Mendes: Tingkatkan Kesejahteraan Desa untuk Mengikis Paham Ekstremisme

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

170

SOLO — Mendes PDTT RI, Eko Putro Sandjojo usai diskusi bersama terkait Desa Damai Anti-Radikalisme yang digelar di Solo menyebutkan, adanya korelasi antara ketidakadilan dengan tumbuh kembangnya paham extremisme maupun radikalisme.

“Tingginya tingkat kemiskinan yang diakibatkan ketidakadilan menjadikan masyarakat sangat rentan dan mudah untuk dijadikan sasaran dalam penyebaran paham yang dapat mengganggu stabilitas NKRI tersebut,” kata Menteri Desa Eko Putro Sandjojo kepada awak media, Selasa (09/10/2018).

Mendes PDTT RI Eko Putro Sandjojo. Foto: Harun Alrosid

Disebutkan, dana desa yang saat ini digelontorkan merupakan salah satu cara untuk mengatasi kemiskinan. Dimulai dari pembangunan infrastruktur primer yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

“Yang dibangun pertama kali adalah infrastrukturnya. Seperti ketersediaan air bersih, fasilitas MCK, saluran sanitasi, Posyandu, Klinik Desa, dan lain-lain. Kalau itu sudah ada, baru untuk menumbuhkan ekonomi. Seperti jalan, pasar, Bumdes, saluran irigasi dan lainnya,” terang Mendes.

Disebutkan, 2018 ini, penyerapan dana desa semakin tinggi. Dari tahun lalu angka penyerapan berkisar 82 persen, saat ini sudah mencapai 98 persen. Angka ini cukup fantastis, karena adanya dana desa sudah banyak dinikmati dan dirasakan masyarakat desa.

“Bahkan saat ini muncul klaster-klaster ekonomi yang mampu membayar pajak lebih besar dari pada dana desanya,” tandasnya.

Dirincikan, infrastruktur yang dibangun dengan dana desa di antaranya 158 ribu km jalan, 1.000 km jembatan, puluhan ribuan PAUD, Polindes, dan Bumdes.

“Untuk pertama kalinya, sekarang desa lebih cepat menurunkan angka kemiskinan dari pada di kota. Kalau bisa dipertahankan, dalam tujuh tahun ke depan, dipastikan jumlah orang miskin di desa akan lebih kecil dari pada di kota,” imbuh Menteri Eko Putro.

Untuk mengembangkan ekonomi, Mendes juga mengimbau agar desa-desa di Indonesia mulai melakukan penataan kawasan sebagai penggerak ekonomi berbasis lokal. Ide yang dimunculkan dengan BUMDes membuat trobosan dengan memaksimalkan potensi yang ada, baik potensi alam untuk pariwisata maupun potensi masyarakatnya.

“Dengan meningkatnya ekonomi di desa, maka ini akan mampu mengurangi rasa ketidakadilan. Diharapkan dapat menjadi imunitas atau kekebalan dari mayarakat untuk tidak mudah termakan paham terorisme dan extremisme,” pungkas menteri yang menyelenggarakan diskusi yang bekerjasama dengan PBB-UN Women dan Wahid Foundation.

Baca Juga
Lihat juga...