Pagi tak Pernah Kembali

CERPEN DIAN NANGIN

242

SEHARUSNYA, sejak tadi pagi ia telah mampu membaca situasi Mbah Kakung dan menolak usul pergi memanen ikan ke kolam kecil mereka di balik bukit. Selain terlalu melelahkan untuk lelaki tua seperti Mbahnya, ikan-ikan di sana mungkin sudah tak terlalu banyak.

Tapi, bocah sepuluh tahun itu tak punya pilihan. Ketela pohon yang ditanam di pekarangan yang tanahnya berbatu-batu belum berbuah. Beberapa ekor bebek yang mereka pelihara tampak enggan bertelur beberapa waktu belakangan ini.

Mungkin karena perut mereka jarang terisi kenyang, seperti pemiliknya. Satu-satunya sumber penghasilan lain adalah kolam ikan yang sudah berbulan-bulan tidak dijenguk itu.

Setelah berjalan kaki empat jam pulang pergi ke balik bukit di utara desa, mereka membawa pulang dua ember berisi belut dan lele — tampaknya ada orang-orang serakah yang memanen ikan mujair dan nila di sana tanpa izin si empunya. Palingan, berat isi masing-masing ember hanya dua kilo.

Maka, di sinilah mereka sekarang, di sebuah pasar tradisional di tepi kota. Pasar yang hanya buka kala malam hari dan selalu dipenuhi orang yang berasal dari berbagai desa lain untuk menjual hasil kebun, ternak ayam atau entok, serta kerajinan yang tak akan pernah dilirik pasar modern atau supermarket-supermarket di kota.

Kakek dan cucu itu duduk di atas bangku plastik rendah dengan dua ember di hadapan masing-masing, di antara lapak penjual sayur mayur dan perkakas dapur yang lapaknya berupa panggung kecil karena tak ingin dagangan mereka kotor oleh lumpur.

Tubuh lelaki tua itu sedikit meriang. Sejak tadi pagi ia memang kelihatan kurang sehat, namun tetap memaksa diri memanen ikan. Berjam-jam merendam tubuh di lumpur telah memperburuk keadaannya.

Penyakit batuk bengeknya yang baru sembuh dua bulan lalu kini kambuh lagi. Berguncang-guncang tubuh tuanya diserbu batuk-batuk hebat serta geraman yang berasal dari tenggorokannya.

“Belikan rokok, Le…”

Anak lelaki itu menghela nafas. Aneh-aneh saja permintaan Mbahnya. Sudah tahu batuk-batuk berat begitu, masih ingin merokok segala. Namun, enggan menolak permintaan sang kakek, pergi juga anak lelaki itu meninggalkan lapaknya.

Ditingkahinya beberapa kubangan lumpur yang menghiasi pasar dan menuju perempatan, membeli dua batang rokok pada pengasong yang asyik berseliweran di antara mobil-mobil yang tengah terjebak macet.

Teringat tak punya korek api, ia singgah di lapak penjual mi goreng yang sedang sibuk mengaduk-aduk mi yang baru saja dilumuri kecap dalam sebuah kuali besar. Ia menarik sebuah kayu bakar dari tungku dan sejenak memperhatikan lelaki-lelaki yang duduk mengaso di bangku panjang pangkalan para pengemudi ojek, tak jauh darinya.

Ia belajar bagaimana caranya menghisap rokok hingga baranya menyala. Baru satu isapan, ia terbatuk-batuk. Tenggorokannya terasa terbakar. Sejenak ia terheran, kalau begini rasanya merokok, lalu apa nikmatnya hingga banyak orang yang tergila-gila dengan gulungan tembakau ini?

Ingin rasanya bocah itu melempar rokok yang telah menyala itu ke dalam tungku yang menyala-nyala, namun ia urungkan niat itu sebab tak kuasa menolak permintaan kakek yang telah membesarkannya itu.

“Ini, Mbah.”

Lelaki tua itu mengangkat kepala. Matanya merah dan berair. “Apa?”

“Lho, katanya ingin rokok?!”

“Ya, ya.” Diterimanya batang kecil yang telah menyala itu, terbatuk beberapa kali, lalu menjepitnya di antara bibir hitamnya. Ia mengisapnya lemah, menghasilkan sekepul asap yang langsung memudar di udara.

Setelah menghabiskan sebatang, lelaki tua itu menopangkan tangan pada lutut dan merebahkan kepalanya di sana. Sesekali tubuhnya berguncang karena batuk hebat, sesekali hanya terdengar deheman.

Bocah itu duduk termangu, sesekali menawarkan lele dan belutnya pada orang yang melintas. Usahanya itu berhasil menarik pembeli. Seorang perempuan berjongkok untuk melihat isi ember yang segelap langit malam. Hanya keciak air yang menandakan ada makhluk hidup di dalamnya.

“Lele satu kilo…”

Bocah itu cekatan mencelupkan tangan telanjangnya ke dalam ember dan meraih makhluk-makhluk licin di dalamnya. Beberapa kali tangkapannya terlepas karena ikan-ikan itu pandai berkelit. Berbekal penerangan lampu minyak dari lapak-lapak tetangga, ia menimbang ikan dalam plastik.

“Dibersihkan, Mbak?”

“Ya. Potong-potong sekalian.”

Bocah itu melirik ke sisi kirinya. Si lelaki tua tampak tenang tidurnya walau dalam posisi duduk sambil memeluk lutut. Ingin ia membangunkannya karena urusan memotong ikan adalah bagian lelaki itu. Namun, ia mengurungkan niatnya, karena membangunkan Mbahnya berarti membangunkan penyakit batuknya juga.

