Petani Garam Tradisional di Sikka Kesulitan Beli Kayu Bakar

Editor: Satmoko Budi Santoso

154

MAUMERE – Menggantungkan hidup pada pekerjaan memasak garam sudah dilakoni warga kampung Garam dan kampung Nangalekong, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, sejak puluhan tahun silam.

“Saat ini sudah banyak petani garam yang beralih profesi menjadi penjual garam. Harga kayu bakar untuk memasak garam sangat mahal sehingga sudah banyak petani yang tidak memasak garam lagi,” sebut Selestina Maria, mantan petani garam, Senin (1/10/2018).

Selestina akui, dirinya sejak tahun 2011 tidak memasak garam lagi, sejak suaminya meninggal karena tidak ada orang yang mencari kayu bakar. Sementara anak-anaknya pun tidak ada yang membantunya memasak garam.

Petrus Blasius, Ketua RT 013 RW 04, Kelurahan Kota Uneng yang ditemui di rumahnya menyebutkan, kampung Nangalekong dihuni 35 kepala keluarga (KK) dengan jumlah jiwa sebanyak 167 jiwa.

Petrus Blasius, Ketua RT 12 RW 4 Kelurahan Kota Uneng yang juga menjadi petani garam. Foto : Ebed de Rosary

“Dari jumlah tersebut, dulu semuanya memasak garam. Tetapi saat ini paling hanya 8 keluarga saja yang memasak garam termasuk orang tua saya. Yang jadi petani garam pun hanya kaum perempuan saja,” tuturnya.

Selestina Maria mengakui, dirinya sejak tahun 1970-an memasak garam, tetapi sejak tahun 2011 tidak memasak garam lagi. Sebab harga satu truk tempurung kelapa mencapai Rp300 ribu sampai Rp350 ribu, belum lagi biaya sewa truk Rp200 ribu.

“Dulu kami biasa mencari kayu bakar di pantai, di hutan bakau atau beli kayu bakar. Tapi, sekarang kayu sudah susah dan mahal. Kami beli tempurung kelapa saja, sebab harganya lebih murah,“ ungkapnya.

Mahalnya harga kayu, tambah Selestina, membuat dirinya kadang tidak rutin memasak garam. Setiap hari tergantung kalau ada uang untuk membeli kulit kelapa sebagai pengganti kayu bakar yang harganya lebih murah.

“Dulu kulit kelapa bekas membuat kopra tidak dijual oleh pemiliknya. Kami hanya memberikan uang seadanya saja. Tapi sekarang sudah dijual dan harganya mahal untuk ukuran kami, petani garam tradisional dengan pendapatan seadanya,” paparnya.

Garam yang dimasak para petani garam tradisional ini, sebut Selestina, dijual sendiri ke pasar atau diborong penjual. 50 kilo garam halus dijual seharga Rp150 ribu dan keuntungan yang didapat sangat sedikit sekali.

“Keuntungan ini jika dilihat memang tidak seberapa besar untuk kerja dari jam 5 Subuh hingga jam 4 sampai 5 sore. Namun lumayan untuk membiayai kehidupan kami. Kalau tidak masak garam kami mau kerja apa lagi,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...