Membangun Atap Indonesia dari Kebumen, Berkarya dengan Sumpah Pemuda

OLEH AHMAD ZAKI NUR IHSAN

553

“Hasrat menuju kesuksesan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah hasrat untuk mempersiapkan kesuksesan.” (Bobby Knight)

TANPA rangkaian karya Sumpah para pemuda Indonesia pada 90 tahun lalu, tepatnya 28 Oktober 1928, di Jalan Kramat Raya 106, Kwitang, udara segar dan damainya tanah air nusantara yang kita nikmati saat ini, barangkali masih jauh dari merdeka.

Tak bisa disangkal, kesepakatan para pemuda pemudi dari berbagai penjuru nusantara yang berkumpul di tempat tersebut, telah menjadi embrio sekaligus pondasi dari pergerakan kelahiran Indonesia pada 1945.

Bagaimanapun, Sumpah Pemuda adalah “Karya Puisi Besar” yang terus menjadi pengikat sekaligus nyala semangat perjuangan di dada para pejuang kemerdekaan.

Ada tiga ranah yang menjadi elemen perspektif landasan pengikat sumpah para pemuda tersebut. Ranah pertama adalah Bertumpah Darah yang Satu dalam Tanah Indonesia.

Artinya, para pemuda tersebut bersepakat, siapa pun pemuda yang bersatu dalam Indonesia, bahkan mengaku sebagai bagian dari Indonesia, harus berani dan rela untuk menumpahkan darahnya demi kejayaan tanah Indonesia Raya.

Bisa dikatakan, ini adalah sumpah bersama atas nama penyatuan sebuah lokasi.

Ranah kedua dalam sumpah tersebut, yaitu penyatuan kesepakatan dalam satu bangsa. Sebagaimana disampaikan Ernest Renan, bangsa merupakan sekelompok manusia yang berada dalam suatu ikatan batin yang dipersatukan karena memiliki persamaan sejarah, serta cita-cita yang sama.

Artinya, mereka yang mengaku sebagai bagian dari pemuda Indonesia, sejak sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan, pada masa orde lama, pada masa orde baru, maupun pada masa orde reformasi, harus mau mengikatkan diri dalam sumpah setia Bangsa Indonesia.

Bisa dikatakan, sumpah atas sebuah bangsa ini adalah sumpah bersama atas nama penyatuan sebuah zaman (masa).

Ranah ketiga dalam Sumpah Pemuda adalah bahasa Indonesia. Artinya, bahasa Indonesia harus menjadi sumpah setia dalam percakapan sehari-hari para pemuda Indonesia sejak 1928 hingga kapan pun.

Bisa dikatakan, sumpah atas sebuah bahasa ini adalah sumpah bersama atas nama penyatuan sebuah keadaan dalam berbicara antara satu sama lain.

Berbagai konsekuensi atas sumpah tersebut, menjadi konsekuensi abadi kepada semua pemuda di semua ruang, semua zaman, dan semua keadaan. Sebagaimana perspektif yang digunakan sejak masa leluhur nusantara berupa perspektif Desa (lokasi), Kala (zaman), dan Patra (Keadaan).

Bisa jadi, perspektif desa-kala-patra ini yang dijadikan acuan oleh Muhammad Yamin dan kawan-kawan pemuda lainnya dalam menyusun Sumpah Pemuda yang merupakan “Karya Puisi Besar” pertama Bangsa Indonesia.

Bagaimanapun, kesamaan sikap terhadap penjajahan di bumi pertiwi menyatukan para pemuda dari berbagai daerah untuk berpartisipasi aktif mengusir penjajah. Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 menjadi puncak dari peran penting pemuda Indonesia agar Bung Karno dan Bung Hatta segera memploklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Upaya para pemuda tersebut berhasil, sehari setelah peristiwa Rengasdengklok, pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Lahirnya Republik Indonesia juga disertai perkembangan di dunia saat itu, sangat ditentukan oleh peran pemuda dalam merespon berakhirnya perang dunia ke II yang ditandai dengan menyerahnya Jepang di tangan sekutu.

Tentunya, hingga sekarang, berbagai perjalanan NKRI juga akan selalu dipengaruhi oleh kondisi global. Berbagai perubahan zaman, hingga kapan pun, karena peran pemuda. Pemuda dalam lintasan sejarah bangsa senantiasa menjadi tonggak perubahan dari masa ke masa.

Mencoba Berkarya dalam “Puisi Besar” Tanah Kebumen sebagai “Atap Nusantara”

Sebagai cucu dari almarhum Kyai Haji Abdullah Ihsan (pemimpin Pondok Pesantren Al-Ihsan Kebumen), mencoba berkarya dalam semangat Sumpah Pemuda, mencoba menafsir, serta mengimplementasikan semangat Sumpah Pemuda dari Kebumen.

