Pemasungan ODGJ Cenderung Disebabkan Kurangnya Pemahaman Masyarakat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

166

MAUMERE — Ketidaktahuan membuat masyarakat yang memiliki anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa sering melakukan pemasungan karena ditakutkan akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Masyarakat kurang diberikan sosialisasi terkait penanganan orang yang berpotensi terkena gangguan jiwa sehingga keluarga membiarkannya larut dalam kesendirian,” sebut Dwi Angelina Ester Santoso, staf dinas Sosial kabupaten Sikka, Jumat (12/10/2018).

Dwi Angelina Ester Santoso, psikolog dan staf dinas Sosial kabupaten Sikka yang juga pegiat LSM peduli disabilitas dan ODGJ. Foto : Ebed de Rosary

Ester yang juga selalu mendampingi kaum disabilitas termasuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) mengatakan, akibat pembiaran oleh anggota keluarga, menyebabkan orang yang sedang mengalami stress suatu saat mengalami gangguan jiwa berat.

“Ini yang membuat keluarga mengambil langkah melakukan pemasungan karena ketidaktahuan dan itu terus dilakukan dalam waktu lama tanpa mendapatkan informasi penanganan yang benar,” sebutnya.

Padahal obat untuk ODGJ, kata psikolog ini, disiapkan pemerintah secara gratis sehingga kalau ada, masyarakat segera berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk diambil langkah penanganannya.

“Selama ini kasus yang saya temui khususnya kaum muda, orang mengalami gangguan jiwa karena adanya tekanan. Misalnya saat menempuh pendidikan dia ingin mengambil jurusan sesuai keinginan, namun orang tua memaksakan agar mengambil jurusan lain,” terangnya.

Pilihan orang tuanya tersebut tegas Ester, yang membuat sang anak mengalami stres dan bila dapat mengatasinya, maka tidak akan terjadi gangguan kejiwaan.

“Masalah kedua bisa juga karena faktor ekonomi keluarga, dimana ada suami atau isteri yang tidak dapat melihat kenyataan dari yang ada menjadi tidak ada atau sesuatu yang dia inginkan tidak tercapai,” ujarnya.

Ada juga orang mengalami gangguan jiwa tandas Ester, akibat mempergunakan ilmu-ilmu hitam serta di bangku kuliahnya mengalami tekanan atau di-bully oleh teman-temannya.

“Kita semua memiliki potensi gangguan jiwa tetapi orang akan lebih cepat untuk mengalaminya bila memiliki tingkat emosional yang tidak stabil dan rapuh. Untuk itu bila mengalami stress sebaiknya berkonsultasi dengan psikiater,” imbaunya.

Hingga akhir Januari 2018 dinas Kesehatan kabupaten Sikka menangani 34 ODGJ yang dipasung dan tersebar di 23 wilayah kerja Puskesmas di kabupaten Sikka, paparnya.

Dari 34 pasien ODGJ tersebut, jelas Harlin, sudah bebas pasung tujuh orang dimana lima orang dibebas di 2017 dan dua orang di 2018. Perlu adanya kerja sama dan pemahaman masyarakat untuk bersama mengatasi permasalahan ini.

Baca Juga
Lihat juga...