Manfaatkan Pekarangan Rumah, Datangkan Penghasilan

Editor: Koko Triarko

163
Atin Indarto, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menunjukkan tanaman buah stobery dalam pot [Foto: Henk Widi]
LAMPUNG – Memiliki lahan sempit atau terbatas, tidak menghalangi Atin Indarto (45) dan Amik Sudarmi (41), warga Dusun Banyumas, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, untuk berkebun.
Memiliki lahan terbatas hanya sekitar ratusan meter persegi, bahkan tidak mengurungkan niatnya untuk berkebun strobery (strawberry), berbagai jenis bunga menawan, lalapan, sayuran, menggunakan media polybag.
Selain berkebun, Atin Indarto dan sang istri juga memanfaatkan lahan sempit miliknya untuk membuat kolam ikan air tawar.
Atin Indarto menyebut, awalnya melihat potensi pekarangan rumah yang memiliki aliran irigasi bersumber dari sungai Way Asahan. Sungai Way Asahan yang menginduk ke sungai Way Muloh dari Gunung Rajabasa tersebut, mengalir sepanjang waktu tepat di depan rumah. Potensi tersebut diakuinya dimaksimalkan dengan membuat kolam ikan permanen di depan rumah, yang sekaligus diintegrasikan dengan berbagai jenis tanaman sayur dan bunga.
Amik Sudarmi melakukan proses penyiraman tanaman buah strobery dan sayuran memanfaatkan kolam ikan dan saluran irigasi di depan rumah miliknya [Foto: Henk Widi]
“Saya memiliki pekerjaan utama sebagai penanam buah melon di wilayah Sukaraja, Kecamatan Palas. Namun di rumah saya yang lahannya terbatas, tetap bisa saya manfaatkan untuk budi daya ikan air tawar, buah dan sayuran,” terang Atin Indarto, saat ditemui Cendana News, Sabtu (6/10/2018).
Kolam ikan yang dibuat secara permanen, katanya, berukuran panjang sekitar 10 meter dan lebar 2 meter. Lokasi lahan yang sempit berbatasan langsung dengan akses jalan masuk perumahan, membuat ia membangun kolam permanen dari semen, dengan posisi berada di depan teras dan di samping ruang tamu.
Pasokan air untuk kolam yang mengalir lancar selama hampir 24 jam penuh membuat ia bisa menebar ikan lele dengan bibit sekali tebar 1000 ekor. Keberadaan dinding kolam dimanfaatkan sebagai lokasi menempatkan polybag berisi tanaman buah dan sayuran.
Pemanfaatan lahan tersebut, menurut Atin Indarto selain sebagai hobi sekaligus kecintaan akan dunia budi daya perikanan dan pertanian.
Pada kolam ikan terbuat dari semen, Atin Indarto menyebut, pada masa tebar benih ikan lele dengan masa pemeliharaan selama tiga bulan, berhasil memanen sekitar 1,5 kuintal ikan lele. Harga ikan lele di tingkat pengepul sebesar Rp18.000 per kilogram, membuat ia bisa memperoleh hasil Rp2,7juta dari kolam budi daya pada lahan terbatas tersebut.
“Proses penebaran benih tahap berikutnya sedang dipersiapkan dengan penebaran dolomit, untuk menetralkan kadar asam pada kolam, sekaligus meminimalisir penyakit pada kolam,” beber Atin Indarto.
Potensi air bersih untuk budi daya ikan air tawar diakuinya membuat pertumbuhan ikan lele semakin cepat. Selain bisa dimanfaatkan untuk budi daya ikan air tawar, air pada kolam serta saluran irigasi kerap dimanfaatkan untuk penyiraman budi daya buah dan sayuran yang ditanam pada polybag.
Atin Indarto mengaku berprinsip lahan terbatas bukan kendala untuk bercocok tanam. Selagi ada kemauan sekaligus faktor pendukung berupa saluran irigasi.
Selain membudidayakan ikan air tawar jenis lele, budi daya buah yang dilakukan pada lahan terbatas dilakukan dengan menanam strobery (strawberry).
Awalnya, tanaman buah dengan ciri khas warna merah saat matang tersebut didatangkan dari wilayah Sidoluhur, Kecamatan Ketapang. Dua rumpun polybag berisi tanaman strobery dikembangkan dengan cara vegetatif, melalui anakan. Selanjutnya tanaman strobery yang dimiliki semakin berkembang dengan perbanyakan memakai polybag.
“Media tanam saya gunakan tanah yang sudah bercampur kompos dan pupuk jenis bio fosfat mengandung bio mikroorganisme,” terang Atin Indarto.
Penggunaan pupuk organik tersebut, membuat pertumbuhan tanaman stobery lebih pesat dan cepat menghasilkan buah. Sebanyak dua indukan tanaman stobery  bahkan kini mulai berkembang menjadi ratusan polybag, dan akan terus dikembangkan di pekarangan yang dimilikinya. Sebagian tanaman strobery yang telah berbuah, bahkan bisa menjadi konsumsi buah segar tanpa harus membeli.
Tanaman Storbery dengan menggunakan polybag disebut Atin Indarto sekaligus upaya dirinya melakukan penanaman buah  tersebut di dataran rendah. Pasalnya, buah strobery selama ini kerap hanya bisa dibudidayakan pada dataran tinggi atau pegunungan.
Kelembaban dan kebutuhan air yang terpenuhi dikombinasikan dengan penggunaan pupuk organik, menurut Atin Indarto, membuat buah strobery bisa dikembangkan.
Selain stobery, ia juga menanam tomat, cabai merah, kemangi, daun bawang, kangkung dan bayam menggunakan polybag dan kantong plastik bekas.
Amik Sudarmi, sang istri menyebut keinginan memanfaatkan lahan terbatas untuk menanam buah dan sayur dilakukan sebagai pengisi waktu luang. Ia menyebut, selama ini sebagai petani kerap disibukkan dengan budi daya tanaman buah melon yang dikembangkan di kebun yang berada di wilayah Sukaraja Kecamatan Palas.
Pemanfaatan lahan terbatas untuk budi daya buah dan sayuran tersebut diakuinya selain bisa sebagai penghias teras rumah termasuk penanaman sejumlah bunga sekaligus menghasilkan.
“Bagi ibu rumah tangga seperti saya, akan sangat praktis ketika memiliki tanaman sayuran segar yang bisa dipetik saat dibutuhkan di depan rumah,” beber Amik Sudarmi.
Berbagai jenis sayuran segar bahkan bisa diperoleh tanpa harus membeli dengan usia tanam yang tidak terlalu lama. Jenis tanaman sayur sawi, kangkung yang ditanam di polybag serta tanaman sayuran lain, bahkan bisa dipanen sebelum usia tiga bulan.
Proses perawatan buah stobery dan sayuran diakui Amik Sudarmi lebih mudah, karena polybag sebagai media tanam di4tempatkan pada satu lokasi. Sembari memberi makan ikan saat pagi dan sore, proses penyiraman tanaman buah dan sayur bisa dilakukan memanfaatkan air kolam serta air dari saluran irigasi.
Penanaman buah strobery, berbagai jenis sayuran diakui Amik Sudarmi sekaligus pengaplikasian upaya perbaikan gizi keluarga (UPGK) dan kawasan rumah pangan lestari (KRPL) dengan memanfaatkan pekarangan. Sebab, meski warga memiliki lahan terbatas, dengan keinginan untuk memanfaatkan sejumlah pengeluaran untuk konsumsi bisa dihemat.
Baca Juga
Lihat juga...