Profisio Mof Dampingi Penyandang Disabilitas di Sikka

Editor: Koko Triarko

218
MAUMERE – Tidak banyak lembaga swadaya masyarakat yang peduli terhadap orang-orang berkebutuhan khusus atau disabilitas. Namun, Yayasan Profisio Mof secara intensif memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para difabel, agar bisa mandiri.
“Kita memberikan advokasi kepada penyandang masalah kesejahteraan sosial, dan bekerja sama dengan dinas sosial kabupaten Sikka, memberikan berbagai pelatihan keterampilan,” sebut Dwi Angelina Ester Santoso, salah seorang pendiri Yayasan Profisio Mof, Kamis (11/10/2018).
Menurut Ester, yayasan Proficio Mof bergerak di bidang sosial, kemanusiaan dan keagamaan, dengan mendampingi perorangan, disabilitas dan kelompok sosial lainnya, misalnya karang taruna, wanita rawan sosial ekonomi atau anak-anak yang terlantar.
Yosefina Noeng (kanan), salah seorang disabilitas dan Dwi Angelina Ester Santoso (kedua kanan), salah seorang pendiri Yayasan Profisio Mof, bersama anggota dan kaum disablitas. -Foto: Ebed de Rosary
“Untuk lembaganya sudah ada sejak 1997, tetapi yayasannya baru terbentuk pada 2018. Kami ingin membantu siapa saja, terutama kaum disabilitas yang sangat membutuhkan dorongan dan bantuan,” sebut Ester.
Bekerja sama dengan dinas aosial, yayasan ini memberikan pelatihan untuk memproduksi kerajinan tangan dari bahan bambu, tempurung kelapa dan bahan baku lainnya yang mudah diperoleh di masyarakat.
“Dari bambu selain mebel, ada kap lampu dan lainnya, serta berbagai perlengkapan sesuai pesanan pelanggan. Juga ada tas dari kain tenun yang semuanya diproduksi kaum disabilitas,” terangnya.
Namun, kata Ester, pesertanya masih terbatas dan dalam memberikan pelatihan pihaknya mempergunakan instruktur di bengkel Misi, milik Keuskupan Maumere, agar hasil karyanya bisa bagus.
“Pelatihan dilaksanakan selama tiga bulan hingga menjadi ahli. Kita membagi peserta untuk kategori dasar, madya sampai ahli. Semua pelatihan disesuaikan  dengan bakat dan keterampilan disabilitas itu sendiri,” paparnya.
Psikolog juga harus memfasilitasi, agar kaum disabilitas bisa mendapatkan bantuan, dan mendidik mereka agar memiliki keterampilan dengan menggandeng  dinas sosial dan beberapa lembaga lainnya yang peduli.
“Ada sekitar 30 sampai 40 disabilitas yang diberikan pelatihan, belum termasuk yang dikirim ke Makassar, Sulawesi Selatan, untuk dilatih di sana,” ujarnya.
Ester menjelaskan, sebelum mengikuti pelatihan, peserta dites psikologi terlebih dahulu untuk mengetahui apakah orang tersebut benar-benar memiliki minat atau bakat di bidang yang akan diberikan pelatihan.
“Ini yang membuat pelatihan yang diberikan sesuai dengan bakat dan kemampuan peserta. Dengan demikian, banyak peserta usai pelatihan bisa menerapkannya untuk mendapatkan uang,” ungkapnya.
Ester meminta, agar dinas sosial atau perindustrian, koperasi dan UKM kabupaten Sikka bisa menyediakan tempat pameran di pusat Jajanan dan Cinderamata, agar produk kaum disabilitas bisa dijual di sana.
Dalam bursa inovasi desa, banyak produk yang dihasilkan kaum disabilitas terjual, di mana harga paling murah Rp50 ribu, sementara harga yang lebih tinggi tergantung dari jenis barang dan bahan bakunya.
“Tantangannya kita harus berusaha memahami apa yang tidak dimengerti oleh orang kebanyakan, sebab mendampingi penyandang disabilitas berbeda dengan penanganan orang pada umumnya,” ungkapnya.
Ester merupakan seoarang psikolog, sehingga bisa lebih mudah mendampingi teman-teman disabilitas, dan pihaknya tetap bekerja sama dengan pemerintah.
“Disabilitas juga harus bangkit, sebab mereka bisa berkarya seperti orang kebanyakan, bahkan meraih keberhasilan. Hanya butuh dorongan dan kesempatan saja,” terangnya.
Ester menegaskan, dirinya ingin agar kaum disabilitas bisa merasakan apa yang dirasakan orang kebanyakan, dan tidak ada diskriminasi lagi dari masyarakat.
Yosefina Noeng, salah seorang penyandang disabilitas mengaku senang bisa bergabung di yayasan ini, karena bisa menjual produk kerajinan tangannya, seperti tas dan dompet dari kain tenun ikat.
“Sejak April 2018, saya bergabung di yayasan ini. Saya sudah memiliki keterampilan menjahit dan saya bergabung dengan yayasan dan teman-teman, agar bisa banyak mendapatkan pengetahuan,” sebutnya.
Yosefin mengaku memproduksi  tas dari kain tenun dan sampah plastik, seperti bungkus deterjen dan lainnya, dan lumayan bisa terjual agar bisa memberikan pendapatan tambahan.
“Saya berharap, agar masa depan anak-anak saya bisa terpenuhi, sebab ketiga anak saya masih bersekolah. Uang hasil penjualan kerajinan tangan saya disisihkan untuk biaya sekolah ketiga anak saya,” pungkasnya.
Baca Juga
Lihat juga...