Manajer Tabur Puja Ini Intens Belajar dari Pengalaman

Editor: Satmoko Budi Santoso

182

PADANG – Margono Okta, pria kelahiran 1981 ini, resmi ditetapkan sebagai Manajer Tabur Padang, Sumatera Barat, sejak awal Oktober 2018 ini. Meno panggilan akrabnya, menggantikan Indra Putra, yang bisa dikatakan Manajer Tabur Puja pertama sejak hadirnya program Tabur Puja dari Yayasan Damandiri di Kota Padang.

Meno, bukanlah sosok pria yang baru di dunia yang berhadapan langsung dengan masyarakat melalui Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di Padang. Beliau sudah tergabung dengan Tabur Puja, ketika Tabur Puja masih berada di Koperasi Keluarga Besar (KKB) Taman Siswa, pada tahun 2015 lalu.

Di saat awal bergabung di Tabur Puja, Meno mendapat posisi pekerjaan sebagai bisnis support. Posisi ini untuk melakukan penagihan terhadap anggota yang melakukan tunggakan pinjaman Tabur Puja, karena ketika itu, ada terjadi tunggakan anggota.

Namun seiring waktu berjalan, persis di bulan September 2015, posisinya sebagai bisnis support digantikan oleh Wery, dan dirinya naik menjadi Asisten Kredit (AK). Ketika itu ada 20 Posdaya yang menjalankan perannya sebagai AK.

Dulu, ketika Tabur Puja hadir untuk memberikan pinjaman modal usaha bagi keluarga kurang mampu, memang sangat terasa bagaimana pertumbuhan ekonomi masyarakat di Padang. Tapi, memang tidak bisa dipungkiri ada persoalan yang dihadapi.

“Selama saya menjadi AK persoalan yang dihadapi tentang Tabur Puja itu beragam. Sebut saja, adanya pengurus Posdaya yang memanfaatkan pinjaman Tabur Puja melalui data dari anggota, pemindahan hasil pinjaman ke tangan lain, dan banyak persoalan lainnya.

Kini, dari pengalaman yang pernah saya jalani, dengan memiliki tanggungjawab sebagai Manajer Tabur Puja, persoalan semacam itu, akan coba saya atasi,” kata alumni manajemen di perguruan tinggi AKBP Padang, Senin (8/10/2018).

Terlepas dari persoalan tentang kondisi Posdaya, Meno mengaku, memang tidak bisa dibantah bahwa pertumbuhan ekonomi dengan hadirnya Tabur Puja sangat bagus. Dari memiliki usaha dagang di halaman sekolah, hingga berhasil mendirikan warung di rumah.

Tabur Puja dari dulu hingga sekarang, bisa dikatakan penyelamat kondisi ekonomi masyarakat, dari keadaan prasejahtera menjadi sejahtera. Untuk itu, agar hal yang dilakukan oleh Tabur Puja untuk masyarakat di Padang tepat sasaran, rencana ke depan, lebih jeli dalam memberi pinjaman modal usaha kepada masyarakat.

“Dari persoalan yang saya hadapi dulu itu, menjadi pelajaran bagi saya untuk memperbaiki sejumlah kekurangan untuk di waktu mendatang. Saya juga telah menerapkan sejumlah ketentuan untuk memimpin Tabur Puja di Padang,” jelasnya.

Meno menyatakan, untuk mengantisipasi persoalan adanya pengajuan pinjaman yang dananya apabila cair dipindahkan ke orang lain itu, dirinya menekankan kepada 6 orang AK yang bertugas di 38 Posdaya untuk benar-benar memastikan kalau masyarakat yang mengajukan pinjaman modal usaha itu adalah orang yang bersangkutan. Jika tidak, maka AK harus menunda pencairan.

Menurutnya, AK bisa bekerja untuk lebih total dan lebih jeli menentukan, apakah masyarakat yang mengajukan pinjaman itu layak atau tidak, maka persoalan tunggakan kredit bisa diatasi.

“Yang melakukan wawancara itu adalah AK, segala bentuk kondisi kehidupan masyarakat yang mengajukan pinjaman itu, AK yang lebih tahu. Jadi saya meminta betul supaya AK lebih tegas lagi menentukan, layak atau tidaknya masyarakat tersebut mendapat pinjaman modal usaha dari Tabur Puja,” ucapnya.

Meno menegaskan, jika bersama-sama dan serius untuk memajukan Unit Tabur Puja di Padang, maka tidak ada alasan untuk menaikkan gaji karyawan Tabur Puja. Namun, apabila kinerja buruk, maka konsekuensinya jelas, kesejahteraan yang diharapkan dengan berkarir tidak akan terwujud.

“Saya menerapkan ketegasan itu, bukan berarti saya arogan, tapi untuk kita bersama dalam mengembangkan Unit Tabur Puja di Padang. Jika Tabur Puja berkembang dengan baik, maka dampak positifnya tidak hanya untuk anggota, tapi untuk karyawan Tabur Puja,” tegasnya.

Baca Juga
Lihat juga...