Review Film Something in Between, Tentang Janji Pasangan Kekasih Sejati

Editor: Mahadeva WS

366

JAKARTA – Percayakah kita, kalau di kehidupan nanti, kita akan lahir kembali? Istilahnya reinkarnasi, yang merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang, akan mati dan dilahirkan kembali di bentuk kehidupan lain. Dalam filsafat Hindu dan Buddha, proses reinkarnasi memberi kita pada kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang tertinggi.

Tapi bagaimana kalau reinkarnasi terjadi, pada lahir kembali menjadi pasangan kekasih sejati yang berjanji sehidup semati. Sebagai pasangan kekasih sejati, yang akan terus bersama sampai maut memisahkan. Bahkan sampai maut tidak bisa memisahkannya. Demikian yang mengemuka dari film Something in Between, yang berkisah tentang janji sehidup-semati pasangan kekasih sejati.

Film ini diawali adegan Abimanyu (Jefri Nichol) yang terus-menerus mendapatkan mimpi buruk, tentang dua orang anak SMA dengan banyak janji manis di antara mereka. Sebuah impian yang tampaknya tak hanya bunga tidur, karena Dia seperti dihadapkan pada kenyataan. Dan hidupnya menjadi tidak tenang, karena mimpi itu terus-menerus datang.

Karena tak tahan didatangi mimpi buruk, Abi, sapaan akrab Abimanyu, yang tinggal di London, terpaksa harus kembali ke Indonesia. Kepulangannya untuk secepatnya mendapatkan jawaban dari mimpi buruk yang mendatangi secara misterius.

Karena cukup seringnya mimpi tersebut datang, Abi, yang hobi menggambar, hingga dapat menggambarkan mimpinya dalam sebuah sketsa. Meski gambarnya kurang begitu jelas, tapi Abi sangat merasakannya. Arsiran pensil di dalam gambar itu berupa bangunan yang Dia sendiri tidak tahu berada di mana.

Kemudian, ada juga gambar seorang gadis mengenakan seragam yang sama sekali tidak bisa digambarkan wajahnya. Bermodalkan dengan semua gambar itu, Abi mencoba mencari apa arti mimpinya.

Dalam proses mencari arti mimpi, Abi secara perlahan dihadapkan langsung dengan masa lalu yang asing baginya. Namun kenyataan tersebut terasa seperti sudah pernah dialami. Seperti de javu pada sebuah sekolah, bernama SMU Kebangsaan, tempat dimulainya kenangan yang Dia lewatkan.

Pelan tapi pasti, Abi mulai dapat menelusuri siapa gadis yang terus muncul di mimpinya, dan kenapa Dia selalu memimpikan seseorang yang tak pernah ditemuinya. Semakin masuk dalam pencarian arti mimpi, Abi kembali di masa di mana cinta monyet tumbuh, dimana Dia melihat bagaimana Dirinya yang kemudian bernama Gema, mencoba mendapat perhatian Maya, seorang gadis dalam sketsa yang digambarnya.

Diceritakan Gema sangat semangat dengan gejolak darah mudanya yang meledak-ledak, dan pantang menyerah serta ngotot untuk mendapatkan gadis itu. Semua cara dilakukan, kenangan-kenangan indah muncul, yang membuatnya semakin yakin, bahwa masa lalu itu memang berhubungan dengannya.

Gema dan Maya, dua anak remaja yang masih duduk di kelas dua SMA itu akhirnya bersama. Begitu kuat hubungan yang terjalin seperti tidak akan terpisahkan. Hari demi hari, gambaran Abi tentang gadis dalam sketsanya semakin jelas. Dia tahu siapa yang selalu muncul dalam mimpinya, dan bertekad bertemu lagi dengan gadis tersebut. Apakah Abi berhasil bertemu dengan gadis itu? Atau apakah yang dia dapatkan hanya kekecewaan? Belasan tahun tentu bukan waktu yang sebentar.

Film ini begitu menyentuh, sederhana tapi tetap mengena. Cinta yang banyak menjadi tema sebuah karya seni, termasuk film yang menjadi medium penuh pesona dan keindahan. Asep Kusdinar, tampil beda saat menggarap film ini. Dia berusaha mengemas serius film terbarunya tersebut. Keseriusan kemasan film tidak lepas dari Titien Wattimena, penulis skenario yang didukung Novia Faizal, sosok pengolah ide cerita dari Sukdev Singh, sang produser film tersebut.

Akting Jefri Nichol kian matang berperan ganda sebagai Abimanyu dan Gema, yang tampak semakin menunjukkan dirinya sebagai pemain watak. Jefri termasuk artis muda yang begitu total, penuh penghayatan dan sangat menjiwai peran dan karakter yang dilakoni. Begitu juga dengan akting Amanda Rawles, yang berperan ganda sebagai Laras dan Maya. Amanda dapat tampil natural, beradu peran dengan Jefri Nichol. Keduanya memang mampu menjalon chemistry, sebagai pasangan ganda pasangan kekasih sejati.

Film ini tampak begitu kuat dengan penampilan Slamet Rahardjo dan Yayu Unru, dua aktor senior gaek, yang tak diragunakan kemampuan aktingnya. Keduanya memperkuat unsur akting yang ditampilkan para pemain. Para pemain senior dalam film tersebut di antaranya, Surya Saputra, Amara Lingua, Rizky Hanggono, Djenar Maesa Ayu hingga Dolly Martin, Sherly Margareta, Chris Salam, yang kesemuanya memperkuat film ini dengan akting matang disepuh zaman.

Juga para pemain muda, seperti Naufal Samudra, Junior Liem, Febby Rastanty, yang aktingnya menjanjikan ke depan penuh harapan. Meski mereka tentu harus melalui ujian waktu dan kemudian seleksi alam.

Film ini, meski kisah utama tentang cinta, tapi mengingatkan kita tentang arti kesungguhan. Bahwasannya kalau kita bersungguh-sungguh melakukan sesuatu, maka apa yang diinginkan akan tercapai. Sebagaimana ungkapan Arab yang terkenal di kalangan pesantren, Man Jadda Wajada, yang artinya siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

Film memang tak semata hiburan semata, yang kalau kita amati selalu ada pesan positif yang disampaikan tentang cinta dan kesungguhan. Apalagi kalau cinta kasih sayang disertai dengan kesungguhan akan mengekalkan kebersamaan.

Baca Juga
Lihat juga...