Review Film Arwah, Ungkap Misteri Hilangnya Penari Jaipong

Editor: Mahadeva WS

259

JAKARTA – Jaipong, salah satu kesenian tari tradisional yang sangat populer. Tari Jaipong menggabungkan beberapa elemen seni tradisi seperti pencak silat, wayang golek, topeng banjet, ketuk tilu dan sejumlah kesenian lainnya. Ciri khasnya, antara lain, ceria, erotis, humoris, semangat, spontan, alami dan apa adanya.

Banyak kisah menyelimuti penari jaipong, dalam eksistensi jaipong dari zaman dulu sampai sekarang. Berangkat dari fenomena tersebut, film Arwah yang merupakan trilogi Arwah Tumbal Nyai bagian pertama ini, dibuat dengan mengungkapkan misteri menghilangnya penari jaipong.

Film ini diawali dengan kisah Sukriani (Zaskia Gotik) yang memiliki keinginan untuk menjadi penari jaipong terkenal seperti ibunya. Tapi, Eyang Sukriani (Minati Atmanegara) tidak setuju, karena kejadian di tempat tinggal mereka, tentang penari jaipong yang menghilang secara misterius. Dan kalau sudah meninggalpun tidak ada yang bisa menemukan mayatnya.

Ibu Sukriani (Nella Anne) termasuk penari jaipong yang hilang dan tak diketahui mayatnya. Karena itulah, Eyang Sukriani melarang Sukriani bersentuhan dengan apa pun yang berhubungan dengan tari jaipong. Namun Sukriani tetap berkeras hati ingin menjadi seorang penari jaipong.

Sukriani tampak semakin penasaran, apalagi saat ia tahu misteri hilangnya penari jaipong di berbagai surat kabar yang menuntunnya untuk mencari tahu apa yang terjadi di balik teror yang menghampirinya. Dengan bermodalkan nekat, ia mendatangi Nyi Imas (Dewi Gita), satu-satunya penari jaipong yang tersisa di kampungnya untuk meminta penjelasan, karena diyakini tahu sesuatu tentang teror tersebut.

Mendatangi Nyi Imas yang tinggal di rumah yang sangat angker, Sukriani tidak hanya mendapat petunjuk, tetapi juga pelajaran untuk menari jaipong seperti apa yang diinginkannya. Nyi Imas mengajari tari jaipong dengan memberikan syarat, Sukriani harus memukul kendang di rumahnya jika ingin diajari menari jaipong.

Meski pembantunya (Ingrid Wijanarko) telah mengingatkan tentang pantangan soal memukul kendang, Sukriani tetap melakukannya. Tak lama setelah memukul kendang di rumah Nyi Imas, Sukriani mendapati pembantunya meninggal secara misterius. Setiap hari, mulailah banyak teror dari arwah gentayangan datang menghantuinya dan membuatnya mau tidak mau harus mencari tahu apa yang terjadi. Sukriani tidak sendiri menghadapi teror yang terus muncul karena ada Shakti, pacarnya, yang membuktikan cintanya dengan terus menemani.

Beberapa petunjuk muncul, mulai dari tusuk konde sampai rekaman video para penari jaipong sebelum meninggal. Sukriani terus menebak-nebak siapa yang membunuh mereka semua, dan apa alasannya. Nyi Imas, merupakan kandidat pembunuh terkuat.

Resiko harus Sukriani tanggung dengan tetap berkeras ingin menjadi penari jaipong, karena ia terus didatangi oleh arwah penasaran, bahkan nyawanya menjadi taruhan. Bukan hanya itu, Shakti yang selalu menemani juga terancam keselamatannya karena ingin melindungi Sukriani. Siapa yang akan selamat di antara mereka? Apakah akan ada korban lain selain asisten rumah tangga Sukriani? Apa yang sebenarnya terjadi dari hilangnya penari jaipong?

Film ini cukup mencekam dan menegangkan dari awal hingga akhir. Sutradara Arie Azis menggarap dan mengemasnya dengan cukup baik. Sayangnya, backsound musik horor film ini berlebihan. Musik yang sebenarnya bisa untuk memacu adrenalin, karena terlalu sering diperdengarkan, malah tidak memunculkan kesan seram yang diinginkan dan malah mengganggu.

Akting Zaskia Gotik masih terlihat sekali dipaksakan dan tidak natural. Film ini menjadi debut Zaskia dalam dunia perfilman. Zaskia yang memang baru pertama bermain film, sebenarnya tampil memikat dan konsisten memerankan karakter Sukriani yang kalem. Begitu juga dengan akting Shakti Arora yang kurang maksimal. Shakti tidak mampu menjalin chemistry dengan Zaskia. Shakti tampak seperti hanya pelengkap pemain saja, yang kehadirannya tampak tak berarti apa-apa.

Penampilan aktris senior Minati Atmanegara, menjadi penyeimbang dan berhasil membawa kesan horor dalam cerita yang tegang dan mencekam. Minati memang bintang senior yang masih tetap eksis dan aktingnya memang tak perlu diragukan. Sedangkan, para pemain pendukung, seperti Lia Waode, Ingrid Widjanarko, Meike Rose, Dewi Gita, Otig Pakis, Egi Fedly, Piet Pagau hingga Masayu Anastasia, tampak cukup memperkuat film tersebut.

Adapun, kemunculan Dewi Perssik dan Ayu Ting Ting yang tampil sebentar di penghujung film, menjadi kunci untuk masuk ke film berikutnya yang merupakan rangkaian trilogi Arwah Tumbal Nyai. Film ini sebenarnya memiliki premis menarik, tentang misteri hilangnya penari jaipong. Sayangnya, konflik yang skenarionya digarap Aviv Elham ini tidak berkembang dengan baik.

Alur ceritanya cenderung datar, yang membuat film ini jadi monoton dan mudah ditebak. Padahal dari segi artistik, film ini cukup membuat bulu kuduk berdiri dan merinding. Kemudian, terlalu seringnya arwah penasaran penari jaipong yang muncul, menjadikan film ini menjadi kurang greget, bahkan mengurangi keseraman dan ketegangan yang diemban film mengusung genre horor.

Meski demikian, film ini tentu patut diapresiasi karena mengangkat kesenian tari tradisional jaipong yang memang patut dilestarikan. Sebagai sebuah karya seni, film ini tidak hanya hiburan semata. Tetapi juga dapat menyampaikan pesan yang baik kepada masyarakat, untuk melestarikan kesenian tari tradisional di zaman globalisasi, yang semakin mengerus eksistensi kesenian tradisional kita.

Baca Juga
Lihat juga...