Optimalkan Layanan Pendidikan Kaum Disabilitas

Editor: Satmoko Budi Santoso

182

JEMBER – Layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas masih jauh dari kata memadai. Pendidikan usia dini sampai dasar belum tersentuh oleh banyak pihak terutama negara.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan kemauan sebagai perjuangan demi tegaknya hak pendidikan bagi kaum disabilitas.

Sekolah SLB Star Kids yang beralamat di Jalan Letjen Suprapto XVIII Nomor 4 Kebonsari Kecamatan Sumbersari Jember, menjadi salah satu rujukan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) autis dan slow leaner.

Menurut Kepala SLB Star Kids, Evi Nurohma, berdirinya Sekolah Luar Biasa (SLB) Star Kids tidak lepas dari peran pemilik Yayasan Matahariku Ade Novita yang mempunyai seorang putri  berkebutuhan khusus (autis).

Kepala SLB Star Kids Evi Nurohma. Foto: Kusbandono.

Di sekolah ini, segala upaya terapi penyembuhan dilakukan terhadap anak agar kemampuan emosi dan verbalnya bisa mengalami perubahan. Sekaligus berbagi pengalaman kepada orang yang memiliki anak penyandang disabilitas.

“Berbagai macam upaya terapi ke segala penjuru di antaranya Jakarta, Malang, Surabaya, dan lainnya dilakukan, tapi belum ada perubahan signifikan yang terjadi pada putrinya. Yang bersangkutan ingin berbagi pengalaman kepada orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus dengan membuka Klinik Tumbuh Kembang Anak pada tahun 2008,” kata Evi, kepada Cendana News, Kamis (4/10/2018).

Evi juga menambahkan, awalnya klinik tersebut melayani fisioterapi dan psikologi bagi anak berkebutuhan khusus (autis). Lambat laun mengalami perkembangan dengan berubah fungsi menjadi lembaga pendidikan usia dini dan taman kanak-kanak inklusi.

“Pada tahun 2012 lalu, dari klinik menjadi PAUD dan TK Inklusi. Dengan status inklusi tersebut kami bisa menerima semua siswa baik disabilitas maupun non-disabilitas. Namun dengan berjalannya waktu, semangat inklusi ini terkikis akibat kekhawatiran orang tua yang beranggapan bahwa autis itu menular. Padahal tidak. Ini juga berimbas pada kuantitas peserta didik yang banyak keluar untuk pindah sekolah,” ujarnya.

Evi juga mengungkapkan, dalam fase seperti itu pihak yayasan selaku pemilik sekolah melakukan langkah perubahan status dari inklusi menjadi SLB Star Kids dengan melayani  anak berkebutuhan khusus terutama disabilitas autis dan lambat belajar. Sekolah tersebut mempunyai TK sebanyak tiga kelas dan SD lima kelas.

“Sejak 2016 kita khusus menerima siswa anak berkebutuhan khusus. Saat ini peserta didik kami berjumlah 27 anak. Dengan jumlah tenaga pendidik sebanyak 20 orang guru,” ujarnya.

Terkait antusiasme orang tua, Evi menjelaskan, ada orang yang terima beres dengan menyerahkan segalanya kepada pihak sekolah. Ada pula dengan penuh kesadaran berkolaborasi dengan pihak sekolah untuk memperhatikan sang anak.

“Anak autis itu rata-rata memiliki kecenderungan hiperaktif dan tidak terkontrol emosinya. Sehingga perlu pendampingan secara menyeluruh baik dari orang tua maupun sekolah,” jelasnya.

Proses belajar mengajar di SLB Star Kids juga dengan kurikulum yang ada dan sama dengan sekolah reguler. Yang menjadi pembeda adalah pendekatan dan pendampingan yang memerlukan pendampingan ekstra.

“Kami sebenarnya tidak pernah membatasi dalam penerimaan peserta didik, namun karena keterbatasan SDM menjadikan pertimbangan juga. Apalagi dengan sumber keuangan satu-satunya yang berasal dari orang tua peserta didik,” pungkasnya.

Guru kelas di SLB Star Kids Vian Imuniatun. Foto: Kusbandono.

Sementara itu, salah satu guru kelas di SLB Star Kids, Vian Imuniatun mengatakan, menjadi pendidik bagi anak autis dan slow leaner sangat dibutuhkan kemampuan mengendalikan emosi yang tinggi. Anak autis seringkali hiperaktif perilakunya.

“Terkadang sampai menjebol dinding sekat kelas yang memisahkan ruang kelas. Bahkan alat tulis pensil saja bagi mereka tidak sampai seminggu sudah habis,” kata Vian yang merupakan penyandang disabilitas daksa, alumnus Pendidikan Luar Biasa (PLB) IKIP PGRI Jember.

Bersama 19 guru lainnya, Vian secara aktif mendampingi dan mengarahkan anak didiknya dengan penuh tanggung jawab di SLB Star Kids. Walaupun dirinya baru bergabung selama satu tahun.

Baca Juga
Lihat juga...