Petani Kopi Asli Bondowoso Enggan Ekspor Kopi

Editor: Satmoko Budi Santoso

183

BONDOWOSO – Harga kopi di tingkat petani mengalami lonjakan yang cukup signifikan sejak Kabupaten Bondowoso dideklarasikan sebagai Republik Kopi. Harga kopi di tingkat petani yang semula berkisar Rp30-35 ribu/ kg untuk jenis arabika, kini naik dalam kisaran Rp80-150 ribu/kg bergantung pada kualitas.

Menurut salah satu petani kopi Bondowoso yang sekaligus owner Kopi Bulan Madu, Mukhlis, harga tersebut masih dalam bentuk mentah. Beda lagi harganya jika sudah dalam bentuk roasted bean atau ketika sudah jadi bubuk, harganya kembali naik menjadi Rp100-250 ribu/kg.

“Kini petani sudah tidak mau lagi melakukan ekspor. Karena harganya lebih mahal dijual dalam bentuk jadi, dan petani juga telah mampu mengolahnya sendiri,” kata Mukhlis kepada Cendana News, Senin (1/10/2018).

Hingga saat ini, petani terus berupaya meningkatkan kualitas. Di bawah pengawasan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslit Koka) Jember dan Bank Indonesia perwakilan Jember, mereka mendapat bimbingan dan pelatihan, terkait pengolahan kopi secara mandiri, mulai dari perawatan tanaman, panen, serta pengolahan hasil panen sampai pemasaran.

“Para petani kopi di Bondowoso kini sudah memiliki 40 kelompok tani yang terus berupaya meningkatkan kualitas hasil panen. Mereka juga mengikuti seluruh SOP yang diberikan oleh Puslit,” ujarnya.

Petani kopi asli dan owner Kopi Bulan Madu Bondowoso, Mukhlis. Foto: Kusbandono

Lebih lanjut Mukhlis juga mengungkapkan, kelompok-kelompok tani ini juga dibantu alat pengolahan kopi dan dilatih cara mulai menanam, memetik, dan seterusnya. Kemudian di tingkat hilir juga tumbuh ratusan UKM (usaha kecil menengah) yang siap menjual hasil pertanian kopi.

“Harga di UKM pun, makin melambung dalam kisaran Rp60-100/200 gram,” tambahnya.

Di sisi lain, menurut Mukhlis, Pemerintah Kabupaten Bondowoso melalui Dinas Pertanian maupun Disperindag juga terus mendorong terciptanya petani yang berkualitas. Mereka diberikan pembinaan dan pelatihan. Termasuk juga dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).

“Petani juga mendapat bantuan alat usaha dan pelatihan, penyuluhan dalam meningkatkan SDM. Kemasan dan lainnya juga selalu digalakkan. Kini petani sudah tidak mau lagi melakukan ekspor,” ungkapnya.

Petani kopi asli Bondowoso banyak tersebar di Kecamatan Sumberwringin dan Sukosari, yang merupakan daerah penghasil kopi rakyat.

“Bondowoso juga sudah dapat sertifikat izin geografis. Sertifikat kawasan, dua kawasan itu, gunung Ijen dan Raung sebagai salah satu daerah penghasil kopi terbaik,” katanya.

Antusiasme masyarakat untuk menikmati kopi asli Bondowoso sangat luar biasa. Bahkan di Bondowoso sekarang, telah ada daerah kampung kopi di jalan Pelita Kelurahan Tamansari. Seluruh warung kopi menjual kopi asli dalam bentuk kemasan hasil produksi UKM.

Baca Juga
Lihat juga...