Dengan tertatih, saya mencoba mendeklamasikan “Karya Puisi Besar” atas sebuah tempat subur yang sejak 1920, dijadikan oleh Pemerintah VOC Belanda sebagai sentra penghasil genteng di Tanah Jawa.

Saat itu, para peneliti tanah dari VOC membuat kesimpulan, bahwa tanah di Kebumen merupakan tanah terbaik untuk bahan genteng. Saat itu, dibentuklah Balai Keramik yang berkedudukan di Bandung.

Genteng-genteng tersebut untuk memenuhi pembangunan infrastruktur, termasuk untuk dijadikan atap pabrik gula. Sejak momentum itu, sebagian besar pemuda dan penduduk Kebumen, bisa berkarya melalui tanah-tumpah-darahnya, membangun atap nyaman dan sehat bagi tempat bernaung Bangsa Indonesia.

Pada masa orde baru yang dipimpin oleh Jenderal Besar Soeharto, tanah-tumpah-darah saya di Kebumen yang menghasilkan Genteng AB Sokka makin dikenal. Bahkan, ketika berada pada alam masa jayanya, yakni pada periode 1970-1980, pemerintah Presiden Soeharto merekomendasikan genteng Sokka untuk digunakan sebagai atap di semua gedung pemerintah.

Di masa Presiden Soeharto, pabrik genteng Sokka tidak hanya dapat dilihat sepanjang jalan antara di Kecamatan Pejagoan dan Sruweng. Saking terkenalnya genteng Sokka, banyak sekali bermunculan genteng merek “Sokka” dari daerah lainnya seperti di Yogyakarta dan Kabupaten Kudus.

Ketika Presiden Soeharto memimpin Bangsa Indonesia, kami di Kebumen dan sekitarnya, benar-benar bisa berkarya membangun bangsa melalui produksi Genteng.

Ketika banyak berkarya melalui produk genteng sejak 1920, pergerakan para tokoh pemuda di Kebumen bisa menjadi lebih swadaya dan berdikari. Kebumen menjadi daerah perekonomian yang tumbuh dengan bagus.

Akibatnya, berbagai tokoh pemuda dari Kebumen cukup banyak yang berperan dalam Sumpah Pemuda maupun mempersiapkan proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945.

Dari “tanah air” Kebumen, muncullah tokoh Pemuda pergerakan bernama Abikoesno Tjokrosoejoso, salah satu Bapak Pendiri Kemerdekaan Indonesia dan penandatangan konstitusi. Sebagai adik dari HOS Cokroaminoto, Abikusno juga merupakan anggota Panitia Sembilan yang merancang pembukaan UUD 1945 (dikenal sebagai Piagam Jakarta).

Setelah kematian saudaranya HOS Cokroaminoto pada 17 Desember 1934, Abikoesno mewarisi jabatan sebagai pemimpin Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Bersama dengan Mohammad Husni Thamrin, dan Amir Sjarifoeddin, Tjokrosoejoso membentuk Gabungan Politik Indonesia, sebuah front persatuan yang terdiri dari semua partai politik, kelompok, dan organisasi sosial yang menganjurkan kemerdekaan negara itu.

Setelah kemerdekaan, Abikusno menjabat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Presidensial pertama Soekarno dan juga menjadi penasihat Biro Pekerjaan Umum.

Selain Abikusno, dari Kebumen ini, muncullah pemuda patriot bernama Raden Adipati Arya Poerbonegoro Soemitro Kolopaking (Bupati Kabupaten Banjarnegara sejak 1927 sampai 1945) yang merupakan famili dari Novia Kolopaking.

Pada tahun 1945, Poerbonegoro terpilih menjadi seorang anggota BPUPKI. Ia adalah anak dari Raden Tumenggung Jayanegara II dengan pangkat “Adipati Arya” yang merupakan keturunan Kanjeng Raden Adipati Dipadiningrat.

Tokoh pemuda Kebumen yang cukup penting lainnya, yaitu Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia, sekaligus orang tua dari Begawan Ekonomi Indonesia Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, serta kakek dari Prabowo Subianto.

Margono merupakan cucu buyut dari Raden Tumenggung Banyakwide atau lebih dikenal dengan sebutan Panglima Banyakwide, pengikut setia dari Pangeran Diponegoro, dan anak dari asisten Wedana Banyumas.

Dalam perjalanan sejarah hidup Margono, sehari setelah pelantikan Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wapres, dibentuk Kabinet Presidensil dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Sebagai Ketua DPAS yang pertama, ditunjuklah R.M. Margono Djojohadikusomo. Sebagai Ketua DPAS, Margono mengusulkan supaya dibentuk sebuah Bank Sentral atau Bank Sirkulasi seperti yang dimaksud dalam UUD ’45.

