Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Masjid, Ciptakan Kesejahteraan Umat

Editor: Mahadeva WS

168
Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI), Maman Abdurrahman. Foto : Sri Sugiarti. 

JAKARTA – Ketua Bidang Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI), Maman Abdurrahman menyebut, sejak zaman Rasulullah dan para sahabatnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, yang digunakan untuk memenuhi kehidupan spritual keagamaan.

Masjid juga berfungsi sebagai media pengembangan sosial kemasyarakatan, seperti pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid. Termasuk pemberdayaan di bidang pendidikan. Oleh karena itu, menghidupkan berbagai kegiatan yang mendukung peningkatan perekonomian, bisa menjadi prioritas utama membangun kesejahteraan umat

“Pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid, adalah konsep yang berkaitan dengan upaya peningkatan ekonomi umat Islam. Konsep ini dapat mengentaskan kemiskinan,” jelas Maman kepada Cendana News, di Jakarta, Kamis (18/10/2018).

Salah satu persoalan yang dihadapi oleh umat Islam adalah, masih banyaknya umat yang terpapar kemiskinan. Sementara ketimpangan, serta sulitnya akses ekonomi untuk pengembangan usaha masih dapat dengan mudah ditemui. Dengan kondisi seperti itu, langkah untuk mengembalikan nilai peradaban Islami akan sulit tercapai.

Persoalan ekonomi, kemiskinan dan ketimpangan yang masih tinggi akan menjadi batu penghalang. “Tanpa kemapanan ekonomi, kejayaan Islam sulit diwujudkan untuk  menciptakan kesejahteraan umat Islam,” tandasnya.

Dalam membangun masjid, sebagai kekuatan ekonomi umat, dapat dilakukan dengan menjadikan jamaah masjid sebagai mata rantai ekonomi yang terintegritas. “Jamaah masjid sebagai konsumen, produsen, dan pelaku usaha, dalam kegiatan ekonomi berbasis masjid,” tandasnya.

Salah cara yang dapat dilakukan, membangun toko model bisnis berjamaah. Dengan hadirnya toko, maka sepulangnya salat, jamaah bisa berbelanja. Keuntungan dari toko akan kembali kepada jamaah masjid. “Toko umat itu harus dijaga dan dibesarkan dalam konsep saddu dzariah. Membeli boleh dimana saja yang penting halal. Tapi kalau yang diuntungkan orang lain, itu tidak bagus,” tegas Ketua Pembina PP Persis tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...