Pengungsi Perumnas Bularoa, Palu, Butuh Obat-obatan

Ilustrasi -Dok: CDN

MAMUJU – Pengungsi gempa dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng) yang berada di Perumnas Bularoa, Kota Palu, Sulteng, membutuhkan obat-obatan. Warga juga membutuhkan bantuan untuk proses evakuasi dari area bencana gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) yang melanda Kota Palu.

“Selimut tenda, dan paling penting obat-obatan yang dibutuhkan pengungsi di perumnas Bularoa Kota Palu Sulteng setelah bencana gempa,” kata relawan kemanusiaan Pemuda Pahala Sulbar, Asmira Jamil, di Lokasi Gempa Palu, Senin (1/10/2018).

Asmira menyebut, Kota Palu saat ini dalam kondisi porak poranda. Oleh karenanya, tim Relawan, dari mana pun yang mau ke Sulteng, diminta untuk membantu kebutuhan pokok pengungsi tersebut. “Yang sangat di butuhkan sekarang adalah tenda, selimut, obat-obatan. Warga di Perumnas Balaroa juga belum terevakuasi dan membutuhkan alat berat untuk mengevakuasi, karena jalan juga retak dan porak poranda,” jelasnya.

Pemerintah setempat pun belum ada yang turun langsung ke lapangan, sehingga bantuan sangat diharapkan. Menurutnya, puluhan relawan kemanusiaan dan tim medis dari Pemuda Pancasila Sulbar, terus melakukan upaya evakuasi korban jiwa. Serta memberikan pertolongan medis kepada korban.

Sementara itu, 26 pasien dari Rumah Sakit umum Daerah (RSUD) Undata, Palu, dititipkan di posko bencana di halaman Polda Sulteng. Hal itu dilakukan karena, kondisi bangunan rumah sakit rusak akibat di guncang gempa 7,4 SR. Jumlah pasien di RSUD Undata total ada 68 orang, selain di posko Mapolda Sulteng, pasien ada juga yang dititipkan ke Rumah Sakit Bhayangkara dan rumah sakit lainnya.

Umumnya pasien ada yang mengalami patah tulang dan memerlukan oksigen. “Memang ada korban yang meninggal, tapi setelah dirujuk dan bermalam di RSUD Undata lalu meninggal di sana,” kata tim medis posko Polda Sulteng, Joko Naslam.

Sementara untuk suplai obat dari RSUD Undata ke posko, ada dua dos yang disiapkan untuk obat setiap pasien. Sementara di posko tersebut, anak-anak juga membutuhkan tempat tidur yang layak, karena kondisi terbuka, rawan kena ISPA dan demam. Tenaga medis yang siaga di posko sebanyak lima orang, satu orang relawan dan juga dua dokter dari RS Antapura.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Trianto Bialangi mengatakan, pihaknya telah mengerahkan tim medis gabungan, untuk membantu korban gempa di Palu. Tim tersebut berangkat sejak Sabtu (29/9/2018) dan telah tiba di Palu untuk memberi layanan kesehatan. Tim itu hasil kerja sama Pemprov Gorontalo, IDI Gorontalo dan RSUP Kandou di Sulawesi Utara.

Tim Pemprov Gorontalo terdiri dari Dinkes Provinsi Gorontalo, RS Aloei Saboe, RS MM Dunda, KKP, PPNI, Dinkes Kabupaten Gorontalo. “Totalnya ada 43 orang tenaga medis, yang terdiri dari dua dokter bedah, bedah umum, dua dokter bedah tulang, satu spesialis penyakit dalam, dan dua dokter umum. Kemudian delapan perawat, dua ahli anestesi, 11 perawat gawat darurat, tiga ahli farmasi, satu ahli gizi, satu tenaga kesehatan masyarakat dan sembilan sopir. (Ant)

Lihat juga...