Soekarno-Mohammad Hatta kemudian memberikan mandat kepada Margono untuk membuat dan mengerjakan persiapan pembentukan Bank Sentral (Bank Sirkulasi) Negara Indonesia pada tanggal 16 September 1945.

Akhirnya, Pada 15 Juli 1946, terbitlan Perppu nomor 2 tahun 1946 tentang pendirian Bank Negara Indonesia, dan penunjukan R.M. Margono Djojohadikusomo sebagai Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI). Dan tentunya, masih banyak tokoh besar lain yang muncul dari tanah Kebumen penghasil Genteng, tak bisa disebutkan satu persatu.

Wujud “Sumpah Pemuda” Para Pemuda Kebumen dalam Pembangunan Masa Kini

Di era globalisasi ini, kaum muda harus memiliki peran sentral dalam mengisi kemerdekaan. Tanggung jawab pemuda bukan sekedar mengenang sejarah kepemudaan yang heroik melalui festival kepemudaan setiap tahunnya. Bagi saya, pemuda bertanggung jawab untuk mempertahankan kondisi bangsa tetap baik atau lebih baik.

Dalam amatan saya pada 2018 ini, ada beberapa pemuda-pemudi Kebumen yang perlu kita torehkan dalam catatan prestasi buku harian kita. Mereka adalah suri taudalan sekaligus inspirator bagi para muda-mudi Kebumen pada khususnya, serta muda-mudi Indonesia pada umumnya.

Yang pertama, prestasi membanggakan datang dari pemuda Kebumen, bernama Mokhamad Khafid Fauzi (19), pemuda asal Desa Tanjungsari Kecamatan Buluspesantren yang ikut mengharumkan nama Indonesia dari ajang Asean Skill Competition (ASC) 2018.

Khafid Fauzi yang saat ini bekerja di PT Toyota Astra Motor (PT TAM) itu menyabet juara ketiga dan meraih perunggu untuk kategori Car Painting. Diapun mengibarkan bendera Merah Putih di Thailand bersama satu peserta lain Agung Prasetyo dari PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang meraih Medali of Excellence.

Pemuda Kebumen kedua yang cukup membanggakan, yaitu Mugiyono. Pemuda Kebumen bernama khas Jawa tersebut adalah teknisi yang menangani helm yang dipakai oleh Andrea Dovizioso, Pembalap asal Italia yang membela Ducati, Andrea Dovizioso berhasil memenangi seri perdana MotoGP 2018.

Siapa sangka, di balik kemenangan gemilang itu ada andil pria asal Kutowinangun, Kebumen, Jawa Tengah bernama Mugiyono ini. Sejak beberapa tahun silam, Mugiyono yang merupakan ayah dua anak tersebut memang bekerja di sebuah perusahaan produsen helm ternama dunia. Tidak heran jika ia punya banyak kesempatan untuk ikut andil dalam setting helm beberapa pembalap kenamaan dunia.

Yang ketiga, dalam momentum Sumpah Pemuda ini, saya perlu menyebut pemudi Kebumen bernama Ufakhun Janifah, mahasiswa semester 6 STIE Putra Bangsa Kebumen. Seorang pemudi yang menyulap mentimun jadi deodorant wangi.

Padahal, bagi sebagian orang, mentimun mungkin hanya sekedar lalapan pelengkap menu di meja makan. Dengan kerja keras dan kreativitas, mentimun diubah oleh Ufakhun menjadi deodorant alias penghilang bau badan. Tak hanya wangi, deodoran organik hasil inovasi Ufakhun Janifah ini pun dijamin sehat karena bebas bahan kimia.

Ide pembuatan deodoran karya Ufakhun berbahan mentimun ini berawal dari adanya penggunaan deodoran dan bahan kosmetik yang mengandung bahan kimia sehingga menyebabkan penyakit seperti iritasi kulit kanker prostat, alzeimer, tumor, sampai kanker payudara.

Ufakhun lantas memiliki ide untuk menciptakan deodorant organik yang bebas bahan kimia sehingga tak berbahaya bagi kesehatan. Dengan dana hibah Kemenristekdikti, Ufakhun lantas menggarap riset yang dia kerjakan bersama tiga rekanya yakni Fahriyani, Ira Kuntari, Rizqi Fadhani. Dan, buah kerja keras mereka berbuah manis. Dengan memanfaatkan limbah afkiran ketimun, empat mahasiswi itu berhasil membuat deodoran yang kemudian mereka namai “LADY JAVA” .

