Santri di Jember Diminta Tidak Nikah Muda

Editor: Mahadeva WS

163

JEMBER – Pernikahan dini, masih menjadi persoalan yang muncul di tengah generasi milenia. Disamping secara psikologis menuntut persiapan mental, risiko dari pernikahan dini adalah, anatomi tubuh yang masih rentan, terutama kualitas kesehatan ibu dan bayi jika mengalami kehamilan.

Hal tersebutlah yang mendorong, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Timur, bersama Komisi IX DPR RI, menggelar sosialisasi pencegahan pernikahan usia dini. Kegiatan digelar untuk kalangan pelajar tersebut, salah satu sasarannya adalah santri pondok pesantren As Syafiiyah, di Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember.

Kepala BKKBN Jawa Timur, Yenrizal Makmur menyebut, idealnya para remaja, terutama perempuan, sebaiknya menikah pada rentang usia produktif melahirkan. Yaitu, antara 21 tahun hingga maksimal 35 tahun. Sementara laki-laki minimal berusia 25 tahun. “Ini bertujuan, agar kualitas kesehatan bayi serta keselamatan sang ibu ketika melahirkan dapat terjamin,” kata Yanrizal, Jumat (5/10/2018).

Para santri pondok pesantren As Syafiiyah di Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember antusias mengikuti sosialisasi pengendalian penduduk, Jumat (5/10/2018). Foto: Kusbandono.

Perempuan yang menikah sebelum 21 tahun, masih dikategorikan sebagai anak-anak. Sehingga masih rentan, karena pengaruh kondisi anatomi tubuh belum mendukung untuk hamil dan melahirkan. Secara mental juga tergolong masih labil untuk menghadapi persoalan rumah tangga.

Anggota Komisi IX DPR RI, Ayub Khan menuturkan, fenomena pernikahan dini di Indonesia masih marak terjadi. Untuk itu, BKKBN harus terus menyosialisasikan upaya pencegahan pernikahan usia dini. “Nikah muda sangat rentan, terutama bagi kaum perempuan. Selain rentan terkena penyakit, juga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Dan akhirnya bisa cerai muda,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...