Memahami NDC dan Upaya Mempertahankan Suhu Udara Dunia

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

214

JAKARTA — Pertemuan Panel Antarpemerintah terkait perubahan iklim di Incheon, Korea yang berlangsung sejak Senin (1/10/2018) menunjukkan data yang mengejutkan.

Berdasarkan Kesepakatan Paris yang diratifikasi oleh 181 negara ditentukan bahwa pemberlakuan NDC (Nationally Determined Contribution) yang akan menahan laju kenaikan suhu global di bawah dua derajat celcius. Tapi setelah melakukan perhitungan dari NDC tiap negara anggota, didapatkan suhu global akan naik lebih dari 3 derajat celcius hingga akhir abad ini.

Sebenarnya apa NDC ini? Bagaimana hubungannya pada perubahan iklim dunia secara keseluruhan?

Kasubditpro Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Siswanto M.Sc menjelaskan, yang menjadi isu utama iklim di dunia saat ini adalah variabilitas dan perubahan iklim.

“Variabilitas iklim itu membahas tentang perubahan iklim yang mengalami siklus. Fenomena ini mengalami perulangan. Misalnya, jika musim kemarau di Indonesia yang mengalami pengulangan setiap 6 bulan. Atau El Nino yang mengalami pengulangan antara 2-8 tahun,” kata Siswanto kepada Cendana News, Rabu (3/10/2018).

Tapi jika kita membahas adanya iklim yang berbeda, Siswanto menjelaskan, artinya kita sudah memasuki pada isu yang kedua, yaitu perubahan iklim.

“Mengamati perubahan iklim itu tidak bisa hanya satu atau dua tahun saja. Tapi membutuhkan periode yang panjang sebagai data pembandingnya. Misalnya kita membandingkan suhu rata-rata Jakarta, yang meningkat sekitar satu derajat celcius dibandingkan suhu rata-rata Jakarta 50 tahun yang lalu,” ujar Siswanto.

Perubahan iklim ini terjadi secara merata di seluruh dunia, dengan menggunakan parameter pada dua hal, yaitu suhu udara dan hujan.

“Tercatat dari lebih dari 100 tahun data yang ada, secara global sejak tahun 1880, suhu udara naik 1,1 derajat celcius karena adanya laju konsentrasi karbondioksida yang meningkat. Penelitian saya sendiri yang diterbitkan pada Jurnal Iklim Internasional tahun 2015 menunjukkan data suhu rata-rata permukaan Jakarta sudah naik 1,6 derajat celcius,” papar Siswanto sambil menunjukkan diagram yang menunjukkan hasil penelitiannya.

Diagram pertambahan emisi karbon dunia. Foto: Ranny Supusepa

Bagaimana karbon maupun senyawa turunannya bisa menyebabkan pemanasan global? Siswanto menjelaskan, dalam atmosfer bumi ada suatu selimut gas yang melindungi bumi dari panasnya matahari. Dengan adanya karbon atau senyawa turunannya yang dilepaskan oleh kegiatan manusia, maka panas matahari yang awalnya memiliki gelombang pendek berubah menjadi gelombang panjang yang menyebabkan tidak bisa dapat melewati selimut gas. Akhirnya hal ini menyebabkan panas tersebut bertahan di permukaan bumi.

“Jadi inti dari pemanasan global itu adalah suatu panas di dalam bumi yang tidak dapat keluar, sehingga jadi menumpuk. Kalau kita ingin menghilangkan panas ini adalah dengan melakukan respirasi melalui tumbuhan. Dimana radiasi matahari dan karbondioksida dimanfaatkan dalam proses fotosintesis lalu akan mengeluarkan oksigen. Ketika dunia dipenuhi hutan, maka suhu panas ini bisa dinetralisir. Tapi kalau hutannya tidak ada, maka tidak akan ada yang bisa menetralisir,” urai Siswanto.

Tapi memang kenaikan suhu ini sifatnya irreversible, yaitu suhu yang sudah naik tidak dapat diturunkan. Sehingga yang coba diupayakan oleh Earth Summit Rio De Jeneiro, Protokol Kyoto dan Kesepakatan Paris adalah mempertahankan tingkat karbon dunia di bawah 450 ppm. Dalam artian, suhu udara akan stabil dan tidak mengalami kenaikan.

“Tapi kalau penggundulan hutan terus berlangsung dan penggunaan bahan bakar fosil terus berlanjut tanpa terkendali atau faktor lainnya, maka ini akan menyumbang penambahan emisi dan akan membuat suhu bergerak naik di atas 2 derajat celcius,” ucap Siswanto.

Untuk itulah, setiap negara diminta untuk mengajukan NDC yang akan dievaluasi pada 2018 ini dan mulai diaplikasikan pada 2020 hingga 2030.

“Indonesia sendiri memiliki target NDC, jika business-as-ussual, akan mengurangi 29 persen emisi karbon. Yaitu dengan melakukan beberapa kebijakan yang memastikan setiap tindakan ekonomi akan memperhatikan aspek lingkungan. Dan Indonesia juga menyatakan, jika ada bantuan dari internasional Green Fund, NDC-nya adalah 41 persen,” kata Siswanto.

Jadi, jika memang NDC yang diajukan oleh masing-masing negara masih menunjukkan hasil perhitungan peningkatan suhu di atas 2 derajat celcius, artinya dibutuhkan upaya dari masing-masing negara untuk mengubah kebijakan sehingga bisa menjaga suhu bumi tidak melewati batas yang disepakati dalam Kesepakatan Paris.

“Ini bisa dengan melakukan penghijauan atau mempercepat pergantian bahan bakar fosil ke energi yang lebih bersih. Tentu perubahan teknologi ramah lingkungan yang didorong oleh kebijakan lebih ketat dari pemerintah akan mampu mendorong NDC yang lebih rendah,” pungkas Siswanto.

Baca Juga
Lihat juga...