Paket Tour Bunga Bangkai, Cara Mekarsari Edukasi Pengunjung

Editor: Mahadeva WS

242

JAKARTA – Memenuhi pilar konservasi, Taman Buah Mekarsari, menjelang November 2018, membuka program paket tour pengunjung untuk menyaksikan bunga langka, Amorphophallus muelleri dan Amorphophallus paeoniifolius atau yang biasa dikenal dengan bunga bangkai.

Supervisor Pengembangan Hasil Penelitian dan Landscape Gardener Divisi R&D Taman Buah Mekarsari, Junaedi, menyebut, bunga bangkai tersebut sudah ada sejak 2002 di Mekarsari. Saat itu di wilayah Sumatera, sedang dilakukan pembukaan lahan untuk peruntukkan perkebunan kelapa sawit.

“Tanaman ini termasuk klasifikasi langka, karena habitat aslinya hanya dapat ditemukan di beberapa daerah tertentu saja, seperti Sumatra Barat, Jambi dan Riau. Di kepulauan Indonesia lainnya, belum tentu ditemukan. Memang di era globalisasi seperti sekarang, kita bisa menemukan bunga bangkai yang tumbuh di beberapa kota penjuru dunia, tapi itu karena mereka sudah mempelajari bunga bangkai, lalu membuat suatu kondisi green house yang mirip dengan habitat aslinya. Tapi untuk yang tumbuh secara alamiah, ya, hanya di daerah tadi,” tutur Junaedi, Rabu (31/10/2018).

Tumbuhan bunga bangkai, baru berbunga setelah masuk umur dua hingga tiga tahun. Hal tersebut, berlaku untuk semua spesies bunga bangkai. Bunga bangkai berkembang biak dengan umbi. Umbi yang sudah melewati fase dorman, akan masuk pada fase vegetatif. Saat itu, akan tumbuh batang tidak berkayu dan daun. Warna batang dan daunnya hijau tua, dengan motif di batang yang mengindikasikan di mana lokasi tumbuh dan variannya.

Bunga bangkai Amorphophallus paeoniifolius yang sudah masuk proses mengembang – Foto Ranny Supusepa

Setelah batang dan daunnya mengering, barulah umbi bunga bangkai akan membesar. Proses dari umbi menjadi batang dan daun, akan terus berulang hingga dua sampai tiga kali. Dan setelahnya, baru dari umbi akan tumbuh bunga. “Karena cadangan makanannya tidak lagi dipergunakan untuk menghidupi batang dan daun. Dari umbi, akan muncul tunas baru, yang akan membentuk batang dan daun baru,” papar Junaedi.

Mekarsari sudah berhasil mengembangbiakan bunga bangkai di luar habitat aslinya. Pengembangbiakan dilakukan dengan media tanam terbatas, seperti pot. “Pengembangan di pot ini sepenuhnya untuk kepentingan edukasi pada pengunjung. Kalau mau melihat bunga bangkai harus ke hutan, ya agak repot. Jadi Mekarsari berinisiatif untuk menanam di pot, sehingga mudah untuk dipindahkan ke lokasi yang aksesibel bagi pengunjung,” jelas Junaedi.

Di program tour bunga bangkai, Mekarsari menampilkan dua jenis bunga bangkai, Amorphophallus muelleri dan Amorphophalus paeoniifolius di luar habitatnya. “Karena kemarin turun hujan cukup sering, dari umbi yang kita tanam area contoh langsung tumbuh bunga. Kalau nanti bunganya layu, akan muncul tunas baru dan pengulangan fase vegetatif seperti sebelumnya. Tapi bunga yang berikutnya, pasti akan lebih besar dari bunga yang sebelumnya,” tambah Juanedi lebih lanjut.

Pengembangbiakan bunga bangkai bisa dilakukan dengan menanam buah dari bunga bangkai, yang dapat diambil setelah mahkota bunga dan spadik-nya mengering. Buah bunga bangkai berukuran kecil dan berwarna putih. Jika sudah matang akan berwarna merah. Dari satu bunga, bisa didapatkan ratusan biji. “Setelah dicuci selaputnya, kita semai di bak terbuka berisi pasir halus dan disiram setiap hari. Biasanya setelah tiga sampai empat minggu, akan muncul tunas, dan setelah enam sampai delapan minggu, baru dipindah ke tempat tumbuh,” tutur Junaedi.

Pengunjung asal Philipina, Amos, sangat tertarik dengan bunga bangkai. Dia belum pernah menemukan bunga bangkai di negaranya. “Sayangnya ini belum masuk waktunya berbunga. Padahal saya ingin sekali melihat bunganya mekar,” tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...