Menjadi Mahasiswa Profesional dan Pejuang

Editor: Satmoko Budi Santoso

141

JAKARTA – Salah seorang mahasiswa Universitas Mercu Buana, Adinda Nabila Maharani, begitu sedih ketika melihat film G30S/PKI.

Melihat film tersebut di zaman milenial, membuat dirinya dibawa kembali ke zaman kejadian tersebut. Setelah melihat film itu, ia merasa yakin dan percaya, jika film G30S/PKI bukan film rekayasa, namun film berdasarkan fakta sejarah.

“Dua kali aku lihat film ini, sedih banget pastinya. Adanya film ini, bagi dirinya maupun anak-anak,  di zaman sekarang bertujuan untuk mengenal para pahlawan yang telah berjasa untuk negara dalam menjaga dan mempertahankan Pancasila,” ucap mahasiswi Public Relation semester satu ini, ketika diwawancara Cendana News di Auditorium kampus Universitas Mercu Buana, Jakarta (5/10/2018).

Hal senada juga disampaikan Devi Felisa dan Alifia Rosalinda. Kedua mahasiswi cantik semester satu, jurusan public relation kompak keluar ruangan ketika film berlangsung.

“Film dokumentasi sejarah menurut aku sangat bagus untuk generasi sekarang. Ini yang ketiga aku nonton itu,” ucap Devi.

“Dengan pemutaran film G30S/PKI, anak-anak milenial seperti saya dan yang lainnya menjadi tahu akan sejarah, lebih menghargai pahlawan bangsa,” ujar Alifia.

Rektor Universitas Mercu Buana, Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho M.M – Foto M Fahrizal

Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho M.M, rektor Universitas Mercu Buana, menyampaikan kepada mahasiswa-mahasiswi agar menjadi profesional dan pejuang. Kenapa demikian, karena pada hari ini bertepatan dengan hari jadi TNI, semoga mental pejuang para TNI tertular ke mahasiswa, dan menjadi mahasiswa profesional dalam membangun negeri ini.

Disampaikan Aris lagi, film G30S/PKI adalah fakta sejarah, bukan hanya film yang “katanya”.

Pemutaran film tersebut juga dalam rangka meningkatkan kewaspadaan nasional. Untuk membangkitkan kesadaran kebangsaan agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari.

Namun, ancaman itu selalu ada, sampai ada istilah ekstrem kiri (sosialis komunis) dan ekstrem kanan (sosialis agama). Era sekarang dibungkus dengan nama proxy war, perang asimetris, dan lainnya. Penyebaran melalui berbagai media baik media sosial atau lainnya. Jika tak hati-hati maka masyarakat menjadi bingung. Tidak lagi tahu mana yang harus menjadi rujukan.

Dulu, ketika zaman PKI, ada istilah agitasi, provokasi, suasana rakyat dibuat tidak nyaman, tidak kondusif, dipertentangkan semua. Majikan dengan buruh, pegawai dengan atasan, bintara dengan perwira. Itu semua mirip, namun pelakunya berbeda. Tentunya untuk menghadapi hal tersebut, kewaspadaan nasional menjadi penting. Salah satunya harus belajar melihat film G30S/PKI tersebut.

Dikatakan lagi, dirinya percaya ungkapan seorang tokoh besar, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan. Jika menghargai para pahlawan otomatis juga memahami sejarah yang bukan mitos ataupun legenda, dapat dibedakan antara misteri dan histori.

Rektor UMB Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho (keempat dari kanan) bersama cendekiawan dan para dosen. (Foto M Fahrizal)

Apakah anak-anak generasi milenial tidak ingin menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang besar? Dirinya merasa yakin, walaupun tampilan atau pendekatan berbeda, mereka masih mencintai bangsa Indonesia seperti generasi sebelumnya. Maka, harus tetap mempunyai komitmen, terus menerus mengenalkan dan memberikan pemahaman yang sesuai konteks hidup saat ini.

“Apa benar Partai Komunis tidak ada, secara formal memang tidak ada, tetapi di dunia ini masih ada negara komunis. Misalnya RRC dan Korea Utara. Mungkin di sana sudah liberal atau bebas segala macam. Dengan kita cek, kita mempunyai referensi,” jelasnya.

Jadi, intinya, masyarakat harus cerdas. Memiliki banyak referensi. Jika banyak membaca referensi, tidak mudah lupa.

Baca Juga
Lihat juga...