Mahasiswa UB Ubah Kotoran Sapi Menjadi Listrik

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

236

MALANG — Digital Fuel Cell from Human Waste (DELETE ) lahir dari inovasi delapan mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) lintas disiplin ilmu dalam menjawab permasalahan ancaman krisis energi listrik.

Mereka adalah Naila El’ Arisie (Fakultas Teknik), Muhammad Khuzain (Fakultas Teknik), I Wayan Angga Jayadiyuda (Fakultas Teknik), Muhammad Syarifuddin (Fakultas Ilmu Komputer), Firdausi (Fakultas Pertanian), Rina Ervina (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), Tubagus Syailendra (Fakultas Ilmu Sosial dan Politik), Hendra Surawijaya (Fakultas Kedokteran Hewan), serta dosen pembimbing Eka Maulana, ST., MT., M.Eng.

Ketua tim, Naila menjelaskan, DELETE adalah alat Microbial Fuel Cell berbentuk chamber yang terbuat dari akrilik serta terdiri dari ruang katoda dan anoda berfungsi untuk mengubah kotoran menjadi listrik.

“Sebenarnya ide awal kami adalah menggunakan kotoran manusia. Tapi karena masyarakat masih banyak yang tabu dengan pemanfaatannya, akhirnya kami ganti dengan kotoran sapi sebagai percobaan,” jelasnya di Malang, Kamis (11/10/2018).

Menurutnya, penggunaan kotoran sapi karena sangat mudah didapatkan dari peternak maupun dari Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Selain itu juga mengandung bakteri e-coli yang berfungsi untuk mendegradasi substrat.

Kotoran sapi sendiri berfungsi sebagai substrat untuk membangkitkan listrik karena kandungan bakteri elektroaktifnya tersebut.

“Alat ini murni untuk mengubah energi kimia menjadi listrik karena di dalam prosesnya terjadi oksidasi dan pelepasan proton elektron yang kemudian akan disalurkan dari anoda ke katoda melalui bantuan Proton Exchange Membrane (PEM),” terangnya.

Dikatakan Naila, 1,5 liter kotoran sapi yang dibagi ke dalam tiga chamber mampu menghasilkan tegangan listrik sebesar 1 volt dari masing-masing chamber. Kalau di total, menghasilkan 3 volt dan dapat dinaikkan menjadi 22 volt dengan bantuan boost converter.

“Dari total tegangan 3 volt ini dapat menghidupkan lampu LED,” ucapnya.

Namun jika ingin diaplikasikan untuk peralatan rumah tangga, jumlah chamber harus di perbanyak, tandasnya.

Lebih lanjut Naila berharap, dari inovasi DELETE tersebut, dapat membantu ketersediaan energi listrik di Indonesia khususnya di tempat-tempat terpencil yang belum terjangkau.

“Semoga inovasi ini mendapatkan dukungan dari pemerintah sehingga dapat dikembangkan dan lebih bermanfaat bagi masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu disebutkan, berkat inovasi DELETE tersebut, pada kompetisi 10th International Exhibition of Inventions and 3rd World Innovation and International Invention Forum 2018, Naila bersama tim mampu memperoleh tiga penghargaan sekaligus, yaitu Silver Medal serta International Invention Award dari Malaysian Association of Research Scientists (MARS) dan Young Innovator Award dari Citizen Innovation Singapore.

Baca Juga
Lihat juga...