Mete Kelompok Puna Liput Ile Padung Penuhi Kebutuhan Ekspor

Editor: Satmoko Budi Santoso

163

LARANTUKA – Kabupaten Flores Timur menjadi salah satu sentra produksi mete di Indonesia. Setiap musim panen, ribuan ton mete yang dibeli dari petani dengan harga murah atau dalam bentuk gelondongan, dikirim ke luar daerah.

“Sejak tahun 2013, Kelompok Puna Liput dibentuk, bekerjasama dengan LSM Swiss Contact.  Produk mete petani selama ini dijual secara gelondongan, dikupas kulitnya, dan harganya bisa menjadi mahal,” sebut Ignasius Koten, pengurus kelompok Puna Liput, Rabu (9/10/2018).

Mete yang sudah dikupas kulitnya, kata Ignas, sapaannya, dijual ke luar negeri baik dalam bentuk gelondongan, kulit ari maupun yang sudah dikupas. Dikemas juga secara baik sehingga hasil penjualannya pun mahal.

Margaretha Wain anggota kelompok Puna Liput desa Ile Padung kecamatan Lewolema kabupaten Flores Timur. Foto : Ebed de Rosary

“Sekarang satu kilogram mete yang sudah dikupas kulitnya, kami jual hingga Rp150 ribu rupiah per kilogram. Mete kami beli dari petani seharga Rp100 ribu, untuk mete yang sudah dikupas, kami kemas, dan menjual ke luar negeri,” sebutnya.

Di Unit Pengolahan Hasil Puna Liput, kata Ignas, semua anggota kelompok bekerja mengupas kulit dan ada yang memisahkan kulit ari hingga mengemas.

“Setiap proses diawasi ketat sesuai standar Badan Inspeksi dan Sertifikasi Swiss yang khusus memeriksa pengolahan kacang mete yang disebut IMO (International Market Ecotologi),” tuturnya.

Semenjak tahun 2005, jelas Ignas, Kelompok Puna Liput sudah mengantongi sertifikat tersebut. Setiap tahun, badan tersebut datang dan memeriksa semua proses, termasuk bahan dasar dan fasilitas.

“Tiap tahun kelompok harus bayar biaya sertifikasi. Setiap kilogram mete yang dijual anggota kelompok sebanyak 15 orang dipotong Rp1.000 untuk mengurus biaya sertifikasi agar bisa menjual ke luar negeri,” ungkapnya.

Margaretha Wain, anggota kelompok Puna Liput, mengaku senang bergabung di kelompok tersebut. Selain mendapatkan uang dari hasil penjualan mete, mereka juga dibayar untuk setiap kilogram mete yang dikupas kulit arinya.

“Dengan adanya kelompok ini, dalam setahun kami bisa mendapatkan uang hingga Rp100 juta dari hasil mete. Bahkan ada anggota kelompok yang mendapatkan uang Rp250 juta. Tapi memang sulit mengupas mete dari kulitnya. Sebab sulit dan tangan sering luka terkena minyak mete,” sebutnya.

Di Desa Ile Padung, kata Margaretha, sudah ada 2 kelompok yang memproduksi mete yang sudah dikupas dan dijual ke luar negeri. Sementara banyak petani lain tidak mau menjual mete yang sudah dikupas.

“Petani lainnya tidak mau capek sehingga mereka lebih memilih menjual mete secara gelondongan (belum dikupas kulitnya) dengan harga Rp15 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram,” tuturnya.

Selain mendapatkan uang dari hasil penjualan mete, kata Margaretha, petani mete juga memiliki organisasi dan koperasi sehingga petani bisa meminjam uang bila membutuhkan.

Baca Juga
Lihat juga...