Ribuan Warga Mengungsi, Tinggalkan Palu

243

GORONTALO – Ribuan warga Kota Palu dan sekitarnya, mulai bergerak meninggalkan wilayah yang terdampak gempa bumi dan tsunami. Warga bergerak melalui jalur darat, mencari tempat tinggal sementara yang layak.

Pergerakan terpantau terjadi sejak Senin (1/10/2018) malam hingga Selasa (2/10/2018) pagi. Ribuan kendaraan yang didominasi jenis motor, bergerak keluar dari Palu. Dampaknya, terjadi kemacetan di sepanjang jalan hingga 10 kilometer di wilayah kebun Kopi Toboli.

Sejumlah warga menyebut, akan mencari daerah aman, di mana ada sanak saudara atau keluarga yang bisa didatangi. Daerah yang dituju diantaranya, Kabupaten Poso dan Luwuk Banggai. Kemudian banyak juga yang akan ke provinsi tetangga seperti Gorontalo, dan Sulawesi Utara. Mereka yang keluar dari Kota Palu adalah warga berasal dari Kelurahan Tondo, Kampung Nelayan, Talise dan Momboro. Mereka bergerak melewati jalur darat menuju pantai timur dan pantai barat.

Hanidar, warga Mamboro dan Abni, warga perumahan jalan Layana, mengaku keluar dari Kota Palu untuk mencari keluarganya di Moutong yang kondisi rumahnya masih baik. Mereka mengajak keluarga yang lain. Tidak ada anggota keluarga dari keduanya yang menjadi korban bencana gempa dan tsunami.

Sementara itu, di jalur kemacetan yang dilalui pengungsi, ada enam titik longsor karena gempa pada Jumat (28/9/2018) lalu. Namun saat ini sudah berhasil dibersihkan. Titik pertama longsor ada di perbukitan kebun kopi dari arah Palu, longsor material batu kecil dan tanah terjadi pada Minggu (30/9/2018) malam.

Kendati demikian, sebagian besar pelintas diminta berhati-hati melintasi jalur tersebut, karena jalan masih licin, dan masih ada juga bau mayat yang sangat menyengat di kawasan kebun kopi. Di jalur itu juga banyak ditemui kendaraan-kendaraan yang membawa bantuan logistik, dan relawan untuk korban di Palu dan Donggala.

Sementara itu, sebanyak 47 orang pengungsi yang merupakan korban gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, yang 30 persen diantaranya adalah lanjut usia (lansia), anak-anak dan ibu hamil sudah sampai Makassar. “Sebanyak tujuh orang lansia dan selebihnya adalah anak-anak, ibu hamil dan perempuan,” kata Koordinator Trauma Healing posko pengungsi Asrama Haji Sudiang, Makassar, AKBP Wati Mulking.

Pengungsi tersebut datang untuk gelombang kedua. Sebeumnya, pada Minggu (30/9/2018) malam sudah datang sebanyak 200 orang pengungsi. Dari pengungsi gelombang dua yang datang, satu diantaranya tercatat mengalami luka bakar dan langsung dirujuk ke RS DR Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Pengungsi lainnya, dua orang hamil sembilan bulan, dan membutuhkan perawatan khusus menghadapi masa kelahiran bayinya.

Pengungsi lain, Fatma menyebut, para pengungsi diterbangkan dengan pesawat Herkules ke Makassar. Mereka yang diterbangkan, diprioritaskan pada lansia, perempuan dan anak-anak. “Dari informasi yang kami peroleh sebelum pemberangkatan, bagi yang kondisinya masih lumayan kuat dan sebagian besar laki-laki, akan diberangkatkan ke Makassar melalui jalur kapal laut yang disiapkan pihak TNI Angkatan Laut,” katanya.

Sementara terkait dengan persediaan bahan konsumsi di Asrama Haji Sudiang, Makassar, sangat memadai, bahkan bantuan logistik berupa pakaian dewasa dan anak-anak terus berdatangan. Untuk proses pendistribusian ke lokasi bencana, petugas Perintis Tagana Indonesia, Kemensos Sahruddin mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pihak PT Pelindo IV, untuk mengapalkan bantuan ke Donggala dan Palu, Sulteng.

Proses pengiriman logistik dijadwalkan pada 4 – 5 Oktober 2018, sementara pengapalan logistik melalui KRI-Makassar via Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, sudah dilakukan pada Minggu (30/9/2018) malam. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...