hut

Presiden Soeharto: Bangsa yang Maju Adalah yang Memperhatikan Difabel

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA – 14 Oktober, diperingati sebagai Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day. Peringatan ini dimulai sejak 1998, oleh Lions Club International yang kemudian diintegrasi menjadi VISION 2020, di bawah koordinasi WHO dan International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB).

Tujuan peringatan, untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebutaan dan gangguan penglihatan, sebagai masalah kesehatan masyarakat global. Kepedulian terhadap kebutaan dan gangguan penglihatan, sebenarnya sudah dilakukan Presiden Soeharto, pada masa pemerintahan Orde Baru.

Bahkan Presiden Soeharto menegaskan, bahwa bangsa yang maju, adalah bangsa yang memberikan perhatian kepada para disabilitas, sebagaimana dilansir dalam http://soeharto.co mengutip buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku VI (1981-1982), Jakarta: Antara Pustaka Utama, 2008, bahwa Presiden Soeharto menyampaikan kemajuan bangsa dapat dinilai dari perhatian terhadap para disabilitas.

Penegasan tersebut disampaikan Presiden Soeharto ketika meresmikan gedung Sekolah Luar Biasa Bagian A (SLB A) di Lebak Bulus Jakarta Selatan, Rabu (10/12/1981). Dalam kesempatan tersebut dinyatakan, selesainya pembangunan SLB menunjukkan, bahwa Indonesia harus bergerak maju dalam membina kesejahteraan masyarakat.

“Kemajuan memang memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi kita semua, itulah yang menjadi arah tujuan pembangunan kita. Setelah hampir satu setengah dasawarsa kita membangun secara berangsur-angsur kita telah mampu menggali sumber-sumber dana dan kekuatan yang bertambah besar lagi pembangunan pendidikan, termasuk untuk pendidikan para disabilitas, “ kata Presiden Soeharto.

Belum seluruh kebutuhan pendidikan, khususnya pendidikan untuk anak disabilitas, dapat dilayani secara memuaskan oleh hasil pembangunan. “Namun hendaknya dapat ditanggapi dan dipahami secara wajar, jangan dilupakan bahwa secara serentak, dalam waktu yang bersamaan, kita harus membangun prasarana bagi semua aspek dari kehidupan bangsa dan negara kita yang terbengkalai selama bertahun-tahun sebelumnya. Usaha itu terang memerlukan biaya yang bersumber pada hasil pembangunan itu sendiri,” imbau Presiden Soeharto.

Menurut Presiden Soeharto, kemajuan suatu bangsa dapat dinilai dari perhatian pada warganya yang disabilitas, baik fisik maupun mental. Dan perhatian pada para disabilitas itu, tidak berarti hanya memberikan perlindungan dan kesejahteraan saja. Yang lebih penting adalah, memberi pelayanan pendidikan, agar mereka mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, mempunyai pengetahuan dan keterampilan. Sehingga di kemudian hari, dapat hidup mandiri dan ikut aktif berpartisipasi dalam membangun bangsa dan negaranya.

Kepercayaan diri merupakan kekuatan penting bagi setiap manusia, untuk mengarungi kehidupan. Pengetahuan dan ketrampilan, merupakan bekal hidup yang penting, agar seseorang sanggup berdiri sendiri. “Banyak di antara mereka yang disabilitas, dengan semangat tinggi, kepercayaan pada diri sendiri disertai pengetahuan dan keterampilan dapat mengurangi segala tantangan hidup, bahkan mencapai sukses. Sebaliknya tidak sedikit diantara kita yang tidak menderita disabilitas, gagal dalam perjuangan hidup karena tidak memiliki semangat hidup, tidak rnemiliki kepercayaanpada diri sendiri dan tidak mau menggunakan pengetahuan dan keterampilan,” papar Presiden Soeharto.

Pembangunan SLB merupakan realisasi salah satu program nasional di bidang pendidikan. Merupakan puncak acara dalam menyambut tahun internasional untuk para disabilitas. Dalam hubungan ini, Presiden Soeharto meminta agar kegiatan seperti itu, ditingkatkan dan dikembangkan. Acara peresmian gedung SLB dihadiri Menko Kesra Surano serta Ibu Tien Soeharto, yang sekaligus membuka pameran pendidikan.

Lebih lanjut, Presiden Soeharto menyeru, para dokter supaya terjun ke pelosok-pelosok daerah, terutama dokter muda. Pusat-pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) telah tersebar di segenap wilayah tanah air, menunggu kedatangan para dokter.

Tantangan  besar pembangunan Indoensia adalah, bagaimana memerangi kebodohan, keterbelakangan dan penyakit. “Jawaban atas tantangan ini untuk sebagian terletak di tangan para dokter. Tidak lupa diingatkan supaya para dokter memperbaharui tekadnya untuk memperbesar pengabdiannya kepada masyarakat yang sedang membangun,” tegas Presiden Soeharto.

Pembangunan adalah suatu perjuangan besar, bahwa setiap perjuangan selalu memerlukan kepahlawanan. Tanpa kepahlawanan, tidak satu perjuangan besar dapat berhasil. Pembangunan adalah perjuangan besar suatu bangsa, untuk merubah nasib, merubah masa lampau yang buruk menjadi zaman baru yang baik.

Merubah segala ketimpangan menjadi suasana yang penuh keadilan, merubah hari kemarin yang penuh ketidakpastian menjadi hari esok yang menentramkan. “Karena itu, pembangunan adalah usaha yang terus menerus, gerakan maju yang sambung menyambung, menuju ke arah kehidupan kita semua yang lebih baik lahir dan batin,” tandas Pak Harto.

Menurut Presiden Soeharto, apabila peringatan 125 tahun pendidikan dokter di Indonesia diperingati bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 Nopember di Gedung Stovia, yang telah dipugar kembali, maka hati dan semangat akan kembali kepada masa silam yang penuh kepahlawanan.

Kalangan mahasiswa kedokteran di permulaan abad, dari Gedung Stovia dahulu, bukan hanya tampil dokter-dokter yang terkenal namanya di lapangan kedokteran, melainkan juga lahir nama-nama besar dalam pergerakan kebangsaan kita. “Malahan bukan saja dari gedung ini lahir nama-nama harum di bidang kedokteran, tetapi juga dari tempat-tempat pendidikan kedokteran lain lahir pula pemimpin-pemimpin terkemuka perjuangan bangsa kita di masa lampau,” tambahnya.

Presiden Soeharto mengakui, masih banyak kekurangan yang mungkin juga kekeliruan dan kelengahan yang dimiliki Indonesia. “Yang penting, kita jangan hanya membesar-besarkan kekurangan atau kekeliruan-kekeliruan kita itu, hingga tertutup penglihatan kita terhadap kemajuan-kemajuan yang telah kita capai,” tandas Presiden Soeharto.

Pada Oktober 2018 ini, menjadi momen perhatian terhadap para difabel, terlihat salah satunya dengan penyelenggaraan Asian Para Games 2018 di Jakarta. Sebuah pesta olahraga difabel se-Asia, yang digelar pada enam hingga 13 Oktober 2018 di Gelora Bung Karno, Jakarta. Juga digelarnya Festival Bebas Batas, sebuah festival kesenian difabel, yang digelar 12-29 Oktober 2018 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Lihat juga...