Mengenal Ritual Mengganti Atap Rumah Adat Lamatou di Flotim

Editor: Koko Triarko

315
MAUMERE – Pembukaan festifal Nubun Tawa di lLapangan Sepak Bola Desa Bantala, Kecamatan Lewolema, kabupaten Flores Timur (flotim), tampak meriah dengan dilangsungkannya ritual adat Koko Padak Bale, mengganti atap rumah adat Lamatou Desa Painapang.
“Atap rumah adat atau Korke beserta bubungan atapnya biasanya sering dilakukan penggantian. Untuk menggantinya, dilakukan proses adat yang dinamakan Koko Padak Bale,” sebut Petrus Eban Koten, warga Lamatou, Desa Painapang, Sabtu (6/10/2018).
Dalam festifal Nubun Tawa, tutur Petrus, sapaannya, ritual ini sengaja dipentaskan agar bisa memberikan gambaran kepada para tamu atau wisatawan dari luar daerah mengenai ritual adat tersebut.
Petrus Eban Koten, warga Lamatou Desa Paipang, Kecamatan Lewolema, Kabupaten Flores Timur. -Foto: Ebed de Rosary
“Ritual adat ini juga ingin memberikan gambaran kepada kaum muda, mengenai proses ritual adat pembangunan Korke atau rumah adat yang banyak generasi muda belum mengetahuinya secara baik,” ungkapnya.
Sebelum dilakukan ritual memanah atau Leo Tenada kata Petrus, biasanya didahului denegan ritual Koko Padak Bale, yakni penggantian tiang rumah adat, atap dan bubungan atap atau Klongot yang sudah lapuk.
Petrus Lebu Ruron,  tetua adat Lamatou, menjelaskan, dalam proses pembangunan atap Koko Padak Bale ini, semua anak-anak suku yang ada di Lewotana terlibat langsung dalam proses pengerjaannya.
“Namun ada beberapa hal yang harus ditaati bersama, berkaitan dengan Kenahi, pembagian tugas dan fungsi setiap suku dalam kesatuan Koko Padak Bale,” terangnya.
Ada pun bagian-bagian dari Korke yang akan dikerjakan, sebut Lebu, telah ditentukan dengan tugasnya sesuai dengan Kenahi yang merupakan warisan leluhur, seperti pembangunan atap Korke bagian depan berhadapan dengan Namatukan adalah suku yang sudah ditentukan.
“Yang berhadapan dengan Namatukan merupakan bagian suku Limahekin, Lamaruro, Amweruin dan Riantukan serta bagian utara merupakan bagian suku Lamaruro Ritapuken dan Baopuken,” jelasnya.
Sementara untuk bagian timur, sambung Lebu, menjadi bagian suku Lamahewe dan Lebaluk, sedangkan bagian barat suku lamaruro Amaretat dan suku Ama. Semua proses ini diawali dengan suara atau Wewa dari gong serta gendang dan Ala Jati Wati Wairunu dari suku Ama.
Setelah semua ritual adat Koko Padak bale ini selesai dilakukan, beber Lebu, maka dilanjutkan dengan ritual adat berikutnya yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban dan makan Rengki, ayam panggang serta Mati atau semacam tumpeng kecil.
“Makan Rengki atau ayam panggang utuh serta Mati atau tumpeng ini dilakukan bersama-sama oleh Atakabele Koko Lolo. Biasanya juga dengan meminum arak bersama,” katanya.
Korke atau rumah adat biasanya dibuat dari kayu, sementara atapnya dibuat dari daun Gebang atau Tuak, di mana bubungan rumah adat ini dipasangi sebuah bambu memanjang dan tiga bambu kecil untuk menyatukan beberapa helai daun gebang.
Baca Juga
Lihat juga...