Produktivitas Jambu Mete Petani Flotim, Meningkat

Editor: Satmoko Budi Santoso

172

LARANTUKA – Penjarangan tanaman jambu mete dengan cara menebang tanaman lain dan menyisakan beberapa tanaman saja, memudahkan hasil panen mete di kebun para petani. Jambu mete pun mengalami peningkatan produktivitas.

“Saya tahun lalu memangkas 30 pohon mete di dalam areal kebun yang sudah berbuah dan berumur sekitar 10 tahun. Saya memberi jarak setiap tanaman mete sekitar 4 sampai 5 meter dan hasilnya produksinya meningkat,” sebut Bernadus Ruron, warga desa Sina Malaka kecamatan Tanjung Bunga, kabupaten Flores Timur, Senin (8/10/2018).

Dulu, sebelum dilakukan penebangan atau penjarangan tanaman mete, kata Bernadus, dalam lahan seluas satu hektare, dirinya sekali panen dalam setahun hanya menghasilkan 2 ton saja. Tetapi setelah penjarangan hasilnya meningkat menjadi 30 ton,” jelasnya.

Bernadus Ruron, petani mete desa Sina Malaka kecamatan Tanjung Bunga kabupaten Flores Timur. Foto : Ebed de Rosary

Dikatakan Bernadus, awalnya petani tidak mau, termasuk dirinya. Sebab tanaman mete yang ditebang sudah berbuah selama 5 tahun. Pihaknya berpikir akan mengalami kerugian bila pohon tersebut ditebang.

“Pasti petani tidak mau menggunakan pola ini. Sebab kami sudah terbiasa menanam mete dengan jarak 2 sampai 3 meter setiap pohon. Namun setelah melihat hasil panen di kebun petani lainnya yang meningkat, saya akhirnya mencoba. Memang hasilnya luar biasa sebab baru pertama kali mengalami peningkatan,” ungkapnya.

Setelah melihat petani lainnya hasil panen meningkat, kata Bernadus, banyak petani mete di desa Sina Malaka dan desa-desa lainnya di kecamatan Tanjung Bunga, Ile Manidri dan Lewolema mulai mengikuti pola penjarangan tanaman mete.

“Saat ini sudah banyak petani yang mulai menebang pohon mete usai melakukan panen. Tapi ada pohon mete yang masih berbuah sehingga mereka akan melakukan penebangan mete pada bulan November nanti,” bebernya.

Bernadus berharap, pemerintah bisa membantu memberikan penyadaran kepada petani lainnya agar bisa mengikuti pola ini. Supaya petani bisa sejahtera dan bila perlu membagikan pupuk kepada petani. Sebaiknya membagikan pupuk organik jangan pupuk kimia.

“Saya bersyukur meski baru tahun pertama, namun sudah mengalami peningkatan hasil produksi. Saya juga akan melakukan penjarangan di area lain seluas 5 hektare, akhir bulan ini. Saya juga akan melakukan pemangkasan sehingga awal tahun saat musim hujan tanaman sudah mulai mengeluarkan tunas baru,” ungkapnya.

Namun, Bernadus menyesalkan harga mete yang awal bulan Juni berkisar antara Rp18 ribu sampai Rp20 ribu, awal bulan Oktober turun menjadi Rp14 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram. Dibeli oleh pedagang yang menetap di kampungnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Flotim, Antonius Wukak Sogen, mengakui, pihaknya awalnya kesulitan untuk memberikan penyadaran kepada para petani untuk melakukan penjarangan mete. Apalagi pada lahan kebun yang metenya sudah berumur 5 tahun dan baru sekali panen. Karena petani mengaku mengalami kerugian.

“Para petani masih berpikir bahwa semakin banyak tanaman mete dalam satu lahan, maka hasil panen juga banyak. Padahal sebailknya. Setelah dilakukan pendekatan dan penyuluhan ada beberapa petani yang menerapkan. Hasil panen pun meningkat sehingga sudah mulai banyak petani di desa-desa yang mengikuti anjuran kami,” ungkapnya.

Anton pun berharap agar para petani mete bisa melakukan penjarangan, termasuk melakukan pemangkasan rutin dan membersihkan areal kebun agar tidak terserang hama serta kebun selalu bersih.

“Kalau kebun bersih tentu memudahkan petani memilih mete yang jatuh di tanah dan juga tidak menjadi sarang berkembangbiaknya hama penyakit seperti yang terjadi di kebun kakao,” sebutnya.

Baca Juga
Lihat juga...