Permasalahan Sampah Ciderai Festival Nubun Tawa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

177

LARANTUKA — Sampah menjadi permasalahan yang masih dianggap sepele dalam setiap pagelaran pentas seni, festival bahkan konser musik di NTT. 

“Saat festival Nubun Tawa di Lewolema kemarin, saat pembukaan di lapangan saja tidak ada tempat sampah yang disiapkan panitia agar penonton bisa membuang sampah pada tempatnya,” sesal Mariatmo Lein, salah seorang pencinta lingkungan, Rabu (10/10/2018).

Mariatmo Lein anggota komunitas Simpa Sio, warga kota Larantuka kabupaten Flores Timur yang peduli lingkungan. Foto : Ebed de Rosary

Seperti halnya saat kegiatan dan pentas seni budaya di bukit Kenere desa Bantala, paginya saat peserta pulang sampah berserakan di puncak bukit.

“Kejadian ini selalu terjadi dalam setiap pagelaran seni budaya dan festival di Flores Timur bahkan di NTT, dimana panitia sendiri pun tidak ada kepedualian. Seksi kebersihan tidak berperan, bahkan tempat sampah saja tidak disiapkan,” sesalnya.

Bahkan panitia, tandas Atmo, tidak memberikan imbaun kepada penonton agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama botol-botol plastik bekas air mineral.

“Saat penutupan festival Nubun Tawa di pantai desa Ile Padung saja besok paginya sampah memenuhi pantai ini, sehingga masyarakat harus dikerahkan untuk membersihkannya,” tuturnya.

Atmo mengimbau agar pemerintah terutama panitia lebih peduli dan bersama penonton menjaga kebersihan tempat kegiatan.

“Jangan sampai wisatawan malas datang ke sebuah obyek wisata karena tempat tersebut dipenuhi sampah. Apalagi wisatawan asing sangat alergi soal sampah,” tegasnya.

Sisilias Barek, salah seorang warga juga menyesalkan panitia yang tidak menyediakan tempat sampah.

“Kalau kita mau wisatawan datang tentu kita harus memperhatikan kebersihan lingkungan terutama di sekitar destinasi wisata. Ini yang belum disadari pemerintah dan masyarakat sehingga perlu diedukasi terus menerus,” tuturnya.

Kalau sampah dedaunan tentu tidak jadi soal, kata Sisil sapannya, tetapi kalau plastik, bagi wisatawan asing tidak dapat ditolerir, sehingga banyak tempat wisata di Flotim perlu disiapkan tempat sampah.

“Dapatmenggunakan karung-karung bekas sebagai tempat sampah dan biayanya murah. Yang penting ada kemauan terlebih dahulu agar sebuah destinasi wisata bebas dari sampah,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...