiatan IMF-WB. Selain merupakan kesempatan untuk menambah wawasan dan pengalaman.
“Ya, ini kan iven sangat langka akan digelar kembali di Indonesia. Dibutuhkan waktu selama puluhan tahun lagi untuk bisa menjadi tuan rumah IMF-WB, lagi. Makanya, saya merasa senang dan bangga, karena bisa terlibat langsung di acara ini,” ucap Rangga Gilang Ramadhan, saat ditemui di venue IMF-WB Kamis, (11/10/2018).
Pemuda yang akrab disapa Rangga ini, menambahkan, informasi untuk bisa menjadi tim volunteer di IMF-WB ini diperoleh langsung dari pihak kampus. Di sana dilakukan berbagai seleksi termasuk seleksi bahasa Inggris.
Mahasiswa jurusan manejemen pariwisata semester atas ini, juga menjelaskan terkait sistem dan jam kerjanya. Ada dua macam volunteer yang ditugaskan selama IMF-WB. Ada yang menjadi volunteer bahasa dan volunteer staf. Keduanya berbeda jam kerja. Volunteer biasa jam kerja selama enam jam, volunteer staff selama delapan jam kerja.
“Tugas utama volunteer ini hampir sama, yaitu memberikan informasi yang lengkap, baik kepada para delegasi dan tamu IMF-WB lainnya,” tegas Rangg.
Selama menjadi volunteer IMF-WB, ia mengaku sering mendapatkan komplain dari para delegasi. Mereka mengeluhkan terkait tata letak untuk transportasi untuk menuju ke beberapa venue acara IMF-WB.
“Secara prinsip, saya berharap ke depan harus diperbaiki lagi sistem transportasi kepada para tamu,” kata mahasiswa asal Jakarta, ini.
Rangga tak sendiri, selain dirinya, masih ada 77 mahasiswa lain yang berasal dari kampus yang sama yang menjadi volunteer. Sementara, jumlah volunteer keseluruhan mencapai sekitar 800 orang, berasal dari berbagai kampus di pulau Bali.
Mereka terbagi dalam berbagai tugas. Mulai dari tim untuk shuttle bus untuk para delegasi yang ingin memasuki venue IMF, LO Information untuk delegasi, penjaga Paviliun Indonesia dengan menjaga beberapa stand bekraf.
Sebut saja Ayuningtyas, mahasiswi Unud ini tugasnya menjadi tim untuk shuttle bus para delegasi. Bus ini disediakan oleh Kementerian Perhubungan, untuk memudahkan mobilitas di areal BTDC selama IMF/WB berlangsung.
“Saya dan rekan-rekan yang lain mengatur lalu-lintas bus untuk dari arah Lapangan Lagoon ke wilayah ITDC. Ya, sambil belajar. Juga informasinya kami juga dapat gaji. Terkait nominal kami tidak menjadi soal. Intinya, kami bangga bisa memberikan pelayanan kepada para delegasi IMF-WB,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...