Mbak Tutut Ajak Semua Elemen Bersatu dan Berkarya

Editor: Koko Triarko

508
BEKASI – Siti Hardiyanti Rukmana mengajak semua elemen untuk bersatu dan berkarya demi kejayaan bangsa dan negara, dan memohon, agar Allah SWT mempersatukan dalam kebaikan.
Ajakan tersebut disampaikan putri sulung Presiden kedua RI, HM Soeharto, itu saat menghadiri Gebyar Muharram 1440 Hijriyah Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) DKI Jakarta, di Pondok Pesantren khusus yatim As syafi’iyah, Sabtu (6/10/2018), bersama Putri Cendana lainnya, Siti Hediati Haryadi dan Siti Hutami Endang Adiningsih.
Menurut Siti Hardiyanti Rukmana, Gebyar Muharram memiliki makna penting, karena sejarah telah menulis bertepatan dengan 10 Muharram  adalah sejarah penting umat Islam.
Karena di bulan ini, Nabi besar Muhammad SAW, hijrah dari Mekah ke Madinah, sebuah tonggak sejarah dalam menyusun kalender Islam. Putri sulung HM Soeharto yang karib disapa Mbak Tutut, itu, pun menjelaskan makna hijrah tersebut, yakni dimulainya rekonstruksi sejarah baru kehidupan manusia, mulai dari pertanian, ekonomi, dan mempersatukan juga mendamaikan seluruh suku menuju peradaban baru di Kota Madinah.
Sehingga apa yang diperjuangkan Rosullullah, katanya, menjadi kekuatan symbol society sampai ke politik dengan menyusun pemerintahan yang kuat, adil dan berwibawa, dengan membawa kestabilan.
“Tahun Hijriyah ini menjadi tonggak untuk mempersatukan bangsa dan negara Indonesia. Kita boleh berbeda pandangan politik, tetapi dalam silaturahmi kita harus tetap bersatu.  Dan, itu menjadi salah satu perintah Allah SWT, karena siapa pun yang memutuskan tali silaturahmi itu akan merusak dirinya sendiri. Marilah kita terus menjaga tali silaturahmi,” ajak Mbak Tutut.
Ia juga mengatakan, secara maknawi, peristiwa Hijriyah Nabi besar Muhammad SAW, tidak hanya perpindahan fisik. Tetapi, adanya perubahan fundamental pada jiwa seorang manusia, menjadi jiwa yang bertakwa dan menghasilkan Ahlak mulia di segala bidang, meliputi  ekonomi,  sosial, pendidikan, dan budaya. Output-nya adalah produktivitas dalam segala hal, produktivitas yang dipertanggungjawabkan kepada Tuhan YME menjadi selaras dan harmoni.
“Mendiang orang tua kami, almarhum Soeharto, pernah sampaikan kepada saya, dan adik-adik, beliau berpesan waktu kita hidup itu, sangat terbatas. Karenanya, jangan disia-siakan, selagi kamu masih punya waktu, buatlah sesuatu yang bermanfaat yang dinilai Allah, baik. Tidak oleh manusia, tetapi kepada Allah”, kata Mbak Tutut, sembari menyambung, masih banyak petuah lainnya dari mendiang ayahdanya itu.
“Seperti, beliau juga pernah menyampaikan hakikat pembangunan adalah membangun manusia Indonesia yang utuh,  dan menurut beliau,  pembangunan kita (Indonesia –red), tidak hanya memperhatikan pembangunan jasmaninya saja. Tetapi, tuntutan rohani dan jiwanya, dan ini sudah dilaksanakan oleh Ibu Tuti Alawiyah, salah satu wanita yang berhasil membangun karakter wanita Indonesia dan mendirikan BKMT,” ucapnya bersimpati kepada Tuty Alawiyah, Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Orde Baru.
Ia juga memuji pelaksanaan Gebyar Muharram 1440 H oleh BKMT.  Mbak Tutut secara langsung menyampaikan apresiasi, karena mampu menghadirkan seluruh anggota BKMT seluruh Jabodetabek, dan membuat kegiatan ini terlaksana dengan baik.
Dia mengatakan, bahwa As-Syafi’iyah dibangun seorang wanita yang sangat luar biasa. “Berbanggalah putra putri almarhumah Ibu Tuty Alawiyah, yang luar biasa jasanya melalui tekat dan keinginan untuk mewujudkan bangsa ini menjadi bangsa yang baik, bisa berdiri sama tinggi dengan negara yang lain bersama kaum wanita, juga anak yatim piatu,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...