Rasio Jumlah Pengawas dan Lembaga PAUD di Jogja Sangat Timpang

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

99

YOGYAKARTA — Rasio jumlah pengawas lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Yogyakarta diketahui masih sangat timpang. Baik itu untuk Taman Kanak-kanak (TK), Kelompok Bermain (KB), Tempat Penitipan Anak (TPA) ataupun Satuan PAUD Sejenis (SPS).

Koordinator Pengawas TK, Bidang Pendidikan Non Formal dan PAUD, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Riyanto mengatakan saat ini total lembaga PAUD sebanyak 915. Terdiri dari 225 TK, 90 KB, 51 TPA dan 415 SPS. Namun jumlah pengawas yang ada kurang dari 20 orang saja.

“Kita hanya memiliki 12 orang tenaga pengawas yang bertugas mengawasi TK dan 3 orang tenaga penilik yang bertugas mengawasi KB, TPA, dan SPS. Jumlah itu menang masih sangat minim,” ujarnya saat ditemui Cendananews, Kamis (4/10/2018).

Dengan jumlah tersebut maka, satu orang pengawas paling tidak harus mengawasi sebangak 18 TK. Sedangkan satu orang penilik harus mengawasi sekitar 185 KB, TPA dan SPS. Kondisi tersebut membuat fungsi pengawasan pun menjadi tidak maksimal, lantaran jumlah pengawas dan lembaga yang diawasi tidak ideal.

“Idealnya memang satu orang pengawas maksimal hanya mengawasi 10-15 lembaga pendidikan saja. Atau satu orang pengawas, mengawasi 40-60 guru,” tutur Riyanto.

Mengatasi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta sendiri mengaku memaksimalkan fungsi pengawasan pada pihak-pihak lain, baik itu dari masyarakat, komite atau orang tua murid serta pihak Yayasan yang menaungi lembaga pendidikan PAUD tersebut. Hal itu diharapkan dapat membantu proses pengawasan yang dilakukan pengawas maupun penilik.

Sementara itu Kepala Seksi PAUD, Bidang PNF dan TK, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Sri Hartati, mengaku terus berupaya meningkatkan kualitas lembaga PAUD. Salah satunya dengan berupa meningkatkan kualitas SDM pendidik, termasuk meningkatkan kesejahteraannya.

“Kita rutin menggelar pembinaan pendidikan bagi seluruh pendidik PAUD, baik itu berupa diklat workshop bimtek atau pendampingan. Kita juga rutin memberikan insentif kepada mereka di tiap jenjangnya, mulai dari pendidik yang telah mengikuti diklat dasar, lanjut maupun mahir. Termasuk menggelar lomba-lomba kreativitas bagi pendidik, baik itu lomba pembuatan APE hingga lomba mendongeng,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...