Media Diharap Angkat Isu Rokok dalam Frame Ekonomi Kesehatan

Editor: Makmun Hidayat

269

JAKARTA — Bulan Oktober selalu menjadi bulan dimana berita rokok menjadi topik utama pemberitaan di media daring maupun cetak, karena pada bulan inilah ada pengumuman cukai rokok oleh pemerintah.

Hal tersebut dinilai oleh Direktur Program Center For Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Anindita Sitepu, tidaklah cukup. Karena dampak negatif menghisap rokok yang menimbulkan korban tidak langsung, tidak dapat diperangi hanya dengan pemberitaan sesaat dari media.

Direktur CISDI, Anindita Sitepu – Foto: Ranny Supusepa

Anindita menyampaikan bahwa pemberitaan media masih sangat kurang dalam mengasosiasikan diskursus kenaikan tarif cukai sebagai bentuk upaya penurunan akses demi perlindungan kesehatan atau kepentingan umum.

“Ini terlihat dari jumlah pemberitaan dan konsepnya yang mengulang-ulang itu saja serta tidak kontinyu. Narsum yang itu-itu saja dan tidak ada jurnalis yang secara khusus mengikuti perkembangan dan memahami tentang seluk beluk rokok dan tembakau secara mendalam,” kata Anindita saat Diskusi ‘Polemik Cukai Rokok: Apa Peran Media’ di Jakarta, Selasa (9/10/2018).

Dari penelitian yang dilakukan CISDI dinyatakan Anindita membuktikan bahwa advokasi media kepada publik yang sifatnya memperingatkan kerugian konsumen dan pelaku bisnis akibat kenaikan tarif cukai cenderung lebih disukai dibandingkan isu rokok dalam frame ekonomi kesehatan.

Mengapa CISDI mendalami isu pengendalian tembakau dan cukai rokok? Anindita mengungkapkan alasannya adalah karena CISDI merupakan organisasi masyarakat yang bergerak di sistem penguatan kesehatan. Sehingga pengendalian rokok menjadi suatu yang tidak bisa lepas dari jangkauan CISDI.

“Kami ingin mengangkat tentang pengendalian tembakau ini karena memang rokok memiliki efek buruk pada kesehatan. Dan dalam penelitian kami, menunjukkan media sebagai wahana utama di masyarakat dalam mencari informasi yang paling populer saat ini, belum menunjukkan peran yang berarti dalam mengangkat isu tembakau ini,” bebernya.

Padahal, lanjut Anindita, media juga memiliki peran dalam mempengaruhi dalam hal penguatan kesehatan masyarakat dengan memberikan informasi yang tepat dan juga memberika feed back kepada CISDI tentang apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Harapannya, media dapat berperan bukan hanya memberitakan tapi juga dapat membangun opini dalam masyarakat, terutama pada kelompok yang terbiasa memantau berita setiap hari.

CISDI memberikan data cukai rokok Indonesia saat ini masih rendah dibandingkan negara-negara lainya, yaitu rata-rata hanya Rp21.700. “Harus dipahami bahwa pajak dan cukai itu berbeda. Cukai itu adalah kewajiban yang dibebankan pada barang-barang yang memang butuh dikendalikan. Masalah ini saja banyak yang tidak memahami,” ujar Anindita.

Peningkatan tarif cukai dan struktur cukai yang lebih sederhana dipercaya akan mampu mendukung Jaringan Kesehatan Nasional, berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun 2016. Dinyatakan bahwa kelompok non-perokok, 80 persen dan kelompok perokok, 70 persen mendukung kenaikan harga rokok.

Dan survei juga menyebutkan bahwa 72,3 persen perokok menyatakan akan berhenti merokok jika harga rokok diatas Rp50 ribu per bungkus.

Baca Juga
Lihat juga...