Sampah Masih Berserakan di Jalanan Kota Maumere

Editor: Mahadeva WS

150

MAUMERE – Kebiasaan warga kota Maumere membuang sampah tidak pada tempatnya, belum mengalami perubahan yang signifikan. Faktanya, hampir semua kali mati yang ada di Kota Maumere, pasti dipenuhi sampah.

“Saat peringatan World Clean Up Day, kami menggelar aksi selama dua hari di kota Maumere, dan ternyata sampah yang kami pungut sangat banyak, hampir 300 karung sampah ukuran 25 kilogram penuh,” sebut Wenefrida Efodia Susilowati, Direktur Bank Sampah Flores, Rabu (3/10/2018).

Bank Sampah Flores selalu menginisiasi warga Kota Maumere dan para pelajarnya, untuk bersama membersihkan sampah di sepanjang jalan, di dekat lokasi sekolah dan perkantoran. Pada World Celan Up Day, hari pertama aksi bersih-bersih digelar di Kecamatan Kewapate, Kota Maumere. Kegiatannya melibatkan pelajar dan warga masyarakat yang jumlahnya mencapai 600 orang. Aksi dimulai pukul 06.00 WITA hingga pukul 09.00 WITA. Aksi dilanjutkan ke SMAK Frateran Maumere dan diikuti 800 siswa.

Di hari kedua, aksi bersih-bersih berlangsung di jalan El Tari, pusat Kota Maumere, dengan melibatkan pelajar dua sekolah. Dari SMPK Frateran Maumere sebanyak 1.152  siswa dan SMAK John Paul II Maumere berjumlah 700 orang. “Kami targetkan diikuti 5 ribu orang, tapi ternyata hanya 3.252 orang saja. Tapi minimal dengan aksi ini, bisa menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan,” sebut Susi.

Dalam aksi tersebut, sebelum masa bergerak, Susi menjelaskan soal sampah. Dimulai pengenalan jenis-jenis sampah, dampak sampah bagi lingkungan, serta bagaimana cara mengatasi sampah dengan mengajukan pertanyaan menggunakan rumus 5W dan 1H. “Apa itu sampah, kenapa harus membuang sampah pada tempatnya, siapa yang harus melakukannya, kapan harus dilakukan, dimana sampah harus dibuang dan bagaimana cara mengolah sampah yang ada?” tanya Susi.

Pendiri Bank Sampah Flores tersebut juga menjelaskan konsep 4 R atau Replace atau mengganti, Reuse atau menggunakan kembali, Reduce yang artinya mengurangi, dan Reycle yang berarti mendaur ulang sampah. “Setiap acara aksi bersih-bersih kami mulai dengan melakukan sosialisasi dan edukasi terlebih dahulu.Ini penting untuk menumbuhkan pemahaman dan kepedualian,” jelas wanita yang dijuluki Ratu Sampah Flores tersebut.

Bupati Sikka, Roberto Diogo Idong, yang hadir bersama sang isteri, mengaku senang diangkat menjadi bapak peduli lingkungan. Dalam kegiatan tersebut anak-anak sekolah diangkat menjadi anak angkat. “Saya sadar, hari ini saat ikut kegiatan dan bertekad agar ke depan akan fokus menjaga kewibawaan dan kehormatan segenap warga kabupaten Sikka melalui kebersihan,” ungkap Robi yang baru menjabat seminggu sebagai Bupati Sikka.

Robi menyebut, Sikka akan menggunakan plastik secara hati-hati. Pemerintah akan membuat kebijakan mengurangi pemakaian plastik. “Dengan mengurangi plastik, kita akan menyelamatkan dunia. Sampah plastik jangan tercecer agar tidak mencemari lingkungan di sekitar kita,” ungkap bupati berusia 45 tahun tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...