Santri di NTB Diminta tak Takut Bermimpi Sekolah ke Luar Negeri

Editor: Koko Triarko

184
LOMBOK BARAT – Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Zulkiflimansyah, meminta kepada anak-anak NTB untuk tidak takut bermimpi bisa mengenyam pendidikan tinggi sampai luar negeri.
Hal tersebut disampaikan Zul, saat menghadiri haul ke-21 Ponpes Abhariyah Dusun Jerneng, Desa Terong Tawah Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Sabtu (6/10/2018).
“Sekarang ini, menempuh pendidikan di luar negeri bukan sesuatu yang sulit, banyak beasiswa tersedia, tanpa harus memikirkan biaya,” kata Zul.
Karena itu, ia meminta kepada semua anak NTB, termasuk anak-anak pesantren bisa mendapatkan peluang yang ada, mendapatkan beasiswa bisa melanjutkan studi, baik dalam maupun luar negeri.
Menurutnya, warisan yang paling berharga yang dapat ditinggalkan kepada anak-anak bukanlah rumah yang besar, tanah yang luas dan harta yang banyak. Tapi, warisan yang terpenting yang ditinggalkan orang tua adalah pendidikan yang baik kepada anak.
Di hadapan ribuan jemaah thariqat dan santri pondok pesantren yang hadir, Zul menyampaikan, bahwa  pembangunan yang benar dan dapat mengangkat harkat dan martabat manusia adalah dengan Up Grade Human Capacity.
“Tidak ada gunanya banyak hotel dan gedung bertingkat  di NTB, kalau masyarakat kita menjadi penonton, tetapi hakikat pembangunan yang baik dan benar adalah masyarakat kita juga ikut menjadi pelaku pembangunan. Untuk itu pendidikan menjadi kata kunci”, ujarnya.
Guna mencapai hal tersebut, Pemprov NTB juga menyediakan beasiswa bagi anak-anak NTB untuk menempuh studi ke luar negeri, dengan mengirim 1.000 anak NTB ke luar negeri setiap tahunnya.
Beberapa hari lalu telah dilakukan pelepasan 20 anak SMK di Sumbawa untuk belajar teknik di Cina, dan selanjutnya tanggal 13 Oktober akan dilepas 20 anak NTB lulusan S1 untuk melanjutkan studi S2 ke Polandia.
Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Halid mengatakan, di mana pun bersekolah, luar maupun luar negeri Inggris, Australia maupun Amerika, dan tidak hanya terpaku dengan hasil  mendapatkan gelar sarjana saja,  tetapi bagaimana menerapkan ilmu yang didapatkan demi kesejahteraan masyarakat.
“Paling penting, bagaimana ilmu didapatkan sepulang menempuh pendidikan bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Baca Juga
Lihat juga...