Pemudi Kebumen lainnya yang membawa semangat Sumpah Pemuda, yaitu Novi Wahyuningsih (27), gadis asal Desa Tepakyang RT 2 RW 3, Kecamatan Adimulyo kini menjadi salah satu Tenaga Ahli Kantor Staff Presiden (KSP).

Sebelumnya, beberapa waktu lalu, Novi Wahyuningsih sukses menciptakan aplikasi Callind sebagai penyaing WhatsApp. Anak sulung dari pasangan Darman (52) dan Rasmi (47) ini, menjadi tenaga profesional di bawah kepemimpinan Moeldoko terhitung mulai 1 Mei 2018. Novi diangkat sebagai Tenaga Ahli Muda Kedeputian IV bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi.

Merekalah para muda-mudi Kebumen yang telah meneruskan semangat Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Bagaimanapun, kondisi bangsa yang kita rasakan saat ini membawa dampak langsung bagi pemuda.

Kita perlu menetralisir potensi perpecahan karena perbedaan pandangan dan dukungan politik, beredarnya informasi hoax secara masif, krisis identitas, darurat narkoba, pergaulan bebas yang membahayakan sendi-sendi moral bangsa, pengangguran, serbuan tenaga kerja asing, ancaman radikalisme yang bermuara pada aktivitas terorisme, kondisi geopolitik, krisis keuangan dan ekonomi dunia. Itu semua menjadi tantangan tersendiri generasi mendatang untuk menentukan masa depannya.

Kompleksitas dari permasalahan di atas tentu memerlukan kehadiran negara secara serius dengan program yang berkelanjutan. Dalam hal ini, negara perlu mempersiapkan generasi penerusnya, negara perlu memberi akses seluas-luasnya kepada para pemuda dalam berbagai bidang.

Negara juga harus mampu mewujudkan harapan bersama untuk dapat hidup sejahtera, aman, sentausa, dan melahirkan para pemuda yang memiliki rasa nasionalisme tinggi serta berjiwa patriotik.

Di tahun 2017, Badan Pusat Statistik merilis data kepemudaan bahwa Indonesia menjadi rumah bagi 63.36 juta jiwa pemuda atau sekitar seperempat dari total penduduk Indonesia. Di tahun 2045 nanti, jumlah penduduk Indonesia menurut Bappenas diprediksi mencapai 321 juta jiwa dengan usia produktif sekitar 209 juta jiwa.

Artinya, Indonesia juga diproyeksikan berada di posisi lima besar kekuatan ekonomi dunia. Peningkatan tersebut tentunya berdampak positif jika para pemuda mempersiapkan dirinya agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan perubahan kondisi global yang begitu cepat.

Generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan juga harus hadir di tengah-tengah masyarakat, tidak asyik dengan ‘dunianya’, kaum muda harus ikut merasakan denyut nadi kesulitan masyarakat, meninggalkan perilaku hedonisme, gemar membaca untuk menambah wawasan serta mampu memanfaatkan era digitalisasi dan revolusi industri 4.0 untuk kemajuan bangsa.

Bagi saya, melahirkan jiwa kepemimpinan harus dimulai dari kepemudaan. Pada pemerintahan Orde Baru, pernah digaungkan slogan “Pemuda Hari Ini, Pemimpin Hari Esok”. Sebuah slogan yang sarat dengan makna dan patut diresapi oleh segenap insan pemuda Indonesia masa kini.

Sikap apatis sebagian pemuda kita terhadap kondisi politik bangsa saat ini akibat perilaku ‘buruk’ (korupsi dll) beberapa elit politiknya. Lagi pula, ada kelompok pemuda yang merasa lebih superior dari kelompok pemuda lainnya, perlu segera diubah haluannya untuk berpartisipasi aktif mensukseskan agenda bangsa dalam pembangunan manusia.

Membangun ekonomi, sosial, politik, seni-budaya, teknologi, dan mau mengedepankan selalu berkarya dalam segala bidang, sesuai minat dan bakatnya.

Pemuda Indonesia saat ini juga harus meyakini bahwa bangsa Indonesia memiliki modal menjadi salah satu bangsa besar dunia karena keanekaragaman dan kekayaan sumber daya alamnya. Serta mau bersatu-padu menghadapi tantangan zaman sebagaimana yang diyakini oleh para pendiri bangsa dalam Kongres Pemuda ke- I dan II, untuk bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia, berbangsa yang satu bangsa Indonesia, dan berbahasa yang satu bahasa Indonesia.

Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-90, 28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2018. ***

Ahmad Zaki Nur Ihsan, terdaftar sebagai Caleg DPR RI 2019 – 2024 dari Partai Berkarya, Daerah Pemilihan Jawa Tengah (Kabupaten Purbalingga, Kebumen & Banjarnegara) dengan Nomor Urut 7.

Baca Juga
Lihat juga...