Pedagang Kelok Sembilan Kembali Direlokasi, Terancam Tipiring

Editor: Satmoko Budi Santoso

159

PADANG – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Sumatera Barat bersama Satpol PP Kabupaten Limapuluh Kota, kembali melakukan penertiban terhadap pedagang kaki lima yang masih membandel membuka lapak di atas fly over Kelok Sembilan.

Sebelum Idul Fitri kemarin, Satpol PP juga telah merelokasi para pedagang itu dari atas fly over ke bagian bawah fly over yang telah dibuat taman bermain. Akan tetapi, pedagang kembali membuka lapak ke atas fly over, dan menghiraukan peringatan pemerintah setempat.

Kepala Dinas Satpol PP Sumatera Barat, Zul Aliman mengatakan, penertiban itu telah dilakukan belum lama ini bersama Satpol PP di wilayah Kabupaten Limapuluh Kota. Di waktu penertiban dilakukan, sempat terjadi suasana perlawanan dari pedagang, yang menolak direlokasi.

“Kini tidak ada lagi pedagang di atas fly over. Setelah ini, jika pedagang kembali membuka lapak di atas fly over, maka akan kita tipiring (tindak pidana ringan). Supaya ada efek jera,” ujarnya, Jumat (5/10/2018).

Menurutnya, adanya pedagang di atas fly over tidak hanya menyalahi aturan, tetapi juga turut membuat jalan jadi rusak. Bahkan ada beberapa titik jalan di fly over retak, dan lokasi itu berada persis di tempat lapak pedagang didirikan.

Penyebab rusak jalan, ada kemungkinan kendaraan yang berhenti untuk berbelanja. Kondisi yang demikian lama kelamaan membuat usia fisik jalan menjadi singkat. Padahal, yang namanya jembatan layang, hanyalah untuk menjadi akses lalu lintas, bukanlah untuk memarkirkan kendaraan di atas fly over.

Zul juga memaparkan, sewaktu melakukan penertiban sebelum sebelum Idul Fitri lalu, juga melalui proses yang cukup panjang. Dari awal menolak untuk direlokasi, hingga dilakukan relokasi secara damai.

Setelah berjalan beberapa bulan, ternyata pedagang kembali membuka lapak dagangan ke atas jembatan layang. Hal tersebut mau tidak mau, Satpol PP harus melakukan penertiban, supaya Kelok Sembilan bersih dari pemandangan pedagang kaki lima.

“Pedagang yang kita tertibkan itu hanya beberapa. Ke depan tentunya kita imbau agar para pedagang tidak kembali membuka lapak di atas jembatan layang,” imbaunya.

Sementara, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, mengingatkan seluruh pengguna jalan untuk tidak memarkirkan atau sengaja berhenti di atas jembatan, karena bisa memicu kemacetan dan kecelakaan lalu lintas.

“Masyarakat tak dibenarkan lagi berhenti dan memarkirkan kendaraan di atas jembatan layang. Jembatan itu merupakan jalur penghubung antara Sumatera Barat dan Provinsi Riau, bukan tempat pemberhentian,” tegasnya.

Ia menegaskan, jika ada pengguna jalan yang membandel parkir di atas jembatan layang, maka petugas kepolisian akan memberikan sanksi tilang. Untuk memantau aktivitas di jembatan layang, aparat kepolisian memasang televisi sirkuit tertutup atau CCTV.

“Polisi pasang CCTV. Jajaran Polres akan pantau. Kalau ada yang berhenti di atas jembatan, mereka pasti ditilang,” jelasnya.

Menurutnya, pemindahan dilakukan, karena kehadiran pedagang kaki lima yang memakai bahu jalan jembatan untuk berjualan, berpotensi memicu kemacetan atau kecelakaan lalu lintas. Selain itu juga memancing pengunjung untuk berhenti.

“Jembatan layang Kelok Sembilan, konstruksinya tidak dirancang untuk menahan beban berat kendaraan parkir di atasnya. Kalau hal itu dibiarkan, bisa membuat jembatan ambruk,” ucapnya.

Ia menyebutkan tahun depan, di jalur masuk jembatan Kelok Sembilan, direncanakan dibangun tempat istirahat bagi pengunjung, baik dari arah Limapuluh Kota maupun dari arah Pekanbaru.

Pemerintah berencana membangun menara pandang di area dimaksud, agar pengunjung bisa menikmati keindahan Kelok Sembilan dari ketinggian, dan tidak perlu lagi berhenti di atas jembatan.

Baca Juga
Lihat juga...