Ramah Gempa, Konstruksi Bambu Semen di Sikka Perlu Digalakan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

154

MAUMERE — Mantan ketua DPRD Sikka Rafael Raga mengajak masyarakat untuk menggalakkan membangun rumah dengan sistem konstruksi bambu semen. Mengingat wilayah tersebut merupakan salah satu daerah yang rawan gempa dan tsunami, serta adanya gunung berapi Rokatenda dan Egon yang selalu aktif.

“Kita memiliki banyak potensi bambu dan sudah terbiasa sejak dahulu membangun rumah dengan dinding bambu belah atau Halar yang lebih aman bila terjadi gempa,” sebut pria yang juga praktisi LSM ini di Sikka, Selasa (2/10/2018).

Dikatakan Rafael, pemerintah kabupaten Sikka melalui dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa sudah membangun beberapa rumah contoh agar masyarakat dapat menirunya.

“Pemerintah juga telah mengirimkan seorang guru STM untuk belajar mengenai konstruksi rumah bambu semen sehingga keahliannya dapat dipergunakan bila ingin membangunnya untuk masyarakat,” sebutnya.

Dikatakan Rafael, untuk membangun sebuah rumah konstruksi bambu semen dengan ukuran panjang tujuh meter dengan lebar lima meter dibutuhkan biaya sekitar Rp30 juta.

“Pembuatannya pun mudah, dimana bambu dianyam dulu sebagai dinding lalu campuran semen dilempar ke bambu tersebut hingga tertutup dengan campuran lalu dirapikan,” terangnya.

Semua tiangnya pun menggunakan bambu sehingga kata Rafael, saat terjadi gempa campuran semen di dinding tersebut akan berguguran sehingga tidak membahayakan penghuninya.

“Setelah selesai dikerjakan kita sulit membedakan apakah rumah tersebut dindingnya menggunakan bambu, sebab sudah tertutup oleh semen. Bambu pun banyak terdapat di Sikka dan banyak yang menjual dengan harga murah,” sebutnya.

Rafael Raga,SP pegiat LSM yang juga mantan ketua DPRD Sikka.Foto : Ebed de Rosary

Emy Laka, mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa mengatakan, dirinya berinisiatif membuat rumah contoh ini di kecamatan Palue yang masyarakatnya tinggal di bawah gunung berapi Rokatenda dan sering terjadi gempa.

“Kami sengaja membangunnya agar masyarakat dapat mencontohnya dan membangunnya sendiri. Warga pun kami ajari dan saat pembangunannya mereka terlibat juga,” ungkapnya.

Kabupaten Sikka sebut Emy pernah mengalami gempa dan tsunami di 1992 dimana ribuan rumah dan bangunan rubuh akibat gempa. Hal ini dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat agar membangun rumah yang ramah terhadap gempa.

“Membangun rumah ramah gempa tentu akan meminimalisir kecelakaan saat terjadi gempa. Biayanya pun murah dan orang tidak bisa membedakan rumah tersebut dindingnya menggunakan bambu atau batu bata sebab sudah tertutup semen,” pungkasnya.

Kalau dana tersedia, kata Emy, Dinas Sosial yang dipimpinnya siap membangun rumah konstruksi bambu semen ini bagi masyarakat yang tidak mampu dan dirinya berjanji akan mengusulkan ini kepada bupati dan wakil bupati Sikka yang baru memimpin.

“Banyak tenaga Tagana di dinas Sosial yang bisa dipergunakan untuk membangun rumah konstruksi bambu semen ini dan mereka pernah mengerjakan beberap rumah contoh bagi masyarakat,” tuturnya.

Satu bangunan di kantor dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa kata Emy juga menggunakan konstruksi bambu semen sehingga ini bisa juga diterapkan di bangunan kantor pemerintah lainnya.

Baca Juga
Lihat juga...