Nobar Film G 30 S PKI, Edukasi Fakta Sejarah

Editor: Makmun Hidayat

203

JAKARTA — Ratusan orang menyaksikan pemutaran film Penghianatan G 30 S PKI di gedung perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Minggu (30/9/2018) malam.

Acara nonton bareng (nobar) film G 30 S PKI yang digagas Partai Berkarya mulai diputar pukul 20.30 WIB dan berakhir pukul 01.00 WIB.

Rachmawati, warga Harapan Jaya, Bekasi Utara, bersama suami dan ketiga anaknya nobar film G 30 S PKI yang diadakan Partai Berkarya.

Dia mengaku melihat di Facebook kalau Partai Berkarya nobar gratis di gedung perfilman Usmar Ismail. Menurutnya, ini kesempatan untuk mengajak keluarganya nonton film sejarah atas kekejaman PKI yang telah membunuh tujuh putra bangsa terbaik dan para ulama.

Menurutnya, di tengah-tengah zaman modern, film ini tetap masih dibutuhkan untuk pemahaman sejarah bagi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

“Dengan nonton film ini, saya ingin mengenalkan sejarah ini pada anak-anak saya, bahwa bangsa kita dulu punya sejarah kelam kekejaman PKI,” ujar Rachmawati kepada Cendana News ditemui usai nobar.

Meskipun ada sebagian orang berpolemik film ini pemutarbalikan fakta. Namun Rachmawati mengatakan, sejarah kekejaman PKI banyak saksinya yang bicara kebenaran fakta sejarah yang terkandung dalam film tersebut adalah benar adanya.

“Ade Irma Suryani jadi korban kebiadaban PKI, tujuh jenderal dan para ulama. Itu bukan sesuatu yang harus kita tinggalkan begitu saja, tapi harus kita kenang bahwa pernah ada sejarah kelam di masa lalu di Indonesia,” tegasnya.

Dia menilai pendapat mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo terkait pemberontakan PKI akan terjadi lagi bisa sangat mungkin. Karena meskipun PKI itu sudah tidak ada, tapi orang yang pernah terlahir dari orang komunis tersebut masih ada. “Itu yang dikhawatirkan akan tumbuh lagi dengan gaya baru,” ujarnya.

Rachmawati (hijab orange) dan Kayla (kedua dari kiri) pada nobar film G 30 S PKI di gedung perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Minggu (30/9/2018) malam – Foto: Sri Sugiarti

Rachmawati juga menyebutkan, bahwa tindakan Pak Harto dalam memberantas PKI, sudah benar pada saat itu. Dan kalau misalnya ada berita simpang siur mengatakan film ini adalah skenario Pak Harto, tapi kenyataan di lapangan ada penyiksaan tujuh jenderal TNI.

“Itu tidak mungkin dilakukan oleh seorang TNI kalau menurut pikiran saya. Pak Harto telah melakukan tugasnya dengan benar menumpas PKI. Ini fakta sejarah,” tuturnya.

Fathinia Kamila, siswi kelas 2 SMAN 4 Bekasi mengaku nonton film G 30 S PKI ini yang kedua kalinya. Pertama ketika dirinya duduk di bangku SMP. Kini pihak sekolah menugaskan kepada para siswa agar nonton film ini dan kemudian merangkum alur ceritanya.

“Serem dan kejam banget, ada jenderal disiksa dan dibunuh dengan tidak manusiawi. Saya berharap kebiadaban ini tidak terjadi lagi di Indonesia,” ujar Kayla demikian panggilannya.

Kayla mengaku senang bisa nobar film G 30 S PKI ini bersama keluarganya berbaur dengan ratusan penonton lainnya. Menurutnya, banyak pengalaman sejarah yang bisa dipetik dari nobar film ini. “Saya jadi lebih paham sejarah kejamnya PKI,” kata putri Rachmawati ini.

Adam Jackson menambahkan, sejarah kelam bangsa ini harus terus dikenang. Yakni dengan nobar film ini membuka kembali kenangan pahit itu, bahwa sejarah tidak akan mati justru menumbuhkan perjuangan membela dan menjaga negara ini.

“Kekejaman PKI ada tujuh jenderal yang difitnah lalu disiksa dan dibunuh. Kita jangan lupakan sejarah kelam ini,” ujar Adam kepada Cendana News.

Adam mengaku kerap memberi edukasi kepada anaknya tentang sejarah bangsa, salah satunya kekejaman PKI. “Anak sekarang menyanyikan lagu Indonesia Raya saja nggak apal. Kita harus tekankan pada generasi milenial bahwa film G 30 S PKI ini fakta sejarah, penting untuk diketahui dan pahami,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...