Ia lalu meraih balok kayu di dekatnya, lalu dengan cepat menghantam kepala lele dalam plastik. Ikan-ikan itu menggelepar menjemput ajal. Butuh beberapa kali pukulan hingga mereka diam tak bergerak.

Barulah bocah itu menumpahkannya ke baskom kecil, mengambil satu-satu, menyayat sana sini dengan pisau kecil, memotongnya menjadi beberapa bagian, mencuci ala kadarnya, membungkus, lalu memberikan pada si perempuan muda yang seusai membayar langsung berlalu tanpa mengucapkan terima kasih.

Lalu, sepi. Lapak-lapak tetangga masih tampak ramai. Orang-orang berlalu lalang, namun tak seorang pun singgah di lapak ikannya. Ia ikut memeluk lutut, kedinginan dan agak mengantuk. Sweater belel miliknya telah disampirkan di punggung si Mbah, setidaknya bisa sedikit melindungi tubuh tua nan kurus itu dari angin malam.

Pasar semakin ramai, namun bocah itu merasa sunyi. Telinganya serasa tuli walau matanya dipenuhi pemandangan berpasang-pasang kaki yang melintas. Ada yang memakai sandal jepit, sepatu boot untuk menghindari lumpur di pasar yang becek, namun ada juga yang telanjang kaki.

Baca Juga

Pabrik Kenangan

Kaki-kaki yang entah datang dan akan menuju ke mana. Kaki-kaki yang bergerak mengantarkan tubuh pemiliknya ke sana-sini. Tungkai-tungkai yang pergi, lalu bebas untuk memilih pulang atau tidak sama sekali.

Seperti ibunya yang sudah lama pergi dan tak kembali. Entah ke mana kakinya itu sudah melangkah. Yang ia dengar, perempuan itu dulu pamit pergi merantau ke kota. Mencari rezeki, katanya.

Sedangkan sang ayah, tak pernah ia dengar kabarnya. Si Mbahnya juga enggan menjelaskan. Ia melirik lelaki tua di sebelahnya. Pada situasi semacam itu, selalu bangkit rasa rindu pada ibu yang tak pernah datang menengoknya itu. Rindu dan berharap ia berkenan datang untuk mengurus mereka. Membawa rezeki yang katanya selama ini telah ia cari.

Lamunannya buyar ketika sepasang kaki berhenti di depannya. Bocah itu terkesiap. Mungkinkah harapan dalam lamunannya barusan terkabulkan? Ia mengangkat kepala, matanya bergerak ke atas untuk bertemu wajah si pemilik kaki.

“Belutnya setengah kilo, Dik…”

Lesu wajah si bocah. Si pemilik kaki itu memang seorang perempuan, namun bukan ibu yang dirindukannya. Tapi dengan cepat semangatnya bangkit. Perempuan ini adalah jalan rezekinya, layak dilayani dengan baik.

Tiba-tiba lelaki tua itu terbangun. Barangkali lelapnya terusik suara balok yang beradu dengan kepala belut. “Laku banyak, Le?”

“Belum, Mbah.”

“Kemarikan belutnya.”

“Biar aku saja, Mbah.”

Lelaki tua itu memperhatikan cucu satu-satunya itu mengeksekusi beberapa belut. “Bagus, juga kerjamu, Le. Kau sudah bisa mengerjakannya sendiri tanpa bantuan Mbah.”

Bocah laki-laki itu sedikit bangga mendengar pujian itu, sekaligus was-was. Apakah itu pertanda kakeknya tak akan lagi ikut menemaninya berjualan ikan malam-malam? Ia yakin masih belum bisa menanganinya sendiri.

Usai melayani satu pembeli, kembali sepi. Kantuk menyergap bocah itu. Tubuhnya bersandar ke bahu sang kakek, yang duduk kukuh dengan kepala rebah di atas lutut. Keduanya seakan larut dalam mimpi yang sama, tak terganggu suasana pasar yang sedang ramai-ramainya.

Tiga jam berlalu, barulah bocah itu bangun. Ia melihat sekeliling. Pasar sudah cukup sepi. Beberapa penjual yang dagangannya habis telah meninggalkan pasar. Pedagang lain kebanyakan telah tertidur di lapak masing-masing, dalam poisisi duduk seperti kakeknya, berbaring menyempilkan diri di lapak yang sempit, atau teronggok di bangku kayu dengan tubuh berbalut sarung.

Bocah itu menguap, memberesi barang-barangnya. Jelas, tak akan ada lagi orang yang akan membeli isi embernya.

“Mbah,” panggilnya, membangunkan lelaki tua itu. “Kita pulang saja, Mbah.”

Lelaki tua itu tak menjawab.

“Sebentar lagi sudah pagi,” bocah itu mengguncang tubuh kakeknya. “Ayo tidur di rumah. Di sini dingin.”

Namun, tiba-tiba tubuh kurus itu tumbang. Bukan hanya suhu udara, namun tubuhnya pun sudah dingin. Bocah itu dilanda panik, beberapa kali lagi mengguncang tubuh kakeknya sambil memanggil-manggil pilu.

Bergegas ia lari ke pangkalan ojek, mencari pertolongan. Tak sengaja ia menyenggol ember-embernya hingga terguling. Ikan-ikan di dalamnya berhamburan keluar, terbebas dari kungkungan ruang gerak yang terbatas, berenang-renang ke dalam kubangan lumpur. ***

Keterangan:
Mbah Kakung/Mbah: panggilan untuk kakek dalam suku Jawa
Le: panggilan untuk anak laki-laki dalam suku Jawa

Medan, 2018

Dian Nangin, penulis lahir tahun 1991, dan saat ini tinggal di kota Medan. Bekerja sebagai penulis lepas. Sejumlah karya penulis berupa cerpen telah dimuat di beberapa media cetak.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Baca Juga
Lihat juga...