Permintaan Kopi Luwak Sindoro-Sumbing Mulai Menggeliat Kembali

182
Petani menjemur kopi, ilustrasi -Dok: CDN

TEMANGGUNG – Permintaan kopi luwak Sindoro-Sumbing dari mancanegara, khususnya di kawasan Asia Timur, dalam beberapa bulan terakhir kembali menggeliat.

“Permintaan dari kawasan Asia Timur ada peningkatan, sedangkan permintaan dari Eropa cenderung sepi, setelah kopi luwak booming di 2013,” kata Pengusaha kopi Sindoro Sumbing, Supratikto, Selasa (2/10/2018).

Di September 2018, Supratikno mendapat pesanan kopi luwak dari pengusaha di Taiwan sebanyak 10 kilogram. Kopi tersebut dikirim dalam tiga tahap. “Pengusaha tersebut dulu pernah membeli kopi luwak dari kami, tetapi kemudian berhenti beberapa tahun, dan kini kembali ada permintaan lagi,” jelasnya.

Supratikno menyebut, permintaan dari luar negeri sebenarnya cukup banyak. Namun pemesanan biasanya masuk melalui pihak ketiga. Harga kopi luwak saat ini mencapao Rp1 juta perkilogram.

Sementara itu, untuk permintaan dari dalam negeri, tercatat masih cukup relatif stabil. Dari dalam negeri pesanan biasa datang dari Yogyakarta dan Semarang. “Setiap bulan, kami ada permintaan dari dalam negeri, sekitar dua hingga tiga kilogram dari beberapa hotel di Yogyakarta, Semarang, dan Temanggung,” katanya.

Dari empat ekor luwak peliharaannya, masing-masing luwak dapat menghasilkan kopi luwak 60 gram per hari. Guna menjaga kualitas kopi luwak, kuncinya ada pada pemeliharaan luwak. “Jangan sampai luwak itu kelaparan, sehingga bisa memilih kopi yang benar-benar masak dan akan menghasilkan kopi yang bagus. Kalau sampai kelaparan kopi hijau pun dimakannya,” katanya.

Agar luwak bisa leluasa memilih kopi seperti di alam bebas, maka setiap hari disediakan dua kilogram buah kopi. Rata-rata yang dimakan sekira 0,5 kilogram, dan akan menghasilkan 60 gram green bean. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...