Pesan Kehati-hatian dalam Film The Origin of Santet

Editor: Makmun Hidayat

374

JAKARTA — Rebecca M Bath termasuk penulis skenario andal yang produktif berkarya, baik sinetron, film televisi (ftv), web series untuk tayangan di youtube hingga film layar lebar. Ia konsisten dalam dunia kreatif kepenulisan yang menjadi passion-nya.

Skenario film yang ditulisnya antara lain, Jejak Darah (2010), Gevangenis (2013), Ghost (2018) dan kini film terbaru produksi Skylar Pictures dengan arahan sutradara Helfi Kardit berjudul “The Origin of Santet”.

“Saya memang dari dulu suka dengan film horor dan dari dulu juga saya ngefans sama Helfi Kardit dan ingin kerjasama dengan dia, sampai akhirnya dipanggil untuk menulis skenario film The Origin of Santet ini,“ kata Rebecca M Bath kepada Cendana News seusai press screening dan press conference film The Origin of Santet di Kemang Village XXI, Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (2/10/2018).

Rebecca membeberkan dirinya suka dengan konsep film The Origin of Santet ini yang tidak terlalu menjual setannya yang muncul terus selama film berlangsung.

“Saya suka dengan konsepnya dan kita banyak brainstorm dengan beberapa kali banyak ganti cerita dan segala macam sampai jadilah film ini dengan cerita yang simple tapi tetap bisa dibikin tentang santet,“ bebernya.

Menurut Rebecca, film horor biasanya tentang rumah berhantu atau keluarga yang kesasar kemana-mana. “Tapi film horor yang saya tulis ini membutuhkan banyak riset,“ ungkapnya.

Untuk menulis skenario film The Origin of Santet, Rebecca mengaku harus konsultasi dengan orang pinter yang bener dan tahu tentang santet, yang mengerti ritual dan mantra-mantranya.

“Saya bertemu dengan orang pinter sampai tiga-empat kali dan ketika naskah skenarionya sudah jadi masih konsultasi dengan dia yang memberitahu dan mengarahkan ini-itu dan segala macam tentang santet,“ paparnya.

Dalam film ini, kata Rebecca, tidak terlalu banyak menunjukkan klenik-kleniknya jadi ceritanya tidak harus detail sekali. “Yang penting ada ritual dan mantra-mantranya,“ ujarnya.

Rebecca banyak berdiskusi dengan sutradara Helfi Kardit mengenai tampilan dan kemasan film ini yang tidak mau seperti film-film horor tahun 80-an.

“Kalau film-film horor tahun 80-an kan ada keris atau kemenyan atau apa, karena dalam film ini kita ingin gambar lebih eksklusif yang tidak terlalu menunjukkan santet,“ terangnya.

Dalam menggarap skenario, Rebecca biasanya melakukan meeting hanya beberapa kali dan dengan draf skenario juga hanya beberapa kali, tapi khusus film ini ia harus mempersiapkan sematang mungkin.

“Kita hampir tiap hari meeting untuk mematangkan film ini sampai mendetail sekali per dialog dan adegan-adegannya,“ ujarnya.

Rebecca senang melihat perkembangan film horor yang beberapa tahun sempat booming, hanya saja film horor yang esek-esek dan menjual kemolekan tubuh para pemainnya yang seksi-seksi.

“Padahal film horor tidak harus seperti itu, karena film ini tidak menjual kemolekan dan mengandalkan cerita yang kuat tentang santet,“ simpulnya.

Menurut Rebecca, pesan moral yang ingin disampaikan dalam film ini adalah hati-hati jangan menyakiti orang. “Ketika melakukan suatu kejahatan, kita tidak bisa mengejar apa-apa, selain hanya mendapatkan akibat dan dampak buruk dari kejahatan itu,” tegasnya.

Rebecca berharap film ini mendapat sambutan yang baik dari masyarakat dengan raihan penonton yang banyak. “Kalau film ini meraih penonton 1 juta penonton, maka kita akan menyumbang 1 miliar untuk bencana Lombok, Palu, Donggala,“ tandasnya.

Baca Juga
Lihat juga...