Prabowo: Penganiayaan Timpa Aktivis Ratna Sarumpaet, Ancaman Demokrasi

224

JAKARTA — Calon Presiden RI, Prabowo Subianto, menilai kasus penganiayaan dengan korban Ratna Sarumpaet merupakan ancaman terhadap demokrasi dan sebuah ironi dalam demokratisasi yang sedang berjalan di Indonesia.

“Ini ancaman serius terhadap demokrasi dan tentu ini sangat ironis, lalu hari ini adalah Hari Anti-Kekerasan Internasional. Namun, harus saya sampaikan kepada publik,” kata Prabowo dalam konferensi pers di kediamannya, Jalan Kertanegara 4, Jakarta, Selasa malam (2/10/2018).

Menurut dia, tindakan intimidasi terhadap pejuang demokrasi bukan hanya dialami Ratna, melainkan juga dialami Neno Warisman yang mobilnya dibakar dan Novel Baswedan yang disiram air keras yang menyebabkan kerusakan di matanya.

Prabowo menilai apa yang dialami Ratna merupakan tindakan represif, di luar kepatutan, pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan tindakan pengecut karena dilakukan terhadap perempuan berusia 70 tahun.

“Saya sendiri kaget baru tadi malam dikirim foto beliau dan baru hari ini jumpa dengan Fadli Zon dan Amien Rais, beliau sangat ketakutan serta sangat trauma, saya lihat sendiri,” ujarnya.

Ketua Umum DPP Partai Gerindra itu mengatakan bahwa Ratna dan keluarganya merasa ketakutan setelah peristiwa tersebut karena diancam bahkan enggan melaporkan kejadian tersebut.

Namun, menurut dia, Ratna bersikap pasrah dan menyampaikan kepada ibu-ibu agar tidak patah semangat agar demokrasi di Indonesia berjalan baik sehingga tidak ada lagi tindakan kekerasan serta intimidasi.

Prabowo menegaskan bahwa dalam demokrasi, perbedaan sikap politik tidak masalah. Namun, tidak boleh ada kekerasan, apalagi terhadap perempuan berusia 70 tahun, termasuk tindakan di luar batas.

Sementara itu di tempat terpisah, ratusan orang yang tergabung dalam aktivis pergerakan lintas generasi berkumpul di kawasan Menteng, Jakarta, Selasa malam, untuk mendesak pengusutan tuntas kasus penganiayaan terhadap aktivis Ratna Sarumpaet.

Tampak dari sejumlah tokoh yang hadir, antara lain, Eggi Sudjana, Hariman Siregar, Fahri Hamzah, Ferdinand Hutahaean, dan Natalius Pigai.

Sejumlah poin tuntutan dibacakan oleh Eggi Sudjana, yakni: pertama, kekerasan politik adalah kebiadaban dalam kehidupan berbangsa dan diatur oleh demokrasi; kedua, menuntut rezim pemerintahan Jokowi/JK bertanggung jawab menjaga iklim demokrasi tanpa kekerasan.

Poin ketiga, menuntut Polri mengusut pelaku kekerasan tersebut; keempat menuntut diusutnya pelaku kekerasan yang terjadi pada Ratna Sarumpaet serta aktivis pergerakan lainnya, seperti Hermansyah, Neno Warisman, secara tuntas.

Eggi mengatakan berdasarkan informasi yang diterimanya, penganiayaan terjadi setelah Ratna Sarumpaet menjadi penceramah dalam acara perkumpulan jurnalis internasional di Bandung.

Eggi menyayangkan tindak kekerasan yang terjadi terhadap aktivis pergerakan. “Kenapa seorang perempuan aktivis bisa dihancurkan, siapa yang tega,” tegas Eggi.

Sementara itu, Hariman Siregar menyatakan penganiayaan yang menimpa Ratna sangat mengagetkan karena Ratna tidak memiliki musuh. Hariman mengatakan bahwa dirinya sangat mengenal Ratna. Menurut dia, Ratna pasti melaporkan setiap kejadian yang menimpanya.

Jika Ratna sampai tidak melapor, artinya penganiayaan yang menimpanya sangat menakutkan. “Polisi menyayangkan Ibu Ratna tidak melapor. Kalau Ibu Ratna tidak melapor, artinya sudah sangat menakutkan dia,” tegas Hariman.

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah menyatakan penganiayaan terhadap aktivis Ratna Sarumpaet merupakan wujud makar terhadap demokrasi.

“Kalau menyerang dengan kata-kata, itu sebagai kebebasan berpendapat. Akan tetapi, kalau sudah menyerang fisik, itu makar terhadap demokrasi,” kata Fahri Hamzah seusai menghadiri acara dukungan aktivis pergerakan lintas generasi terhadap Ratna Sarumpaet di Jakarta, Selasa.

Menurut Fahri, harus ada jaminan bagi orang-orang dalam berpikir dan berpendapat untuk tidak diserang secara fisik.

“Seperti saya juga sering berpendapat, nulis, ngetwit, kalau diserang dengan kata-kata saya terima,” kata Fahri.

Fahri mendesak aparat kepolisian segera bekerja mengungkap dan menangkap pelaku penganiayaan terhadap aktivis Ratna Sarumpaet.

Ia mengatakan bahwa penganiayaan terhadap Ratna bukan merupakan delik aduan. Dengan demikian, tanpa ada laporan, polisi bisa segera bekerja.

“Apa yang terjadi terhadap Ibu Ratna merupakan perampasan kebebasan orang dan merampas kendali orang terhadap raganya. Jangan sampai ini berlarut-larut seperti kasus Novel Baswedan,” kata Fahri. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...