OJK Jember Ajak Santri dan Mahasiswa Nabung Saham

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

166

JEMBER — Pasar modal merupakan salah satu alternatif bagi masyarakat untuk berinvestasi. Sayangnya, sejauh ini minat untuk berkecimpung dinilai masih sangat rendah.

Berdasarkan data yang dilansir dari Otoritas Jasa Keuangan, jumlah investor saham per Agustus 2018 sebanyak 728.480 orang dari 265 juta jiwa penduduk Indonesia. Di Jawa Timur mencapai 89.173 orang dan di Kabupaten Jember sendiri hanya sejumlah 2.409 orang.

Kepala OJK Jember, Azil Noerdin Syah. Foto: Kusbandono

“Secara Nasional, jumlah investor saham hanya di kisaran 700 ribuan orang saja,” terang Kepala OJK Jember, Azil Noerdin Syah usai kegiatan sekolah Pasar Modal di Kampus STIE Mandala Jember, Rabu (10/10/2018).

Melihat data di atas, lanjut Azil, tingkat inklusi pasar modal paling rendah dibandingkan sektor keuangan lainnya. Dari survey 2016 lalu, tingkat inklusi pasar modal masih dikisaran 1,5 persen. Angka tersebut masih sangat jauh dibandingkan dengan inklusi sektor keuangan lainnya, seperti perbankan yang mencapai 60 persen lebih.

OJK juga mengajak sejumlah elemen masyarakat, mulai kalangan pondok pesantren, mahasiswa, birokrat, ibu rumah tangga, termasuk juga kalangan jurnalis untuk terjun dalam pasar modal.

“Kemarin kita sudah sosialisasi kepada kalangan santri A-Qodiri, kepada aparatur desa, wartawan dan juga ibu PKK. Sekarang kita sosialisasikan kepada adik-adik mahasiswa,” terang Azil.

Tujuan dari sosialisasi pasar modal ini tidak lain adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang investasi saham. Sebab selama ini masih banyak masyarakat yang salah persepsi.

“Kita mau luruskan pemahaman salah terkait saham. Jadi saham itu bukan judi, apalagi sekarang sudah ada saham syariah. Jadi tidak ada masalah,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini, OJK juga memberikan kiat-kiat berinvestasi saham secara aman. Salah satunya, ialah dengan menghadirkan perusahaan yang menawarkan berbagai jasa keuangan termasuk investasi ekuisitas.

Lebih jauh Azil menambahkan, pemerintah saat ini sudah memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk dapat mengakses pasar modal. Salah satunya dengan menurunkan perhitungan satu slot saham yang semula 500 lembar menjadi 100 lembar.

“Kalau dulu orang yang mau beli saham minimal harus 500 lembar. Kalau selembarnya 3 ribu maka dana yang harus diinvestasikan minimal 1,5 juta rupiah. Tapi dengan kebijakan satu slot 100 lembar, masyarakat cukup menginvestasikan dana 300 ribu untuk dapat memiliki saham perusahaan tersebut,” imbuhnya.

Dengan adanya kebijakan ini, maka seluruh elemen masyarakat mulai dari kalangan mahasiswa, santri, wartawan maupun ibu rumah tangga dapat berkecimpung di pasar modal untuk meningkatkan kesejahteraanya.

“Kita berharap adik-adik mahasiswa, santri maupun kalangan lainnya juga mulai nabung saham dari sekarang,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...