Nelayan: Erupsi GAK Merupakan Peristiwa Biasa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

231

LAMPUNG — Kepala Pos Pengamatan Gunung Api, Gunung Anak Krakatau, Andi Suardi menyebutkan, saat ini aktifitas GAK terpantau masih mengeluarkan energi dari dalam tubuhnya. Abu renik serta guguran lava di antaranya lava pijar ke arah Selatan, sinar api dan lontaran pijar ke segala arah bahkan kerap terjadi.

Diterangkan, GAK saat ini masih tetap berada di level waspada. Bahkan imbauan agar nelayan serta wisatawan tidak mendekat hingga saat ini masih belum dicabut. Secara visual, masih dapat diamati dengan mata telanjang, terutama saat kondisi cuaca cerah.

“Secara visual bisa diamati namun saat kabut mulai menutup kadang hanya terlihat samar samar dengan kolom abu tipis meski saat malam terkadang muncul lelehan lava pijar atau lava flow dari kepundan mengalir ke air laut, arah ke Selatan ke Gunung Rakata,” terang Andi Suardi kepala pos pantau GAK di Desa Hargo Pancuran saat dikonfirmasi Cendana News, Selasa (2/10/2018)

Andi Suardi bahkan menyebut secara visual kondisi GAK dalam sepekan terakhir didominasi kondisi berkabut dengan visibility atau jarak pandang 0-III. Sejumlah warga di pesisir kecamatan Bakauheni dan kecamatan Rajabasa saat malam masih bisa mengamati lelehan lava pijar dari kejauhan meski kondisi tersebut tidak membahayakan bagi masyarakat asalkan tidak mendekati lokasi.

Andi Suardi dengan latar belakang Gunung Anak Krakatau yang secara visual tertutup kabut [Foto: Henk Widi]
Suwarno, petugas pos pantau GAK membenarkan letusan mulai jarang terjadi meski dari hasil pengamatan alat pencatat kegempaan didominasi kegempaan terus menerus (Microtremor) dan terekam dengan amplitudo 5-50 mm (dominan 45 mm). Aktivitas tersebut merupakan dampak dari pengeluaran material vulkanik dari dalam tubuhnya.

 

Salah satu nelayan di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Rali (50) menyebutkan, mereka tidak terpengaruh aktivitas GAK. Meski erupsi, namun sejumlah nelayan pesisir tetap melaut.

Rali dan sejumlah nelayan di wilayah tersebut mengungkapkan kondisi erupsi GAK merupakan peristiwa biasa. Ia bahkan menyebut semakin kerap aktivitas maka kekhawatiran akan letusan besar tidak akan terjadi sehingga nelayan tetap mencari ikan seperti biasa.

“Kami justru khawatir saat GAK tidak beraktivitas selama belasan tahun karena energi yang tersimpan tidak keluar, itu justru berbahaya,” beber Rali.

Meski demikian, warga pesisir tetap waspada akan aktivitas GAK. Rali menyebut kekhawatiran terbesar jika terjadi gempa dan angin kencang, seperti yang terjadi di Lombok Nusa Tenggara Barat dan di Palu, Donggala Sulawesi Tengah Rali. Ia menyebut berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dengan membuat sejumlah tanda tanda peringatan termasuk jalur evakuasi saat terjadi tsunami.

Rali bahkan menyebut peralatan deteksi dini terkait kejadian tsunami jika terjadi gempa akibat GAK atau gempa lain jalur-jalur evakuasi ke Gunung Rajabasa telah dibuat.

Kewaspadaan dengan adanya daerah rawan bencana disebut Rali sudah terlihat dengan plang plang khusus jalur rawan bencana di wilayah pesisir yang menghadap ke perairan Selat Sunda sekaligus lokasi GAK berada.

Baca Juga
Lihat juga...