Mengenang Jasa Prajurit Indonesia di TMII

Editor: Makmun Hidayat

320

JAKARTA — Ibu Negara Tien Soeharto pernah berkata: “Bangsa Indonesia merasa bangga kemerdekaan itu diperoleh dengan pengorbanan putra-putra terbaik, para pejuang kemerdekaan prajurit-prajurit bangsanya. Semangat keprajuritan merupakan bagian dari semangat bangsa Indonesia.”

Untuk mengabadikan semangat keprajuritan bangsa Indonesia, Ibu Tien Soeharto membangun Museum Keprajuritan Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Dengan adanya museum ini, Ibu Tien berharap masyarakat dan generasi muda khususnya akan dapat lebih memahami sejarah perjuangan bangsanya di masa lampau.

Kepala Sub Seksi Koleksi Museum Keprajuritan Indonesia TMII, Daru Waskita menegaskan, museum ini dibangun atas ide cemerlang Ibu Tien Soeharto dengan misi melestarikan bukti dan rekaman sejarah perjuangan bangsa merebut kemerdekaan pada abad ke 7 hingga abad ke 19.

“Ide Ibu Tien sangat cemerlang dalam mengambil keputusan melestarikan rekam jejak perjuangan bangsa dalam sebuah wahana edukasi museum ini,” kata Daru kepada Cendana News, Senin (8/10/2018).

Kepala Sub Seksi Museum Keprajuritan Indonesia TMII, Jakarta – Foto: Sri Sugiarti

Menurut Daru, bangunan museum ini penuh makna pemikiran Ibu Tien, seperti filosofi benteng persegi limas itu gambaran Indonesia di masa lalu dalam perjuangan para prajuritnya. Begitu juga dengan danau buatan sekeliling benteng dimaknai Indonesia negara kepulauan nusantara.

“Kita baru ngerti setelah museum ini berdiri beberapa tahun, ternyata penuh makna. Ciri khas zaman perang di kepulauan kan benteng. Ada danau karena kita negara maritim. Jadi sejarahnya dituangkan dalam bangunan museum ini, semua suasana zaman perang dulu,” ungkap Daru.

Bangunan yang dikelilingi air, laksana menggambarkan sebuah benteng pertahanan ini diresmikan oleh Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto pada tanggal 25 Juli 1987.

Untuk mencapai gedung seluas 7.545 meter persegi itu seolah-olah pengunjung harus menggunakan perahu yang tersandar di dermaga.

Benteng besar sangat megah bergaya klasik abad ke 16 dibangun untuk menjadi museum yang melambangkan betapa kokoh dan kuatnya pertahanan bangsa Indonesia.

Sesuai dengan bentuknya persegi limas, Daru menjelaskan, di setiap sudut bangunan museum ini terdapat menara pengintai atau bastion yang bermakna kewaspadaan nasional untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Adapun gerbang utama berbahan dasar kayu mencerminkan sifat keterbukaan dan keramahtamahan rakyat Indonesia. Museum ini juga memamerkan dua kapal tradisional, yaitu kapal Banten dan Pinisi dari Sulawesi Selatan yang bersandar di danau.

“Kedua kapal ini melambangkan kekuatan maritim dari barat sampai timur, dengan prajurit yang gagah berani dan berjiwa pahlawan memperjuangkan kemerdekaan bangsa,” ujarnya.

Museum Keprajuritan Indonesia yang berdiri di atas lahan seluas 4,5 hektar ini menyimpan bukti sejarah perjuangan bangsa Indonesia dari waktu ke waktu.

Memasuki ruang museum, pengunjung harus menaiki tangga menuju lantai dua terlebih dulu untuk melihat koleksi di museum ini. Di sepanjang ruangan lantai ini terdapat banyak diorama yang menggambarkan perlawanan pejuang-pejuang Indonesia melawan penjajah.

Bentuk penyajian yang disuguhkan di museum ini diorama fragmen patung dan relief perpaduan relief yang menyatu dengan dinding luar menjadi bagian pameran diluar ruangan yang menggambarkan 19 kisah panjang perjuangan bangsa abad 13 hingga abad 19.

Bagian dalam menyajikan 14 diorama yang menceritakan tentang perlawanan terhadap penjajah untuk mempertahankan tanah air. Seperti, diorama Perang Padri, Perang Badung di Bali, dan Perang Lombok.

Selain itu, dipamerkan juga benda tiruan senjata seperti meriam, pakaian perang, panji-panji dan boneka peraga yang memakai busana prajurit tradisional dari setiap wilayah di Indonesia.

Formasi dalam melawan tentara Belanda, seperti formasi garuda yang dalam bahasa sansekerta disebut Ardhacandra Wyuha tersaji dalam ruangan museum ini.

Dari lantai dua, pengunjung bisa berlanjut ke halaman tengah Museum Keprajuritan Indonesia, dengan menuruni tangga. Di halaman tengah ini terdapat panggung terbuka dengan kursi yang melingkar. Panggung ini digunakan untuk pentas musik atau kegiatan lain.

Panggung ini juga dikelilingi ragam fragmen patung 23 pahlawan dari abad ke 7 hingga abad ke 19. Patung pahlawan yang terbuat dari perunggu berukuran 11 kali lebih besar dari manusia pada umumnya ini, seperti patung Pangeran Diponegoro, Mahapatih Gajah Mada, Imam Bonjol, Patimmura, Cut Nyak Dien, Nyi Ageng Serang, Cut Meutia, Untung Suropati hingga pahlawan Aceh.

“Ada 383 buah koleksi yang kita pamerkan tapi itu replika semua. Yang asli hanya dua meriam di halaman depan. Kita punya tradisi keprajuritan dari Aceh hingga Maluku,” ujarnya.

Layaknya sebuah benteng asli, atap bangunan Museum Keprajuritan juga dapat dijelajahi oleh para pengunjung. Mereka bisa melihat pemandangan TMII dengan jelas dari sisi atas Museum Keprajuritan.

Museum dengan bangunan unik ini selalu ramai pengunjung baik wisatawan nusantara maupun mancanegara, terlebih Sabtu dan Minggu juga liburan nasional.

Mereka berkunjung bukan sekedar untuk berfoto, tetapi belajar sejarah perjuangan para pahlawan Indonesia. Menurut Daru, tercatat setiap bulannya 58 ribu- 60 ribu pengunjung ke museum ini.

“Semoga Museum Keprajuritan ini dapat memotivasi pengunjung mempelajari sejarah para pahlawan dan mengenang jasa-jasa prajurit Indonesia,” kata pria kelahiran 52 tahun ini.

Sehingga menurunya, mereka khususnya generasi milenial lebih memahami dan menghargai perjuangan pahlawan Indonesia dalam merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah.

Museum Keprajuritan Indonesia ini merupakan instalasi bagian dari institusi Pusat Sejarah TNI (Pusjarah TNI ). Sehingga tampilannya sangat berbeda dengan museum lain pada umumnya.

Baca Juga
Lihat juga...