Penerapan Bioetanol 5 Persen BBM Perlu Roadmap

179
Mandatori bioetanol membutuhkan dukungan subsidi seperti mandatori biodiesel - Foto: Dok. Dirjen EBTKE

JAKARTA — Kepala Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Agus Haryono, mengatakan perlu suatu peta jalan yang realistis dan konkrit untuk mencapai target pemanfaatan bioetanol sebagai campuran bahan bakar sebesar lima persen atau E5 pada 2020.

Menurutnya perlu membuat semacam network (jaringan) yang betul-betul ada, siapa yang mengerjakan apa itu harus teridentifikasi.

“Dalam menyusun roadmap (peta jalan) kita perlu sedikit realistis apakah target lima persen di 2020 ini betul-betul tercapai, kalau memang yakin tercapai ya harus jelas siapa mengerjakan apa supaya lima persen itu tercapai,” kata dia dalam acara Focus Group Discussion bertajuk Prospek Pengembangan Bioetanol Generasi 2 dalam Mendukung Konversi Bahan Bakar Fosil, Jakarta, Rabu (3/10/2018).

Dia menuturkan penggunaan campuran bioetanol sebesar lima persen ke dalam bahan bakar minyak (BBM) pada 2020 menjadi sulit jika tidak ada kebijakan atau upaya lain yang mendorong percepatan pelaksanaan itu terutama dalam memecahkan masalah harga.

Sementara, rencana untuk mencampur bioetanol sebesar dua persen ke dalam bahan bakar minyak pada 2016 saja tidak tercapai, bahkan sampai 2018 masih nol persen.

“Karena tadi itu harganya belum masuk, Pertamina belum sanggup kalau harganya masih tinggi. Oleh karena itu implementasi ini, roadmap-nya harus benar-benar rinci tidak hanya menyebutkan patokan berapa persen campuran etanol terhadap BBM, tapi juga bagaimana langkah-langkah dalam mencapai target-target bauran etanol dalam BBM ini karena Pertamina sendiri sudah punya kilang untuk pencampuran di beberapa kota,” jelasnya.

LIPI sendiri ditugaskan menjadi pusat unggulan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk bioetanol dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

“Kita mendapatkan tugas menjadi pusat unggulan dalam pengembangan bioetanol generasi dua dari berbagai jenis biomassa, karena itu kita bersinergi dengan lembaga lain,” tuturnya.

Sebelumnya, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM nomor 12 tahun 2015 tentang kewajiban minimal pemanfaatan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak, untuk pemakaian transportasi non-PSO dan industri, seharusnya sudah dilakukan pada April 2015, untuk kadar dua persen.

Namun, hingga jelang tahun 2018 masih baru dimulai uji coba untuk kadar campuran dua persen. Sedangkan kadar bioetanol lima persen harusnya sudah diimplikasikan pada Januari 2016, namun hingga saat ini jumlah pasokan disinyalir menjadi hambatan program ini.

Kemudian target campuran bioetanol tertinggi pada angka 20 persen, berdasar Permen tersebut, ditargetkan terlaksana pada Januari 2025.

Sementara itu, melanjutkan kajian yang telah dilakukan pada tahun 2017, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali akan melakukan uji coba Biodiesel-20 (B-20) pada kereta api dan studi awal penggunaan Biodiesel-30 (B-30) untuk transportasi darat selain kereta api pada tahun 2018. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...