Pesan Soeharto pada Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

Editor: Satmoko Budi Santoso

1.255
JAKARTA – Setiap tanggal 1 Oktober, diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Hari nasional ini ditetapkan sejak 17 September 1966, oleh HM Soeharto, yang pada waktu itu masih menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Jenderal Soeharto, melalui SK Nomor 977/9/1966.
Dalam SK ini, Pak Harto menegaskan, bahwa upacara pada setiap tanggal 1 Oktober harus diikuti oleh seluruh slagorde Angkatan Darat (AD), dengan mengikutsertakan angkatan-angkatan lain dan massa rakyat.
Dasar pertimbangan dikeluarkannya SK tersebut adalah perjuangan bangsa Indonesia sejak revolusi Indonesia 17 Agustus 1945 hingga meletusnya G 30 S PKI, telah berkali-kali mengalami cobaan, demikian dikutip dari laman soeharto.co.
Lalu, pada 1 Oktober 1966, menjadi hari pertama kalinya Hari Kesaktian Pancasila diperingati oleh seluruh rakyat Indonesia. Peringatan Hari Kesaktian Pancasila ini bertujuan untuk membulatkan tekad dalam meneruskan perjuangan mengawal, mengamankan, dan mempertahankan Pancasila.
Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto serta Wapres dan Ibu Karlinah Umar Wirahadikusumah selesai upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila melakukan peninjauan di Lubang Buaya, Jakarta Timur, 1 Oktober 1987. (Foto Istimewa/Dok www.soeharto.co)
Di Jakarta, peringatan Hari Kesaktian Pancasila berlangsung di Markas Kostrad, antara lain diikuti oleh KAMI, KAPPI dan KAPI dari kontingen Jakarta, Bogor dan Bandung. Usai upacara, para mahasiswa, pelajar dan pemuda, mengadakan show of force keliling kota, dengan membawa spanduk yang menuntut pertanggunganjawab Bung Karno atas keterlibatannya dalam peristiwa pengkhianatan G 30 S PKI.
Selama masa pemerintahan Orde Baru, upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Istana Negara, Presiden Soeharto selalu bertindak sebagai Inspektur Upacara. Banyak pesan yang disampaikan Presiden Soeharto, yang salah satunya adalah pesan tentang hidup matinya Pancasila.
Dalam peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang disiarkan secara nasional oleh TVRI, yang pada waktu itu merupakan televisi satu-satunya yang dimiliki Indonesia, Jenderal Soeharto menyerukan, agar bangsa Indonesia tetap mawas diri, melakukan koreksi total di bidang ideologi, politik, ketatanegaraan, ekonomi, dan sikap mental.
Mengenang kembali peristiwa pengkhianatan PKI, Presiden Soeharto mengatakan, bahwa persoalan pokok yang terjadi pada 1 Oktober 1965 itu sebenarnya adalah soal hidup-matinya Pancasila.
“Pada waktu itu, telah berhadapan dua kekuatan yang bertentangan, yaitu Pancasila dan sebagian besar rakyat dengan PKI beserta pendukung-pendukungnya. Oleh karena kesaktian Pancasila itulah, maka tragedi nasional yang terjadi pada 1 Oktober 1965, dengan cepat disusul oleh kemenangan nasional, di mana kekuatan-­kekuatan rakyat dan Pancasila bersatu padu,“ tegas Presiden Soeharto.
Kemudian, peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 1973 di Lubang Buaya, Jakarta Timur, Presiden Soeharto menjelaskan tujuan peringatan untuk membulatkan tekad, guna meneruskan perjuangan mengawal, mengamalkan, dan mengamankan Pancasila secara gigih sesuai dengan naluri amal bakti para Pahlawan Revolusi.
“Tujuan peringatan itu didasarkan pada dua prinsip utama, yaitu yang pertama adalah memelihara terus-menerus kewaspadaan dan daya juang terhadap ancaman-ancaman pengkhianatan dua kali terhadap negara, bangsa, dan Pancasila. Kedua, lebih mempertebal dan menerapkan kebenaran dan keunggulan Pancasila sebagai way of life rakyat Indonesia, dengan memberikan isi yang sebesar-besarnya, setepat-tepatnya, semurni-murninya sesuai dengan jiwa semangat di dalam memenangkan Orde Baru,“ papar Presiden Soeharto.
Masih dari sumber yang sama, dalam Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1976, Presiden Soeharto menyetujui dibangunnya Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek) di Tangerang, yang tercantum dalam Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1976.
Waktu itu, Presiden Soeharto bertindak sebagai Inspektur Upacara pada acara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya, Jakarta Timur, mulai pukul 08.00 pagi. Selain Presiden Soeharto, hadir pula Ibu Negara Tien Soeharto, Wakil Presiden Hamengku Buwono IX, dan para menteri serta pejabat tinggi negara lainnya.
Seusai acara peringatan, Presiden dan Ibu Negara beserta pejabat dan undangan lainnya meninjau Monumen Pancasila Sakti, dan kompleks Lubang Buaya, tempat para Pahlawan Revolusi mengalami siksaan PKI.
Ada pun, peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 1975, Presiden Soeharto menyerahkan zakat, 19 ton beras dan uang Rp237.500 kepada Pemerintah DKI Jakarta, yang kemudian menyerahkannya kepada Wali Kota Jakarta Barat, yang selanjutnya disalurkan lagi ke lima kecamatan di Jakarta Barat.
Presiden Soeharto juga menyerahkan zakat sebanyak 50 ton beras kepada kaum fakir miskin di Jawa Barat. Beras zakat tersebut selanjutnya disalurkan kepada yang berhak menerimanya di Bogor, Cirebon, dan Kotamadya Bandung.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 1975 ini, dalam suatu upacara khidmat di Lubang Buaya, Jakarta Timur, dipimpin sendiri oleh Presiden Soeharto. Ada pun, rangkaian acaranya, menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Setelah itu, Ketua DPR/MPR, Idham Chalid, membacakan teks Pancasila, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sjarif Thajeb, membacakan Pembukaan UUD 1945. Penandatanganan ikrar setia kepada Pancasila dan Negara RI dilakukan oleh Wakil Ketua DPR/MPR, Domo Pranoto. Upacara yang dihadiri oleh lebih kurang 1.400 undangan ini, diakhiri dengan pembacaan doa, dipimpin oleh Menteri Agama, Mukti Ali.
Selesai acara resmi tersebut, Presiden Soeharto dan Ibu Negara Tien Soeharto meninjau kompleks Monumen Pancasila Sakti yang dibangun sebagai peringatan akan kekejaman PKI pada 30 September 1965. Dari monumen ini, Kepala Negara meninjau Arena Mandala Sasmita Loka Lubang Buaya, yaitu relief tujuh pahlawan revolusi.
Baca Juga
Lihat juga...