Martinus Miroto, Ajak Warga Peduli Lingkungan Lewat Pentas Seni

Editor: Makmun Hidayat

188
Penari sekaligus koreografer kenamaan Indonesia, Martinus Miroto - Foto: Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA — Upaya menjaga dan melestarikan kondisi lingkungan bisa dilakukan oleh siapa saja dan dengan cara apa saja. Tak terkecuali oleh seniman melalui pementasan karya-karya kesenian yang diprakarsainya.

Dan hal itulah yang dilakukan penari sekaligus koreografer kenamaan Indonesia Martinus Miroto. Seniman kelahiran Yogyakarta, 23 Februari 1959 ini membuktikan sedikit banyak mampu mengubah perilaku masyarakat untuk turut menjaga dan melestarikan lingkungan sungai d isekitarnya.

Melalui agenda kesenian tahunan Bedog Arts Festival yang diprakarsainya, koreografer Indonesia yang pertama kali menciptakan dan menyajikan tari tunggal dengan 5 topeng di berbagai festival internasional di 5 benua ini berupaya menjawab persoalan-persoalan lingkungan sekitar tempat tinggalnya.

“Saat pertama kali tinggal disini (studio Banjarmili Dusun Kradenan, Banyuraden, Gamping, Sleman) saya lihat banyak sekali warga yang mencari ikan dengan cara menyetrum dan memakai obat. Jelas itu merusak ekosistem sungai dan lingkungan. Tapi karena saya pendatang, saya tidak enak untuk menegur,” kenangnya.

Namun di balik sikap diamnya itu, Miroto berpikir bagaimana agar dapat menghentikan kegiatan itu. Yakni dengan mengajak warga di sekitar tempat tinggalnya agar memiliki kepedulian untuk menjaga dan melestarikan lingkungan khususnya Sungai Bedog yang melintasi dusun mereka.

“Tahun 2001 pementasan karya tari di pinggir sungai masih langka bahkan tidak ada. Tapi saya coba bikin. Dan ternyata banyak yang liat dan suka. Dari situ saya coba kembangkan jadi Bedog Arts Night dan akhirnya jadi Bedog Arts Festival tahun 2008,” ujarnya.

Didukung sejumlah tokoh dan seniman lain, Miroto lantas mencoba menyelipkan pesan-pesan di setiap pementasan yang dihelatnya, agar masyarakat senantiasa memiliki kepedulian untuk menjaga dan melestarikan kondisi lingkungan sekitarnya.

“Saya memohon kepada GKR Pembayun (GKR Mangkubumi putri pertama Sultan) agar memberikan himbauan pada warga untuk tidak nyetrum dan pakai obat di sungai. Di sela pementasan, saya juga adakan kegiatan tebar benih ikan juga,” ujarnya.

Ternyata upaya Miroto itu berhasil. Sejak saat itu tidak ada lagi warga yang melakukan kebiasaan mencari ikan di sungai dengan cara menyetrum dan memakai obat. Menurutnya hal itu dikarenakan yang meminta adalah Putri Raja Yogyakarta, sehingga rakyat mematuhinya.

“Bahkan warga sini yang dulunya menjadi komandan nyetrum itu, sekarang memiliki inisiatif untuk ikut menjaga kondisi sungai. Karena meski warga sekitar tidak lagi nyetrum, tapi masih ada warga lain dari luar dusun yang melakukannya,” katannya.

Selain berupaya menghentikan kebiasaan warga merusak ekosistem sungai, melalui kegiatan seni yang diprakarsainya, Miroto juga berupaya menyadarkan warga agar senantiasa tidak membuang sampai sembarangan di sungai. Namun untuk satu hal ini, ia mengakui masih belum mampu mengubahnya.

“Upaya untuk mengajak warga tidak membuang sampah di sungai sudah terus kita lakukan. Tapi kenyataannya susah sekali menghilangkan kebiasaan ini. Harus diakui sampai saat ini masih banyak warga yang buang sampah di sungai,” terangnya.

Menurut Miroto, untuk mengubah kebiasaan warga membuang sembarangan di sungai memang tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Peran dan komitmen serius dari pemerintah sangat diperlukan, untuk bisa mengatasi hal ini.

“Menurut saya memang tidak bisa hanya dibebankan pada warga. Harus ada kerjasama antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah tidak bisa hanya sekedar ngomong. Harus ada tindakan nyata misalnya menyediakan mobil pengangkut sampah agar warga tidak lagi buang ke sungai,” katanya.

Meski begitu, Miroto mengaku akan terus berupaya mengajak dan mengedukasi warga di sekitar tempat tinggalnya agar semakin peduli pada kondisi lingkungan khususnya sungai. Tak peduli apapun hasilnya, ia mengaku akan terus melakukan dengan caranya sendiri, yakni melalui pementasan-pementasan karya kesenian.

Baca Juga
Lihat juga...