Perubahan Iklim Berdampak Pola Tanam Petani Lamsel

Editor: Makmun Hidayat

134

LAMPUNG — Perubahan iklim ditandai dengan kemarau panjang di wilayah Lampung Selatan berdampak signifikan bagi sejumlah lahan pertanian. Kendati begitu, sejumlah lahan masih dapat teraliri air berasal dari Gunung Rajabasa.

Ngadiman (60) salah satu petani di Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan menyebut keberadaan Gunung Rajabasa masih bisa memberi pasokan air yang cukup bagi sejumlah lahan pertanian. Pasalnya Sungai Way Muloh, Sungai Way Asahan, Sungai Way Pisang masih bisa digunakan sebagai sumber mata air untuk lahan pertanian.

Ngadiman, salah satu petani di Lampung Selatan berada di lahan yang tidak ditanami selama kemarau – Foto: Henk Widi

Sejumlah wilayah yang masih teraliri air sungai diakui Ngadiman merupakan kawasan yang berada di dekat bantaran sungai. Kondisi tersebut tidak lepas dari upaya masyarakat di wilayah Gunung Rajabasa yang menjaga kelestarian hutan lindung dengan tidak menebang pohon.

Selain itu kesadaran masyarakat untuk menanam pohon peresap air juga ikut berdampak bagi ketersediaan air meski kemarau membuat sejumlah lahan pertanian kering.

“Beberapa hamparan lahan pertanian memang sudah kering akibat debit sungai menyusut, namun sebagian lahan masih bisa digarap dengan memanfaatkan air sungai yang dibendung lalu disedot dengan mesin alkon,” terang Ngadiman salah satu petani penggarap lahan di Penengahan saat dikonfirmasi Cendana News, Rabu (10/10/2018).

Ngadiman menyebut penanaman pohon menjadi salah satu cara untuk meminimalisir dampak perubahan iklim yang terjadi. Sejumlah warga di wilayah Banjarmasin misalnya, sengaja melestarikan sejumlah tanaman perkebunan yang masih bisa bertahan saat kemarau sekaligus menjadi pohon peresap air. Beberapa tanaman tersebut diantaranya berfungsi sebagai peneduh sehingga bisa diterapkan pola tanam tumpang sari.

Sistem tersebut dilakukan dengan menanam pohon sengon, medang, karet yang bisa ditumpangsarikan dengan tanaman tomat, cabai rawit, cabai Jawa. Selain sebagai pohon peneduh, sejumlah pohon yang ditanam diakuinya berfungsi sebagai penahan longsor terutama di tepian Sungai Way Pisang, Sungai Way Asahan. Sejumlah pohon yang ditanam ketika musim kemarau diakui Ngadiman bahkan bisa bertahan dalam kondisi panas tanpa meranggas.

“Beberapa jenis pohon yang saya tanam selama kemarau memang menggugurkan daunnya namun ada sejumlah pohon yang masih bertahan meski kemarau melanda,” beber Ngadiman.

Pada musim kemarau Ngadiman menyebut pola penanaman komoditas pertanian yang dilakukan oleh petani juga berubah. Kondisi tersebut berkaitan dengan kebutuhan air yang harus disediakan untuk menanam komoditas pertanian.

Saat musim hujan (rendengan) sejumlah petani disebut Ngadiman memilih menanam padi sementara saat musim kemarau petani memilih menanam komoditas hortikultura yang membutuhkan air terbatas.

Pada musim kemarau, Ngadiman menyebut ia bahkan harus menunda menanam jagung. Ia menyebut baru akan melakukan penanaman jagung saat hujan mulai turun.

Sejumlah tanaman yang ditanam pada sela sela pohon diakuinya masih bisa bertahan kareana ada tanaman peneduh. Pemilik lahan yang berada di dekat aliran sungai disebut Ngadiman masih beruntung karena masih bisa menggunakan air sungai untuk menyiram tanaman.

Meski demikian sejumlah sungai selama kemarau mengalami pendangkalan dan ditumbuhi rumput akibat aliran air sungai yang berkurang.

Perubahan pola penanaman dampak kemarau juga diakui oleh Robiin (33) salah satu petani di Bakauheni. Sejumlah pohon di lereng perbukitan Bakauheni diakuinya mulai meranggas sehingga harus ditebang.

Robiin, menanam labu madu memanfaatkan musim kemarau dengan kebutuhan air terbatas – Foto: Henk Widi

Robiin menggunakan lahan miliknya untuk budidaya labu madu selama musim kemarau sementara saat musim hujan lahan tersebut kerap digunakan untuk penanaman melon. Sejumlah petani pemilik sawah di wilayah Bakauheni diakui Robiin bahkan membiarkan lahan terbengkelai tanpa ditanami.

“Lahan yang tidak ditanami selama kemarau justru cukup bagus karena telah diistirahatkan dan memulihkan kondisi tanah,” papar Robiin.

Sejumlah lahan yang dibiarkan tidak digarap selama kemarau dimanfaatkan oleh Robiin dengan menaburkan kotoran ternak sapi atau pupuk kandang. Penaburan pupuk kandang selama kemarau disebutnya berfungsi menambah unsur hara pada tanah yang akan ditanami saat musim hujan tiba.

Saat kemarau sejumlah petani yang masih bisa melakukan pemanenan padi dan jagung disebut Robiin sengaja tidak membakar limbah pertanian berupa jerami dan tebon jagung untuk mencegah polusi.

Petani disebut Robiin harus bisa mengatur pola tanam menyesuaikan perubahan iklim. Ia juga masih mempertahankan tanaman bambu di sekitar aliran sungai Gubuk Seng sebagai pencegah longsor dan memiliki fungsi bisa digunakan sebagai penopang tanaman labu madu yang ditanamnya. Pemilihan waktu tepat dalam pola tanam selama kemarau diakuinya sekaligus meminimalisir kerugian.

Baca Juga
Lihat juga...