Musni Umar Khawatirkan Usaha Pemutarbalikan Fakta Sejarah

Editor: Makmun Hidayat

737
Dr. Musni Umar - Foto Akhmad Sekhu

JAKARTA — Dr. Musni Umar dikenal vokal dan punya kepedulian pada keadaan dan perkembangan sosial masyarakat. Dia menegaskan anak muda tidak boleh melupakan sejarah pemberontakan PKI.

“Kita harus terus mensosialisasikan tentang kejahatan PKI yang tidak hanya pemberontakan yang mereka lakukan pada 1965, tapi juga jangan lupakan yang terjadi pada 1948 di Madiun,” kata Dr. Musni Umar kepada Cendana News dalam acara nobar film Pengkhianatan G 30 S PKI di Plaza Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu malam (30/9/2018).

Lelaki kelahiran Kendari, 12 Juni 1953, membeberkan kalau yang terjadi pada 1965 itu para jenderal, sedangkan yang terjadi pada 1948 di Madiun banyak sekali ulama dan masyarakat yang jadi korban.

“Kita tidak boleh melupakan sejarah yang harus dimasyarakatkan di tengah bangsa yang berkembang dimana banyak anak muda yang tidak paham,” beber Musni yang sejak SMP sudah aktif di organisasi, dimulai di Pelajar Islam Indonesia (PII) kemudian dilanjutkan di organisasi intra (Dewan Mahasiswa) dan ekstra kampus (HMI) di Jakarta.

Musni mengkhawatirkan muncul usaha pemutarbalikan fakta sejarah, yang menyatakan peristiwa itu bukan PKI yang melakukannya, tapi pertentangan dari tentara Angkatan Darat.

“Dengan nobar film ini, menyadarkan kembali pentingnya kita tidak melupakan sejarah karena sejarah dalam banyak hal sering terulang, seperti pemberontakan PKI pada tahun 1948 terulang pada tahun 1965,” paparnya.

Bisa jadi, kata Musni, dimana di Indonesia banyak orang miskin dan kurangnya pendidikan yang membuat nanti munculnya kembali PKI atau atas nama OTB (Organisasi Tanpa Bentuk)

“Kemiskinan memunculkan kegaduhan dan keributan di dalam masyarakat, karena komunis itu janjinya sama rata yang banyak membuat masyarakat tergiur,” tuturnya.

Kita harus berjuang keras, kata Musni, bagaimana menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang nyaris tidak ada sekarang ini. “Kondisi sosial kita lahan empuk hadirnya kembali komunis, dimana komunis tidak saja antiagama, tapi juga anti-Pancasila,” simpulnya.

Musni menyampaikan banyak masyarakat yang mengatakan Orde Baru lebih baik daripada Orde Reformasi. “Apa-apa mahal, rakyat tidak dapat pekerjaan, uang Rp50 ribu tidak ada nilainya, itu rakyat sendiri yang mengatakannya,” urainya.

Musni menyebut kemakmuran sekarang tidak ada, karena yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. “Kalau saya, ukurannya rakyat saja, kalau rakyat makin bagus, makin sejahtera, itu kita dukung maunya rakyat saja,” tegasnya.

Nobar film ini bagi Musni, penting sekali, bahwa ini ada masalah besar yang harus kita selesaikan. “Kita memang harus mengingatkan kembali sejarah, memberi kesadaran baru, memberi peringatan bangsa kita, bahwa komunis tidak akan hilang di negeri ini selama ketidakadilan masih merajalela,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...