Ratusan Rumah di Petobo Tertimbun Lumpur

300
Kondisi salah satu pantai di Sulteng yang terimbas tsunami pasca gempa 7,4 SR pada Jumat (28/9/2018) - Foto https://twitter.com/KemensetnegRI/media

PALU – Ratusan rumah di Kelurahan Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah, masih tertimbun lumpur hitam hingga Senin (1/10/2018). Rumah tersebut menjadi korban gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) yang mengguncang daerah itu, Jumat (28/9/2018).

Lumpur hitam tersebut berasal dari tanggul kali, yang terletak di bagian timur Kelurahan Petobo di Jalan H.M. Soeharto. Akibat guncangan gempa, tanggul sungai roboh, sehingga lumpur langsung meluncur menghantam rumah-rumah penduduk di Ranjule, Kelurahan Petobo.

Saat kejadian, bertepatan dengan waktu Salat Maghrib, sehingga masyarakat yang beragama Islam sedang berada di masjid untuk beribadah. Sebagian warga yang berada di rumah, tidak dapat berbuat banyak dan memilih untuk melakukan tindakan penyelamatan diri dari terjangan lumpur hitam.

Sebagian warga melarikan diri ke arah barat atau utara dan selatan dari Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan. Namun, hanya segelintir warga yang dapat menyelamatkan diri dari peristiwa tersebut. Lumpur hitam setinggi lima meter memorak-porandakan bangunan di bagian barat dari rumah sakit bersalin, menutup semua akses rumah-rumah warga.

Sampai Senin (1/10/2018) pagi, upaya pencarian korban masih belum dilakukan. Sementara, warga Petobo mengungsi di Desa Ngatabaru, Loru, dan Parovo, Kawatuna. Di lokasi pengungsian mereka saling bertanya tentang keselamatan keluarga.

Sementara itu, sebanyak 1.682 warga Palu mengungsi di Halaman Polda Sulteng. Hingga Senin (1/10/2018), warga masih terus bertahan di lokasi itu. Sementara dilaporkan, kebutuhan logistik di lokasi tersebut terus menipis. Tercatat di posko tersebut, ada lima orang meninggal akibat luka-luka berat yang dialami serta sakit.

Koordinator posko Polda, Ahmar FN mengungkapkan, selain lima orang yang meninggal, ada banyak pasien rujukan dari RS Undata Palu, harus diinapkan di posko itu. Pihak Polda juga telah menyiapkan fasilitas tempat, tenda, distribusi air bersih, penerangan serta kendaraan operasional yang sangat dibutuhkan.

Dilaporkan, suplai makanan ke pengungsi masih sangat kurang. Pengungsi sebagian besar berasal dari Talise, kampung nelayan, kelurahan Tondo. “Umumnya adalah anak-anak kuliahan,” tambahnya.

Posko itu juga membantu warga untuk mendapatkan laporan keluarganya yang masih hilang atau belum ditemukan. Berbagai tim masih terus melakukan langkah evakuasi di semua lokasi terdampak gempa dan tsunami.

Sebelumnya, ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke Palu, Minggu (30/9/2018), meminta jajarannya untuk memprioritaskan evakuasi korban, sebagai langkah pertama penanganan bencana gempa dan tsunami yang melanda Sulawesi Tengah.

Presiden mengemukakan pernyataannya, seusai meninjau langsung sejumlah titik terdampak bencana.  “Yang pertama yang paling penting tadi saya tekankan pada seluruh kementerian, TNI, Polri, juga Pak Gubernur, agar penanganan yang dilakukan pertama adalah yang berkaitan dengan evakuasi,” kata Presiden di Bandara Mutiara Sis Al Jufri.

Terkait proses evakuasi, Presiden Jokowi mengatakan, ada beberapa desa yang masih belum bisa dievakuasi karena keterbatasan alat berat. Menanggapi kondiis tersebut Kementerian PU akan menggerakan alat berat dari Mamuju, Gorontalo, dan Poso untuk membantu proses evakuasi korban. (Ant)

 

Baca Juga
Lihat juga...