Pentingnya Pendidikan, Dorong Nuroni Dirikan Pesantren

Editor: Mahadeva WS

172

LAMPUNG – Pendidikan agama, menjadi salah satu dasar menciptakan generasi bangsa. Hal tersebut menjadi modal bagi Nuroni (33), warga Desa Padan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, untuk mendirikan pesantren Al-Fadani, di kaki Gunung Rajabasa.

Nuroni menyebut, keinginan mendirikan pesantren berangkat dari pengalaman pribadi, saat menjadi santri di daerah Serang, Banten. Menjadi seorang santri yang hidup penuh dengan keterbatasan biaya untuk sekolah. Belajar di pesantren Tajun Riyadul Awamil di Serang, Banten selepas lulus SD, membuat Nuroni merasakan pentingnya dasar pendidikan agama. Selama enam tahun lebih nyantri di luar daerah, Nuroni menyebut, pendidikan di pedesaan kerap terkendala biaya.

Siswa harus putus sekolah lebih dikarenakan keterbatasan biaya. Meski demikian, Dia menyebut, dasar pendidikan agama tidak bisa diabaikan hanya karena tidak ada biaya. Hal itulah yang mendorongnya dengan mantap mendirikan pesantren Al-Fadani, yang berarti jalan menuju ketentraman dan kebahagiaan.

Nuroni, pendiri pesantren Al-Fadani,Desa Padan,Kecamatan Penengahan,Lampung Selatan [Foto: Henk Widi]
“Sekembalinya dari pesantren di Pulau Jawa, saya tergerak untuk mendirikan pesantren, meski awalnya menyewa rumah seorang warga, selanjutnya diberi hibah tanah oleh warga,” terang Nuroni saat ditemui Cendana News, Kamis (4/10/2018).

Nuroni menyebut, dasar-dasar ilmu agama bagi generasi muda adalah pengetahuan yang cukup penting. Niat mendirikan pesantren disebutnya, berawal dari kesadaran akan pentingnya mendidik anak anak di desanya. Meski memiliki santri tujuh orang, yang tinggal menetap di pesantren tersebut, Nuroni memastikan ada lebih dari 20 orang anak yang belajar di pesantren setiap sore.

Para santri yang tinggal di rumah masing-masing, merupakan anak warga sekitar yang juga belajar di sekolah umum. Menggunakan dana mandiri, dibantu oleh sejumlah donatur, Nuroni membangun sejumlah Kobong (pondok) atau asrama, bagi para santri. Saat ini ada satu unit kobong yang dibangun di lahan seluas 15×30 meter, dan lahan lain digunakan untuk perumahan serta aula untuk kegiatan belajar.

Aula belajar kerap digunakan untuk pengajian bagi warga umum di wilayah Desa Padan dan Desa Babulang, yang berada di sekitar pondok pesantren Al-Fadani. Santri Al-Fadani diberi dasar-dasar ilmu cara membaca bahasa Arab, Tajwid, Hadits, Fikih serta sejarah Islam.

Selain anak-anak di sekitar desa Padan, sebagian siswa berasal dari wilayah Tanjungkarang serta sejumlah wilayah lain. Siswa dari luar daerah ini menetap di kobong yang disediakan. Materi harian sebagai santri diantaranya, di pagi diberi kesempatan belajar ngaji tajwid, pengajian fiqih dan hafalan Alquran. “Sebagai pesantren yang ingin memperkenalkan sekaligus memperdalam ilmu agama Islam, siswa diberi bekal sembari melakukan kegiatan bertani serta memelihara ikan,” beber Nuroni.

Siswa yang tinggal di kobong, merupakan siswa yang sudah tidak bersekolah di sekolah umum. Meski demikian, siswa yang belajar di pesantren tersebut merupakan siswa yang bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Hidayah Padan serta Madrasah Tsanawiyah (MTS) Al Furqon, yang ada di Desa Rawi.

Waktu belajar di pesantren, disesuaikan dengan waktu yang dimiliki para siswa. Sejumlah siswa yang saat ini berjumlah sekitar tujuh orang merupakan siswa putus sekolah yang tinggal di kobong untuk fokus belajar ilmu agama.

Di pondok pesantren tersebut, pengajian umum bagi bapak-bapak digelar setiap hari Senin malam, dengan materi pengajian dan Manakib. Sementara bagi para ibu-ibu, pengajian digelar setiap Sabtu siang, dipimpin oleh sang isteri. Semua pelajaran di pesantren Al-Fadani tidak dipungut biaya, bahkan Dia menyebut kepedulian masyarakat akan keberadaan santri diperlihatkan dengan memberikan hibah serta wakaf tanah. “Wakaf tanah kami gunakan untuk membangun musala, sementara hibah tanah digunakan untuk membangun kobong atau pondok belajar para santri,” ungkap Nuroni.

Meski fasilitas belahjar terbatas, dengan papan belajar seadanya, buku-buku sejarah yang terbatas, Dirinya tetap optimis, pesantren tersebut akan bisa berkembang. Selain mempelajari ilmu agama, para siswa juga dibekali dengan ilmu tentang wirausaha, meski hanya sebatas memelihara ikan dan bertani.

Romi (24), salah satu pemuda putus sekolah asal Tanjungkarang menyebut, belajar di pesantren Al-Fadani untuk mendalami ilmu agama. Sejak lulus SMP, Dia membutuhkan pelajaran khusus tata cara membaca Alquran yang baik, serta sejarah perkembangan Islam. Belajar agama di pesantren Al-Fadani dapat dilakukan lebih fokus, karena setiap hari diberi waktu khusus untuk menunjukan hafalan Alquran. “Saya ingin melanjutkan sekolah tapi tidak memiliki biaya, sehingga pilihan belajar di pesantren bisa membuat saya tetap bisa belajar ilmu agama,” tandas Romi.

Baca Juga
Lihat juga...