Puluhan Hektare Sawah di Pesisir Selatan Terancam Hama

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

237

PADANG — Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Pesisir Selatan Jumsu Trisno menyebutkan, puluhan hektar sawah di bagian selatan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, mulai diserang hama.

“Jika tidak ditangani segera, akan berdampak pada 100 haktare sawah sekitarnya,” sebutnya di Painan, Senin (8/10/2018).

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Pesisir Selatan Jumsu Trisno. Foto: Ist

Seperti yang ada di daerah Lunang Silaut, di sana dilaporkan dua hektare padi berusia 1,5 bulan diserang hama seperti wereng, kepinding, dan tikus. Perlu adanya langkah pengendalian agar petani tidak mengalami kerugian besar.

“Kondisi itu tidak hanya di Lunang Silaut, tetapi juga terjadi di Kambang Kecamatan Lengayang, dan juga ada di daerah Tarusan. Cara penanganannya ialah melakukan penyemporatan secara merata di seluruh tanaman padi di sekitarnya,” jelasnya.

Ia berkata, gerakan pengendalian ini, bentuk upaya Distanhorbun mendukung pertanian supaya tercapainya swasembada pangan.

Selain itu, Distanhorbun Pesisir Selatan juga mengupayakan lahan pertanian berupa sawah pada daerah setempat tersertifikasi sebagai kawasan organik secara menyeluruh.

Total sawah di daerah Pesisir Selatan kini telah mencapai seluas 70 ribu hektare dan Distanhorbun mengupayakan semuanya tersertifikasi sebagai kawasan organik.

Pada tahun ini, pihaknya menargetkan 25 hektare sawah di Nagari (Desa Adat) Pancung Taba, Kecamatan Bayang Utara mendapat sertifikat organik dan bertahap ke lahan lainnya. Kendati demikian, kegiatan tersebut bukanlah perkara mudah karena butuh kesiapan yang matang dalam mewujudkannya.

“Pengendalian hama dilakukan secara alami, jika mengatasi tikus bisa menambah populasi ular dan burung hantu. Begitu juga dengan hama lainnya, juga diatasi secara alami,” ujarnya.

Selain itu juga harus mengantongi sertifikat organik yang berpedoman pada Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 6729 Tahun 2016, tentang sistem pertanian organik yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO). Jika sudah dikantongi sertifikat organik maka produksi beras dari areal tersebut akan bisa dijual dengan harga mahal bahkan dapat naik dua kali lipat.

Baca Juga
Lihat juga...