Petani di Kuripan Buka Sawah Baru Secara Mandiri

Editor: Mahadeva WS

209

LAMPUNG – Sejumlah petani padi di Desa Kuripan, Ruang Tengah, Pasuruan Kecamatan Penengahan, melakukan pencetakan sawah baru. Hal itu sebagai dampak dari proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Satim (40), salah satu warga Dusun Cibanjar, Desa Ruang Tengah menyebut, proyek JTTS membuat jumlah lahan yang semula berupa lahan perkebunan produktif, dirubah menjadi sawah baru. Pencetakan sawah oleh petani tersebut mencapai luas lebih dari 10 hektare dan tersebar di sejumlah titik.

Perluasan sawah dilakukan setelah kawasan perbukitan yang ditumbuhi tanaman kayu tidak produktif, diratakan. Di kawasan tersebut juga dilakukan pembuatan saluran irigasi. Perluasan lahan sawah di Dusun Buah Kayu, diperkirakan mencapai lebih dari enam hektare dan sebagian berada di wilayah Desa Kelaten. “Kebutuhan tanah timbunan jalan tol membuat lahan warga bisa diolah menjadi lahan pertanian sawah, sehingga luasan sawah bertambah,” ungkap Satim kepada Cendana News, Senin (1/10/2018).

Pencetakan sawah secara mandiri dilakukan dengan memanfaatkan potensi saluran irigasi alami dari Gunung Rajabasa ke sungai Way Asahan. Satim yang juga merupakan anggota Kelompok Tani (Poktan) Mekar Makmur menyebut, pencetakan sawah, akses jalan, jalur irigasi dilakukan secara gotong royong.

Perluasan lahan sawah tersebut menjadi upaya peningkatan produktivitas padi sekaligus dampak proyek JTTS. Sawah baru tersebut, bisa dimanfaatkan untuk bertani dua bulan ke depan. Lahan sawah yang dibuat, masih dalam tahap pengolahan tanah, pembuatan saluran irigasi untuk kelancaran proses pengairan.

Sebagian lahan sawah yang sudah ditanami merupakan lahan yang sudah dicetak beberapa tahun sebelumnya. Infrastruktur saluran irigasi yang memadai dengan pasokan air yang lancar, membuat Satim memilih menanam padi Ciherang.

Ngadul,salah satu petani pemilik lahan yang melakukan proses pencetakan sawah baru dampak proyek JTTS [Foto: Henk Widi]
Ngadul (50), pemilik lahan lainnya menyebut, pencetakan lahan sawah baru untuk menggantikan lahan sawah yang terimbas proyek JTTS. Lahan tidak produktif yang dipenuhi batuan besar telah diratakan, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pencetakan sawah baru.

Luas lahan baru yang dimiliki para petani beragam, mulai dari seperempat hektare hingga satu hektare. Pencetakan sawah baru dengan infrastruktur saluran irigasi mendorong terbentuknya Perkumpulan Petani Pengguna Air (P3A), untuk pengaturan pendistribuasian air.

Budi (30), salah satu pemilik alat dan mesin pertanian jenis traktor menyebut, perluasan lahan baru menjadi salah satu sisi positif proyek JTTS. Pembangunan JTTS di wilayah Lampung, terutama di stationing (STA) 18 dan STA 19, di Desa Tetaan, Kelaten, Pasuruan, Kuripan, Ruang Tengah, mendorong petani memproses pencetakan sawah baru.

Wilayah dengan kontur tanah berbatu besar, telah diratakan dengan alat berat. “Penerapan luas tambah tanam dan optimalisasi Alsintan bisa dilakukan sekaligus terbantu proyek JTTS meski sebagian lahan berkurang akibat proyek jalan bebas hambatan tersebut,” beber Budi.

Pengoptimalan lahan baru untuk areal persawahan akan dilanjutkan dengan pembenahan infrastuktur jalan pertanian. Selama ini, petani di wilayah tersebut kesulitan untuk mendistribusikan hasil pertanian padi. Lahan sawah baru yang sudah dicetak akan dilengkapi akses jalan yang baik dan permanen.

Baca Juga
Lihat juga...